Khutbah Jumat: Bahaya tak Bijak Bermedia Sosial Bagi Integrasi Bangsa
Admin
Penulis
Oleh: Ustadz Dr Canra KJ Lubis MA, Sekretaris Komisi Dakwah MUI
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُ وَ وَالاَهُ وَ سَلِّم تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
أما بعد
أيها الناس، أوصيكم ونفسي المقصره بتقوى الله، فتقوى الله فوز لنا في الدنيا وفي الآخرة، يقول تعالى في كتابه الكريم
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا"
Dengan diiringi oleh rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Subhanahu wata’ala saya ingin menyampaikan wasiat taqwa kepada saudara -saudara sekalian dalam arti dan dengan cara imtitsalul awamir wajtinabun nawahi. Mari kita berusaha untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya, dengan demikian insya Allah kita akan tergolong sebagai orang yang taqwa kepada Allah SWT.
Hadirin yang dirahmati oleh Allah…
Saat ini kita hidup di era digital, di mana informasi bisa tersebar begitu cepat. Salah satu sarana utama yang digunakan untuk menyebarkan informasi adalah media sosial. Platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, dan TikTok telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun, meskipun media sosial memiliki banyak manfaat, kita tidak bisa mengabaikan bahaya yang dapat ditimbulkan jika tidak digunakan dengan bijak.
Salah satu bahaya utama yang sering muncul dari penggunaan media sosial adalah penyebaran berita hoaks. Berita palsu ini dapat memicu kebencian antar kelompok, menambah perpecahan, bahkan menyebabkan konflik sosial yang lebih besar. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Ayat ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menerima informasi, terutama yang datang dari sumber yang tidak jelas. Media sosial sering kali menjadi sarana penyebaran informasi yang belum terbukti kebenarannya, yang dapat merusak keharmonisan.
Media sosial juga dapat memperburuk polarisasi di masyarakat. Terkadang, kita terjebak dalam ruang gema (echo chamber), di mana hanya pandangan-pandangan yang sejalan dengan kita yang terdengar, sementara pandangan yang berbeda dibungkam atau dipersepsikan sebagai ancaman. Hal ini bisa memperburuk ketegangan antar kelompok dan merusak persatuan bangsa. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Hujurat: 11)
Hadirin sidang Jumat yang dikasihi Allah SWT...
Kita harus menghargai perbedaan dan tidak membiarkan media sosial menjadi tempat untuk saling menghina dan merendahkan orang lain.
Selain itu, di dunia maya seringkali muncul ujaran kebencian dan fitnah yang menyasar individu atau kelompok tertentu. Bahkan, ada yang memanfaatkan media sosial untuk merusak reputasi orang lain, baik dengan kata-kata yang menyakitkan maupun dengan menyebarkan informasi yang tidak benar.
Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang mengutamakan persatuan dan kasih sayang antar sesama. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik RA, pembantu Rasulullah SAW, dari Nabi bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)
Saudaraku sekalian sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT…
Meskipun media sosial bisa memberikan dampak negatif, kita sebagai umat Islam harus mampu memanfaatkan teknologi ini dengan bijak. Berikut ini beberapa panduan dari ajaran Islam yang dapat kita terapkan dalam bermedia sosial untuk mempererat persaudaraan dan persatuan bangsa:
Pertama, menyebarkan Informasi yang Bermanfaat
Islam mengajarkan kita untuk menyebarkan kebaikan. Dalam media sosial, kita dapat berbagi informasi yang bermanfaat, seperti berita positif, ilmu pengetahuan, serta nilai-nilai kebaikan yang dapat mempererat hubungan antar sesama. Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار
Dari Abdullah ibn Amr, Bahwa Nabi SAW bersabda, “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka.” (HR Bukhari).
Dengan berbagi informasi yang bermanfaat, kita bisa menjadi sumber kebaikan bagi orang lain.
Kedua, menghindari fitnah dan ujaran kebencian
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahapenerima Taubat lagi Mahapenyayang.” (QS Al-Hujurat: 12).
Kita harus berhati-hati dalam berbicara dan menulis di media sosial. Hindari menyebarkan ujaran kebencian, fitnah, atau komentar negatif yang bisa menyinggung perasaan orang lain. Sebaliknya, marilah kita berusaha untuk saling menghormati, mendukung, dan memperbaiki satu sama lain dalam semangat persaudaraan.
Ketiga, menghargai perbedaan pendapat
Dalam media sosial, kita sering kali menemui berbagai pendapat yang berbeda. Islam mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran agama. Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ ررَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .
Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.” (HR Ibnu Majah, Dawud)
Kita harus mampu berdiskusi dengan cara yang baik dan santun, serta menerima perbedaan pendapat dengan lapang dada.
Keempat, menjaga Etika dan Adab dalam Berbicara
Media sosial adalah ruang publik yang dapat diakses oleh banyak orang. Oleh karena itu, kita harus menjaga adab dan etika dalam berbicara. Hindari kata-kata yang kasar, menghina, atau merendahkan orang lain. Dalam Islam, kita diajarkan untuk berbicara dengan sopan dan penuh kasih sayang. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 70:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzab: 70).
Kelima, menggunakan media sosial untuk menyatukan, bukan memperselisihkan
Sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT...
Terakhir, mari kita jadikan media sosial sebagai sarana untuk mempererat persaudaraan dan persatuan bangsa. Gunakan platform ini untuk menyebarkan semangat kebersamaan, gotong-royong, dan saling membantu. Dengan berkolaborasi, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih harmonis.
Saudaraku, marilah kita bersama-sama menjaga media sosial agar tidak menjadi alat yang memecah belah, melainkan alat yang mempererat tali persaudaraan dan memperkuat persatuan bangsa. Semoga kita bisa menggunakan teknologi dengan bijak, sesuai dengan ajaran agama kita yang mulia.
Mari kita doakan agar Allah SWT memberikan kita hidayah untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan umat ini. Semoga kita semua menjadi umat yang saling mencintai, menghormati, dan memuliakan satu sama lain. Aamiin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ