Bakti 24 Jam Petugas Halte Bus Salawat Layani Jamaah Haji
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan MUI Digital, langsung dari Makkah, Arab Saudi
Makkah, MUI Digital — “Kami disebar ke halte-halte. Sekarang kerja 12 jam per hari. Kalau saya dapat jadwal dari pukul 08.00 pagi sampai 20.00 malam,” kata salah satu petugas halte, Ahmad Hajri, bertugas di halte nomor 3 sektor 4 wilayah Syisyah–Raudhah.
Layanan bus shalawat menjadi salah satu fasilitas
penting bagi jamaah haji Indonesia selama berada di Kota Makkah. Bus yang
beroperasi selama 24 jam ini melayani perjalanan jamaah dari hotel menuju
Masjidil Haram dan sebaliknya.
Setiap bus ditempel stiker nomor sesuai rute yang dilayani. Misalnya, bus nomor 5 melayani sejumlah hotel di Sektor 1 wilayah Syisyah.
Secara keseluruhan, layanan transportasi yang dikelola Petugas Penyelenggara
Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi ini terbagi dalam 23 rute yang tersebar di 10
sektor di lima wilayah Makkah, yakni Syisyah, Raudhah, Misfalah, Jarwal, dan
Aziziyah.
Di setiap rute terdapat halte pemberhentian yang dijaga petugas transportasi selama 24 jam secara bergantian. Para petugas bekerja dalam dua sif dengan durasi masing-masing 12 jam untuk memastikan pelayanan kepada jamaah berjalan lancar.
Hajri yang merupakan mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir
itu mengatakan, petugas halte memiliki peran penting karena tidak semua jamaah
memahami sistem rute bus shalawat.
Menurutnya, banyak jamaah yang masih kesulitan
berkomunikasi, termasuk saat hendak menghentikan bus atau menentukan halte
tujuan.
“Jadi banyak jamaah yang tidak bisa komunikasi, bahkan sebatas untuk men-stop busnya juga enggak bisa,” ujarnya saat ditemui Media Center Haji (MCH), beberapa waktu lalu.
Karena itu, keberadaan petugas halte dinilai sangat membantu jamaah, terutama lansia dan mereka yang baru pertama kali berhaji. Selain membantu komunikasi, petugas juga memastikan jamaah naik dan turun di halte yang tepat.
Hajri menjelaskan, halte yang dijaganya melayani empat hotel
dengan mayoritas jamaah asal Jawa Timur. Jika tidak diarahkan, jamaah bisa saja
terbawa ke halte berikutnya yang melayani rombongan dari daerah lain.
“Kalau telat untuk turun, mereka bisa terbawa ke rombongan
halte empat, itu saudara-saudara kita dari Lombok. Jadi itu salah satu kenapa
harus ada penjaga di sini,” kata pemuda asal Jambi tersebut.
Ia menambahkan, salah satu tugas utama petugas halte adalah
menghentikan bus yang datang dari Masjidil Haram agar jamaah dapat turun sesuai
titik tujuan masing-masing.