Jangan Lupakan Sejarah, Catatan Penting Kiai Cholil dalam Peluncuran Buku Sejarah Peradaban Islam
Jakarta, MUI Digital—Sejarah sering kali dipandang sebagai cerita tentang masa lalu. Nama-nama tokoh, peristiwa, pergulatan, kejayaan, hingga keruntuhan bangsa-bangsa dicatat dalam buku dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, bagi umat Islam, sejarah semestinya tidak berhenti sebagai kenangan. Sejarah adalah cermin untuk membaca perjalanan umat dan pijakan untuk menentukan arah masa depan.
Pesan itulah yang disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, saat membuka peluncuran dan bedah buku Sejarah Peradaban Islam karya Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2026) lalu.
Kiai Cholil mengingatkan kembali prinsip Jasmerah—“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Menurutnya, sebuah bangsa tidak akan mudah memahami masa depannya apabila kehilangan kemampuan untuk membaca masa lalunya.
“Sejarah itu bukan hanya sekadar rekaman, bukan hanya sekadar catatan, melainkan menjadi pijakan untuk kita membangun peradaban-peradaban kemanusiaan di masa yang akan datang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengandung pesan penting bagi umat Islam. Membaca sejarah bukan berarti hidup dalam romantisme masa lalu atau terus-menerus membanggakan kejayaan yang pernah dicapai.
Justru sebaliknya, sejarah mengajak umat untuk bertanya: mengapa sebuah peradaban bisa tumbuh, dan mengapa pada saat tertentu ia mengalami kemunduran?
Dari sana, sejarah menjadi ruang untuk belajar.
Cermin
Kiai Cholil menilai hampir tidak ada negara maju yang dapat membangun peradabannya tanpa berpijak pada sejarah kemajuan umat manusia. Pengalaman masa lalu menjadi bahan untuk menentukan kebijakan, memperbaiki kesalahan, sekaligus mempertahankan nilai-nilai yang terbukti membawa kemajuan.
Baca juga: Luncurkan Buku Sejarah Peradaban Islam, Sekjen MUI Ingin Sejarah Islam Tak Cuma Jadi Pajangan
Bagi para pemimpin dan organisasi kemasyarakatan Islam, sejarah bahkan memiliki fungsi yang lebih strategis. Sejarah dapat menjadi ruang refleksi sebelum mengambil keputusan.
“Kita butuh referensi, kita butuh sejarah yang pernah diputuskan pada masa lalu dan itu kebaikan. Nah, itu yang menjadi pijakan kita, bahkan itu menjadi cermin di dalam kita bergerak dan bertindak,” kata Kiai Cholil.
Dengan membaca sejarah, umat tidak perlu selalu memulai dari titik nol. Kesalahan yang pernah dilakukan generasi sebelumnya dapat menjadi pelajaran. Keberhasilan yang pernah dicapai dapat menjadi inspirasi. Sementara berbagai persoalan yang pernah dihadapi umat dapat membantu generasi hari ini menemukan cara yang lebih bijaksana dalam menghadapinya.
Karena itu, sejarah bukan sekadar urusan masa lalu. Ia berbicara tentang masa kini dan masa depan.
Tantangan membaca sejarah menjadi semakin besar di era digital. Arus informasi bergerak begitu cepat. Masyarakat setiap hari dibanjiri berbagai konten media sosial yang pendek, padat, dan sering kali hanya menawarkan kesimpulan tanpa memberikan ruang yang cukup untuk memahami konteks.
Baca juga: Waketum MUI Kiai Cholil Nafis Ingatkan Umat tak Terlena Medsos dan Tetap Membaca Buku
Kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dapat membuat seseorang mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu memahami sesuatu secara mendalam.
Di sinilah tradisi membaca buku dan menulis menjadi penting. Kiai Cholil mengingatkan umat pada wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW: Iqra', bacalah.
Pesan membaca itu tidak semestinya dipahami hanya sebagai aktivitas mengenali rangkaian kata. Membaca juga berarti memahami, merenungkan, membandingkan, dan mengambil pelajaran.
Rasulullah SAW membangun generasi awal Islam dengan tradisi ilmu. Para sahabat belajar, menghafal, mencatat, dan mengajarkan kembali ilmu yang mereka peroleh.
Ahlus Suffah menjadi salah satu gambaran bagaimana tradisi pembelajaran mendapat tempat penting dalam masyarakat Muslim generasi awal.
“Bagi kita yang tidak menerima wahyu, tentu dengan membaca dan menulis. Dan membaca-menulis itu menjadi kerangka ke depan untuk membangun bangsa yang lebih baik,” jelas Kiai Cholil.
Membaca sejarah juga mengajarkan bahwa ilmu akan terus hidup ketika ditulis dan diwariskan.
Kiai Cholil sendiri membagikan pengalamannya dalam mendokumentasikan pemikiran, antara lain melalui penerbitan kumpulan artikel berbahasa Arab. Ia juga memiliki keinginan menulis karya tentang ekonomi syariah dan metode dakwah.
Baginya, menulis bukan sekadar menghasilkan buku. Menulis adalah ikhtiar meninggalkan warisan pengetahuan bagi generasi yang mungkin belum pernah kita jumpai.
Dalam perspektif Islam, ilmu yang terus memberikan manfaat memiliki nilai amal jariah. Karena itu, tradisi membaca dan menulis bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga bagian dari upaya menyiapkan kebaikan bagi generasi setelah kita.
Teknologi sebenarnya dapat membantu memperkuat tradisi tersebut. Buku elektronik, jurnal, dan berbagai sumber pengetahuan kini dapat diakses dengan mudah. Namun, kemudahan itu perlu diimbangi dengan kemampuan memilih bacaan yang bermutu.
Media sosial boleh digunakan, tetapi jangan sampai menggantikan buku. Informasi boleh dikonsumsi dengan cepat, tetapi pemahaman membutuhkan waktu, kesabaran, dan kedalaman.
Pada akhirnya, membaca sejarah adalah bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif umat. Umat yang kehilangan sejarah akan mudah kehilangan konteks. Bahkan, ia berisiko mengulangi kesalahan yang sama karena tidak mengenali jejak perjalanan yang telah dilalui generasi sebelumnya.
Sebaliknya, umat yang akrab dengan sejarah akan memiliki cermin untuk melihat dirinya sendiri. Ia dapat belajar dari masa kejayaan tanpa terjebak dalam kebanggaan, sekaligus belajar dari masa kemunduran tanpa tenggelam dalam penyesalan.
Karena itu, ajakan Kiai Cholil untuk membaca sejarah sesungguhnya merupakan ajakan untuk membangun masa depan. Sejarah membantu umat mengenali siapa dirinya, dari mana ia berasal, apa yang pernah dicapai, kesalahan apa yang harus dihindari, dan nilai apa yang perlu terus diwariskan.
Dalam konteks itulah buku Sejarah Peradaban Islam karya Buya Amirsyah Tambunan menjadi relevan. Buku tersebut tidak hanya layak dibaca sebagai catatan perjalanan umat Islam, tetapi juga sebagai bahan renungan bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana sebuah peradaban dibangun dan bagaimana ia dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.