Oleh: KH. Anwar Iskandar, Ketua Umum MUI*
Alhamdulillah, kita patut bersyukur kepada Allah Swt. karena diberi kesempatan menghadiri Milad ke-50 Majelis Ulama Indonesia (MUI). Malam tasyakur ini bukan sekadar perayaan simbolis, melainkan momen refleksi setengah abad perjalanan MUI dalam mengemban amanat umat sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah.
Saya menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada seluruh pihak yang selama ini telah berkontribusi dan bekerja sama sehingga MUI tetap mampu berkiprah hingga hari ini. Tadi kita sama-sama menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman dengan berbagai mitra: Kementerian Perumahan Rakyat, Badan Gizi Nasional, Rektor Institut Pertanian Bogor, hingga Kadin. Ini menunjukkan komitmen MUI untuk terus menghadirkan langkah konkret, tidak berhenti pada tanda tangan di atas kertas.
Mata Rantai Kepemimpinan Ulama
Sejak berdiri pada 1975, MUI dipimpin oleh tokoh-tokoh ulama besar: Prof. Hamka, Kiai Syukri Ghozali, Kiai Hasan Basri, Prof. Ali Yafie, KH. Sahal Mahfudz, Prof. Din Syamsuddin, Prof. KH. Ma’ruf Amin, KH. Miftachul Akhyar, dan kini kami meneruskan estafet itu. Mereka semua adalah bagian dari mata rantai panjang ulama Indonesia yang istiqamah mengabdikan diri, memberikan khidmah terbaik bagi umat, sekaligus membersamai pemerintah dalam membangun bangsa.
Kita berkewajiban mendoakan mereka. Apa yang mereka tanam menjadi amal jariyah yang terus hidup. Ada pepatah Arab yang indah: “Qod gorosu lanal ulama faakalna, wal naghris liya’kula man ba’dana”. Ulama terdahulu menanam, dan kita kini menikmati hasilnya. Maka giliran kita menanam untuk generasi mendatang.
Jejak Ulama dalam Perjuangan Bangsa