Apresiasi Ensiklopedia Budaya Islam Indonesia, Akademisi Unpad: Karya yang Ultimate
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID— Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) meluncurkan Ensiklopedia Budaya Islam Indonesia pada Ahad, 28 September 2025, di Jakarta Convention Centre (JCC) Senayan. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025.
Ensiklopedia tujuh jilid yang diterbitkan oleh Terra Pustaka ini digadang-gadang sebagai rujukan ilmiah dan simbol penting bagi upaya merawat jejak budaya Islam di Indonesia.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, M Irfan Hidayatullah, ensiklopedia ini lebih dari sekadar buku.
“Ini monumen simbolik untuk menghubungkan pengetahuan budaya Islam dengan masyarakat seluas-luasnya,” ujarnya.
Irfan menilai, karya ini bukan hanya kompilasi pengetahuan, melainkan juga bagian dari upaya mengoreksi bias dalam sejarah modern. Selama ini, menurutnya, kontribusi Islam dalam membentuk kebudayaan Nusantara sering dipinggirkan.
“Sejarah kerap disusun oleh pihak berkuasa. Islam biasanya ditempatkan di nomor sekian, bahkan ada penyimpangan by design. Ensiklopedia ini hadir untuk mendemistifikasi pengetahuan modern yang menjauhkan dari nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Ensiklopedia ini mencakup beragam tema mulai dari sejarah, kesenian, arsitektur, sastra, hingga praktik budaya masyarakat Muslim di berbagai daerah. Disusun oleh tim penulis lintas kampus, peneliti, dan budayawan, karya ini diklaim berbasis riset komprehensif dan melalui proses kurasi akademik.
“Buku ini ultimate, di atas buku lain karena berbasis penelitian dari banyak pihak. Nilai ilmiah dan pengetahuan di dalamnya terjaga dengan baik,” lanjut Irfan.
Irfan menambahkan, manfaat ensiklopedia tidak terbatas pada ruang akademik. Penulis novel, sineas, atau kreator konten budaya dapat menggunakannya sebagai sumber inspirasi yang akurat.
Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana karya besar seperti ensiklopedia dapat menjangkau generasi muda. Peluncuran di IIBF yang ramai dihadiri mahasiswa dan Gen Z menunjukkan adanya peluang.
“Gen Z perlu dirangkul dengan menambah lema-lema baru yang relevan dengan budaya modern. Musik indie, band populer, atau film yang memuat nilai Islami bisa menjadi pintu masuk,” jelas Irfan.
Menurutnya, banyak karya seni populer yang beresonansi dengan nilai-nilai Islam tanpa harus dilabeli sebagai produk “religi”. Penambahan lema semacam ini akan membuat ensiklopedia terasa lebih relatable bagi generasi digital.
Di tengah dominasi gawai, kehadiran ensiklopedia fisik yang tebal juga membawa pesan tersendiri. “Ini bagian dari digital minimalism, pengingat bahwa pengetahuan perlu digenggam, bukan sekadar digulir di layar,” kata Irfan.
Ensiklopedia tujuh jilid dengan bobot fisik dan intelektual ini menjadi simbol bahwa tradisi membaca buku tetap relevan sebagai fondasi budaya literasi. (Latifahtul Jannah, ed: Nashih)