Titik Damai Antara Ilmu Agama dan Ilmu Sains
Oleh: Dr Andy Hadiyanto, Sekretaris KHLNKI MUI sekaligus Ketum Asosiasi Dosen Pendidikan Islam Indonesia
JAKARTA, MUI.OR.ID— Istilah ulama sangat sering digunakan dalam masyarakat Muslim. Biasanya yang dimaksud adalah ustaz dan guru agama yang mampu membaca kitab-kitab warisan keagamaan klasik, menguasai bahasa Arab, dan sering memimpin doa dalam acara keagamaan.
Citra ini terbentuk dari peran historis lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional yang selama berabad-abad menjadi pusat pengajaran syariah, tafsir, dan fikih. Seiring waktu, makna “ulama” pun menyempit, seakan hanya berkaitan dengan bidang keagamaan. Padahal, pemahaman yang sempit ini melupakan hakikat bahwa Alquran menempatkan ilmu sebagai jalan untuk memahami alam semesta dan kehidupan—bukan sekadar alat untuk menghafal teks.
Perjalanan pengetahuan manusia dalam Alquran dimulai dengan satu kata penting: Iqra’ — “bacalah” (QS. al-‘Alaq [96]:1–5). Perintah ini bukan hanya ajakan untuk membaca teks, melainkan seruan untuk menemukan makna dan merenungkan tanda-tanda Tuhan yang ada di alam semesta.
Dalam pandangan Alquran, iman tidak bertentangan dengan pemikiran rasional—keduanya justru saling menguatkan. Karena itu, banyak ayat mengajak manusia berpikir dan merenung: Apakah mereka tidak merenungkan Alquran? (QS. Muhammad [47]:24), dan mereka berpikir tentang penciptaan langit dan bumi (QS Ali ‘Imran [3]:191), serta maka tidakkah mereka memperhatikan bagaimana unta diciptakan? (QS al-Ghasyiyah [88]:17).
Semua ayat ini menegaskan bahwa berpikir dan meneliti adalah bagian dari ibadah. Dengan demikian, ulama dalam makna Qurani adalah mereka yang membaca teks sekaligus kehidupan—mereka yang menemukan jejak Tuhan dalam hukum-hukum alam sebagaimana dalam ayat-ayat mushaf.
Untuk memahami epistemologi pemikiran Islam, pemikir Maroko Muhammad Abid al-Jabiri (1986) menjelaskan bahwa tradisi keilmuan Islam dibangun di atas tiga pola epistemologi: bayani (tekstual), burhani (rasional-empiris), dan irfani (spiritual-intuitif).
Pola bayani menekankan penafsiran teks dan tradisi; burhani menekankan logika, rasionalitas, dan bukti ilmiah; sementara irfani menekankan dimensi batin, intuisi, dan kedalaman spiritual. Ketiga pola ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.