Millata Ibrahim Hanifa dalam Menghadapi Algoritma Mobokratis
Oleh: Ismail Fahmi PhD, Wakil Ketua Komisi Infokomdigi MUI Bidang Riset dan Digital
Foto: freepik
Sebuah refleksi tauhid di era disinformasi, polarisasi, dan ledakan emosi digital
Jakarta, MUI Digital— Di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat, umat manusia—termasuk umat Islam—tidak hanya dihadapkan pada kemudahan akses informasi, tetapi juga pada tantangan baru dalam menjaga kejernihan iman dan akal sehat.
Salah satu tantangan utama tersebut adalah munculnya apa yang dapat disebut sebagai algoritma mobokratis, yakni sistem digital yang bekerja dengan mengedepankan reaksi massa, emosi kolektif, dan dorongan instingtif, alih-alih pertimbangan kebenaran dan kemaslahatan.
Dalam konteks ini, saya menggunakan frase yang digunakan Alquran dalam surat an-Nahl ayat 123 yaitu ‘millata Ibrahim hanifa’—jalan atau agama lurus Nabi Ibrahim—menawarkan kerangka spiritual dan etis yang sangat relevan untuk direnungkan kembali.
Api digital dan keteguhan tauhid