Berhala-Berhala Jahiliyah dalam Diri Kita
Oleh: M. Alvin Nur Choironi, Sekretaris Komisi Infokomdigi MUI Pusat
Jakarta, MUI Digital – Sejarah mencatat bahwa masa sebelum Islam datang, yang dikenal sebagai era Jahiliyah, adalah puncak dari penyimpangan spiritual manusia. Al-Mubarakfuri dalam kitabnya al-Rahīq al-Makhtūm membedah bagaimana Amr bin Luhay memelopori penggunaan berhala sebagai perantara peribadatan di Jazirah Arab. Saat itu, patung-patung batu seperti Hubal, Latta, Uzza, dan Manat berdiri tegak, disembah, dan dijadikan pusat kehidupan.
Hari ini, berhala-berhala batu itu telah hancur. Islam telah membersihkan patung dari area Ka’bah. Namun, sebuah kesalahan besar jika kita mengira “berhala” telah punah. Secara fisik patung-patung itu memang hilang, namun secara fungsional, berhala-berhala itu telah bertransformasi. Ia tidak lagi berada di pelataran Ka’bah, melainkan bersarang di dalam dada dan pikiran manusia modern. Esensi dari penyembahan berhala adalah ketergantungan mutlak kepada selain Allah, dan penyakit ini justru tumbuh subur dalam bentuk yang lebih halus, namun lebih berbahaya.
Ada beberapa hal yang dicatat oleh al-Mubarakfury sebagai penyimpangan kaum Jahiliyah atas berhala. Mari kita lihat bagaimana perilaku tersebut masih hidup dalam diri kita hari ini.
Salah satu contohnya, bangsa Arab zaman dahulu menangis, menjerit, dan mengeluh di depan berhala saat mereka memiliki hajat. Mereka menganggap berhala adalah penolong mutlak.
Dalam konteks modern, “berhala” ini berubah menjadi jabatan, relasi kekuasaan, atau saldo rekening. Banyak dari kita yang merasa hancur total saat kehilangan jabatan, seolah-olah jabatan itulah yang memberi hidup. Kita “menjilat” atasan demi keamanan finansial, seolah-olah atasan itulah yang memegang kendali atas nasib kita. Ketika kita menaruh rasa takut dan harap yang melampaui batas kepada makhluk, pada saat itulah kita sedang membangun “Latta” dan “Uzza” dalam batin kita.
Contoh lain, misalnya, bangsa Arab zaman dahulu melakukan thawaf di sekeliling berhala sebagai bentuk pengagungan. Saat ini, banyak manusia yang melakukan “thawaf” atau berputar-putar dalam obsesi duniawi yang tidak ada habisnya. Waktu, tenaga, dan pikiran dikuras habis hanya untuk mengejar prestise atau gaya hidup. Jika seseorang rela meninggalkan kewajiban agama demi mengejar pengakuan sosial, maka pengakuan sosial itu telah menjadi berhala yang ia kelilingi setiap hari.
Selanjutnya, kaum Jahiliyah menyembelih hewan untuk berhala, sebagaimana disebut dalam QS. Al-Maidah: 3. Secara fungsional, kurban adalah pengorbanan sesuatu yang berharga demi Tuhan. Hari ini, manusia masih melakukan “kurban”, namun bukan hewan. Mereka mengurbankan prinsip, kejujuran, bahkan harga diri demi mendapatkan keuntungan materi. Tak hanya itu, beberapa dari kita bahkan mengorbankan hajat banyak orang demi keuntungan kaum dan kelompoknya. Mereka menyembelih integritas demi mendapatkan posisi. Ini adalah bentuk persembahan modern kepada “berhala kesuksesan” yang sering kali menuntut tumbal berupa moralitas dan kedekatan dengan Sang Pencipta.