Lewati ke konten utama
Sabtu, 11 Juli 2026 / 25 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Buya Anwar Abbas: Tanpa Penguasaan Teknologi, Indonesia Sulit Menjadi Kekuatan Dunia

3 menit baca 42 dibaca
Anwar
Waketum MUI, Buya Anwar Abbas. Foto: Miftah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital – Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menjadi tantangan besar yang harus segera dijawab Indonesia jika ingin keluar dari jebakan negara berkembang dan tampil sebagai kekuatan dunia.

Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kemampuan menguasai teknologi dinilai menjadi kunci untuk memperkuat ekonomi sekaligus meningkatkan posisi tawar politik suatu bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Dr Anwar Abbas, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Seminar Internasional, Forum Group Discussion (FGD), dan Kaderisasi Ulama yang diselenggarakan Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) MUI di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Dalam pandangannya, Indonesia sesungguhnya memiliki sejumlah modal sosial yang kuat, seperti solidaritas masyarakat, kehidupan keagamaan yang dinamis, serta kekayaan seni dan budaya.

Namun, keunggulan tersebut belum cukup untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara yang berpengaruh apabila tidak diiringi kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Kalau seandainya kita tidak bisa menguasai teknologi, maka kita tidak akan bisa menguasai ekonomi. Dan kalau seandainya kita tidak bisa menguasai teknologi dan ekonomi, maka kita tidak akan bisa menguasai pentas politik," tegas Buya Anwar Abbas.

Baca juga: Rakernas KPK MUI Soroti Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital

Menurutnya, hubungan antara teknologi, ekonomi, dan politik tidak dapat dipisahkan. Negara yang unggul dalam teknologi akan memiliki daya saing ekonomi yang kuat, sementara kekuatan ekonomi akan menentukan pengaruh suatu bangsa dalam percaturan politik global.

Karena itu, Buya Anwar menilai arah pembangunan pendidikan nasional perlu difokuskan pada upaya membentuk generasi yang mampu berinovasi, berpikir rasional, dan menguasai teknologi.

Ia mengingatkan bahwa lembaga pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan dasar, tetapi juga harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang siap bersaing dalam era perubahan yang sangat cepat.

Isu tersebut, menurutnya, menjadi salah satu tantangan penting yang harus dijawab dunia pendidikan Indonesia menjelang satu abad kemerdekaan Republik Indonesia.

Baca juga: Belajar dari Kasus UI, Dewan Minta Perketat Pencegahan Kampanye LBGT di Sekolah

Ia berharap forum Rakernas KPK MUI tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk merumuskan berbagai rekomendasi yang dapat mendorong transformasi pendidikan nasional agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

"Melalui Rakernas ini, kita harus mendorong budaya progresif dan dunia pendidikan agar mampu melahirkan generasi yang maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, kuat ekonominya, serta memiliki peran politik yang besar," ujarnya.

Buya Anwar menekankan pentingnya membangun budaya progresif di lingkungan pendidikan. Menurutnya, budaya tersebut harus mendorong tumbuhnya kreativitas, inovasi, dan keberanian melakukan terobosan sehingga Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu menjadi produsen dan pengembang teknologi.

Ia berharap hasil pembahasan dalam Rakernas, Seminar Internasional, FGD, dan Kaderisasi Ulama yang digelar KPK MUI dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan sistem pendidikan nasional.

Lebih jauh, rekomendasi yang dihasilkan diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dan berpengaruh di dunia pada momentum 100 tahun kemerdekaan.

Bagi Buya Anwar Abbas, jalan menuju Indonesia yang kuat tidak cukup ditempuh melalui kekayaan sumber daya alam semata. Kunci utamanya terletak pada kemampuan bangsa dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memperkuat ekonomi, serta membangun pengaruh yang lebih besar di tingkat global.