Ramadhan Melahirkan Kesalehan Individu Menuju Kesalehan Sosial dan Alam
Junaidi
Penulis
(Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam/LPLH SDA MUI)
Setelah kita menempuh puasa selama sebulan penuh dalam bulan Ramadhan, pada hari raya Idul Fitri manusia diharapkan kembali pada sifat-sifat aslinya ketika ia diciptakan pertama kali.
Suatu sifat yang diharapkan membawa keberkahan dan perbaikan bagi individu. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita juga sebagai umat dan bangsa, setelah Ramadhan, sudah terlihat perbaikan dengan meningkatnya “kesalehan sosial” dan bahkan “kesalehan alam” kita.
Kesalehan individu kadang disebut juga dengan kesalehan ritual, kenapa? Karena lebih menekankan dan mementingkan pelaksanaan ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat, haji, zikir, dsb. Disebut kesalehan individu karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri. Kesalehan jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba formal, yang hanya hanya mementingkan hablum minallah, tidak disertai hablum minannas dan hablum minal ‘alam.
Sedangkan “Kesalehan Sosial dan alam” merujuk pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai islami, yang bersifat sosial dan peduli lingkungan. Bersikap santun pada orang lain, sangat perhatian terhadap pemecahan masalah-masalah umat manusia dan alamnya, memperhatikan dan menghargai hak sesama makhluk hidup sebagai ciptaan Allah, dan seterusnya.
Kesalehan sosial dan alam dengan demikian adalah suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, puasa, haji melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk seluruh makhluk hidup di bumi.
Kesalehan sosial dan alam menjadi sangat penting karena di sinilah sesungguhnya letak urgensi puasa. Sesungguhnya kerusakan yang terjadi dalam hidup manusia disebabkan oleh kegagalan manusia itu sendiri dalam mengendalikan hawa nafsunya.