Infokom MUI Harus Jadi Pelopor Dakwah Digital yang Empatik dan Relevan bagi Anak Muda
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID — Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Masduki Baidlowi menegaskan pentingnya peran lembaga komunikasi dan media di lingkungan MUI dalam merespons perubahan besar dunia digital yang kini semakin pesat.
Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Masduki dalam acara Pengembangan SDM dan Tata Kelola Media MUI yang dihadiri jajaran pengelola TV MUI, Website MUI, dan Media Sosial MUI, bertempat di Kantor MUI Pusat, Ahad (12/10/2025).
Dalam arahannya, Kiai Masduki menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mengembangkan berbagai platform media MUI.
“Saya sangat mengapresiasi pengabdian seluruh tim, baik di TV MUI, website, maupun media sosial. Laporan tiga tim tadi sangat menggembirakan. Tinggal kita rumuskan bersama mana yang masuk ke jangka pendek, menengah, dan panjang,” ujarnya.
Beliau berharap hasil pertemuan ini dapat menjadi panduan strategis bagi pengembangan media MUI ke depan.
“Mudah-mudahan ini menjadi semacam guideline atau cita-cita bersama yang akan kita capai ke depan. Pertemuan ini semoga menjadi pertemuan yang berkah dan menjadi amal saleh bagi kita semua,” tuturnya.
Lebih lanjut, Kiai Masduki menyoroti perubahan besar yang terjadi di dunia komunikasi dan media. Menurutnya, peradaban Islam sejak awal dibangun melalui teks Al-Qur’an, hadis, fikih, dan fatwa namun kini telah bergeser ke dunia visual.
“Kita harus jujur, dunia Islam termasuk yang paling gagap dalam merespons perubahan ini. Banyak media Islam masih tertinggal dan bersifat responsif, belum proaktif,” kata Kiai Masduki.
Ia menilai generasi muda atau digital native memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi. Karena itu, MUI harus mampu menangkap minat dan kecenderungan anak muda dalam berdakwah di ruang digital tanpa meninggalkan karakter khas MUI.
“Isu perubahan ini harus ditangkap oleh Infokom MUI, TV MUI, website MUI, dan media sosial MUI. Kita harus mencari apa yang mereka sukai, apa hobinya, tanpa menghilangkan nilai-nilai keulamaan yang menjadi ciri MUI,” tegasnya.
Kiai Masduki juga menyoroti pentingnya penyajian pesan keislaman, termasuk fatwa, agar lebih komunikatif dan mudah diakses publik.
“Fatwa MUI perlu dikemas ulang agar bisa menjangkau anak muda. Jika fatwa panjang disampaikan dalam video berdurasi 30–40 menit, maka perlu juga dibuat potongan pendek berdurasi 60 detik agar menarik dan mudah disebarluaskan,” jelasnya.
Dalam konteks itu, ia mengingatkan agar media MUI mampu membangun digital empathy, yakni menghadirkan wajah dakwah yang ramah terhadap keragaman dan perbedaan pandangan.
“Media MUI ke depan harus menjadi media yang ramah terhadap keragaman, tidak berangasan, dan tidak ekstrem. Itulah yang saya sebut digital empathy, cita-cita kita bersama,” ungkapnya.
Di akhir arahannya, Kiai Masduki menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim Infokom MUI dan berharap hasil perumusan ini menjadi langkah penting dalam penguatan tata kelola media MUI ke depan.
(Fitri Aulia Lestari ed: Muhammad Fakhruddin)