Antara Kritik Ulama Klasik dan Aksi Generasi Medsos yang Berisik
Oleh: KH Masduki Baidlowi
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)—Bidang Informasi dan Komunikasi Digital Periode 2025-2029
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Setiap zaman punya cara dan metode sendiri untuk mengkritik jalannya pemerintahan.
Pada masa kini, kritik sering hadir dalam
bentuk demonstrasi, dialog di podcast, perdebatan di televisi, hingga perang
opini yang sangat tajam di media sosial. Kata-kata tajam mudah sekali tersebar,
bahkan terkadang lebih cepat daripada fakta.
Dalam suasana seperti itu, kritik sering
berubah menjadi kemarahan kolektif yang viral dan kehilangan makna
moralitasnya.
Marilah kita tengok sejarah peradaban
Islam, bagaimana kritik terhadap penguasa dilakukan oleh para ulama klasik.
Para ulama sejak masa awal Islam telah memainkan peran kritik sebagai penjaga nurani kekuasaan. Mereka tidak selalu setuju dengan penguasa, bahkan kadang berani menegur dengan sangat keras.
Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Menghadapi kritik yang keras dari para
ulama, ada penguasa yang menerima kritik dengan baik. Tapi juga ada penguasa
yang malah menjawab dengan jawaban cerdik sehingga membuat ulama tak berkutik.
Namun, yang menarik, kritik para ulama itu hampir selalu disampaikan dalam
bingkai adab yang santun, penuh kejujuran, dan dengan integritas moral yang
tinggi.
Kita belajar dari sejarah klasik bagaimana
tradisi kritik itu berkembang. Suatu malam di Makkah, saat khalifah Abbasiyah
Harun al-Rasyid (786-809 M/170-193 H) beribadah haji, ia ingin bertemu dengan
seorang ulama yang berani menasihatinya.