Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau “Dialog yang Dirindukan”?
Oleh: Khoirul Anam, S.Sos
Dosen STIQ Ash-Shiddiq/Pengisi Kajian Alquran dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pernahkah kita merasa sudah menjadi hamba yang paling taat hanya karena tidak pernah bolong menunaikan shalat lima waktu? Atau, pernahkah kita merasa bangga dengan target besar untuk “mengubah dunia”, sementara hubungan kita dengan Sang Pencipta dunia masih terasa hambar, kaku, dan terburu-buru?
Sebuah
catatan indah dari situs berbahasa Arab, islamweb.net, mengajak kita untuk
berkaca pada potret ibadah manusia termulia, Rasulullah SAW.
Catatan itu mengulas bagaimana totalitas beliau dalam menghamba kepada Allah, yang menjadi saksi nyata atas kejujuran kenabiannya.
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Mode Jalan Keluar dari Keresahan Hidup
Totalitas
Tanpa Batas
Nabi
Muhammad adalah sosok yang amat rajin beribadah, baik berupa shalat, puasa, dzikir,
doa, maupun berbagai bentuk ibadah yang lainnya. Beliau tidak pernah
meninggalkan shalat malam, bahkan beliau bangun di sebagian malam hingga kedua
telapak kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri.
Suatu
malam, sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkesempatan
shalat bermakmum di belakang Nabi SAW. Pengalaman malam itu menjadi momen yang tidak akan pernah ia lupakan.
Terkait
cerita dalam hadis ini diriwayatkan secara lengkap oleh Imam Muslim sebagai
berikut:
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ
الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ، فَقُلْتُ:
يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ، ثُمَّ مَضَى، فَقُلْتُ: يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ
فَمَضَى، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ بِهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا،
ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا، يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا: إِذَا مَرَّ
بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ
بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ، ثُمَّ رَكَعَ، فَجَعَلَ يَقُولُ: سُبْحَانَ رَبِّيَ
الْعَظِيمِ، فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعَ
اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا
مِمَّا رَكَعَ، ثُمَّ سَجَدَ، فَقَالَ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى، فَكَانَ
سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ
“Aku pernah shalat bersama Nabi SAW pada suatu malam. Beliau memulai dengan membaca surat Al-Baqarah. Aku pun berkata dalam hati (mengira) beliau akan rukuk setelah membaca seratus ayat. Namun ternyata beliau terus melanjutkan. Aku berkata dalam hati, mungkin beliau akan menyelesaikan surat itu dalam satu rakaat. Ternyata beliau tetap melanjutkan. Aku pun kembali mengira, mungkin beliau akan rukuk setelah menyelesaikannya. Tapi setelah selesai, beliau langsung membuka surat An-Nisa’ dan membacanya. Setelah itu, beliau membaca pula surat Ali ‘Imran. Beliau membacanya dengan perlahan-lahan dan penuh penghayatan. Setiap kali melewati ayat yang mengandung tasbih (pujian kepada Allah), beliau berhenti dan bertasbih. Jika melewati ayat tentang permohonan, beliau berhenti dan memohon kepada Allah. Jika beliau melewati ayat tentang perlindungan, beliau berhenti dan memohon perlindungan. Lalu beliau rukuk dan membaca: ‘Subhana rabbiyal-‘adhim’ (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung), dan rukuknya hampir sama lamanya dengan lama berdirinya. Setelah itu beliau mengangkat kepala dan membaca: ‘Sami‘allahu liman hamidah’ (Allah mendengarkan orang yang memuji-Nya), lalu berdiri kembali (i’tidal) dalam waktu yang hampir sama lamanya dengan rukuknya. Setelah itu beliau sujud dan membaca: ‘Subhana rabbiyal-a‘la’ (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi), dan sujudnya pun hampir sama lamanya dengan berdirinya tadi.” (HR Muslim)
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Wasilah Mengukur Rasa Butuh kepada Allah
Tentang
Panjangnya Rukuk dan Sujud
Mari kita
merenung sejenak. Jika lamanya rukuk dan sujud hampir sama dengan durasi
membaca surat Al-Baqarah, An-Nisa’, dan Ali ‘Imran yang dibaca secara tartil,
berapa ratus kali Rasulullah SAW mengulang kalimat tasbih tersebut?
Mungkinkah
hanya tiga kali saja? Kalau hanya tiga kali saja, lalu apa yang dibaca setelah
itu sehingga lama rukuk dan sujudnya hampir setara dengan waktu berdirinya?
Apakah beliau setelah itu hanya diam saja sambil melamun tanpa membaca apa-apa? Tentu saja tidak. Di sinilah letak puncak kekhusyukan. Setiap kalimat kesucian yang diucapkan bukan sekadar basahan bibir, melainkan sebuah dialog spiritual yang mendalam antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Realitas
Kita: Ingin Mengubah Dunia, tetapi Terburu-buru dalam Shalat
Riwayat dalam
hadis di atas adalah cermin besar bagi kita yang hidup di zaman modern. Mari
jujur pada diri sendiri, apa yang terjadi jika ada imam masjid hari ini yang
mencoba mempraktikkan shalat seperti Rasulullah SAW?
Mungkin shaf
jamaah shalat akan langsung bubar di tengah jalan. Baru rakaat pertama dan
dibaca tiga kali tasbih dengan khusyuk, penuh penghayatan saja, makmum di
belakang sudah pada berdeham-deham gelisah. Selesai shalat, teras masjid akan
dipenuhi keluhan dan ngedumel karena imam dianggap tidak tahu kondisi jamaah
shalat. Pikiran kita sudah telanjur dipenuhi urusan duniawi yang belum usai.
Ironisnya,
dengan kualitas hubungan spiritual yang rapuh dan terburu-buru seperti itu,
kita sering kali dengan lantang dan bangga berkata: “Kita akan mengubah dunia!”.
Bagaimana mungkin kita bisa memperbaiki dunia yang luas, jika menenangkan pikiran dan hati di hadapan Pencipta dunia selama beberapa menit saja kita belum mampu?
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Kisah dari
Hudzaifah tersebut bukan sekadar informasi sejarah. Jika direnungkan secara
mendalam, ini adalah teguran halus yang menggugah kepribadian kita, bahwa
perubahan besar tidak pernah lahir dari jiwa-jiwa yang gersang.
Jika kita ingin mengubah dunia, mulailah dengan mengubah cara kita menghadap-Nya. Ubahlah shalat kita dari yang semula hanya terkesan untuk menggugurkan kewajiban, menjadi dialog intim yang khusyuk dan menjadi momentum munajat kepada Allah yang selalu dirindukan.