Lewati ke konten utama
Sabtu, 11 Juli 2026 / 25 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Dr Siti Ma'rifah Ungkap Analogi Kiai Mar'uf Amin Soal Ekonomi Syariah, Sebut Sebagai 'Pesantren'

3 menit baca 300 dibaca
1000511382
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital--Ada cara unik yang digunakan oleh Wakil Presiden ke-13 RI, KH Ma'ruf Amin, dalam menggambarkan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia agar mudah dipahami oleh masyarakat awam. 

Tokoh yang dijuluki Bapak Ekonomi Syariah Indonesia itu mengibaratkan seluruh perputaran sistem ekonomi berkeadilan Islam tersebut layaknya aktivitas di dalam sebuah pondok pesantren.

Hal ini diungkapkan langsung oleh puteri Kiai Ma'ruf yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Dr Siti Ma'rifah.

Baca juga: Dr Siti Ma'rifah: Kiai Ma'ruf Ingin Ekonomi Syariah Menjadi Budaya, Bukan Sekadar Regulasi

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam forum ilmiah Bahtsul Fikrah Ekonomi dan Silaturahmi Nasional Forum Penulis dan Konten Kreator Muslim. Agenda strategis nasional ini diselenggarakan oleh Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman (LPBKI) MUI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2026).

​"KH Ma'ruf Amin menganalogikan ekonomi syariah layaknya sebuah pesantren. Dalam ekosistem ini, pelaku ekonomi adalah para santrinya, sistem keuangan syariah adalah kitab kuningnya, dan para ekonom serta pakar syariah adalah kiai yang bertugas menjaga arahnya," ungkap Siti Ma'rifah.

Baca juga: Ketua MUI Prof Utang Jelaskan Sikap Moderat Kiai Ma'ruf dalam Ekonomi Syariah

Melalui filosofi pesantren tersebut, Kiai Ma'ruf ingin menekankan bahwa ekonomi syariah bukanlah sistem yang kaku atau mati. Melainkan sebuah ekosistem hidup yang dipenuhi nilai-nilai moral, solidaritas, kemitraan, dan musyawarah. Seluruh elemen di dalamnya harus bergerak harmonis untuk mengawal dua agenda besar, yakni memasyarakatkan ekonomi syariah dan mensyariahkan ekonomi masyarakat.

Siti Ma'rifah menambahkan, lewat analogi tersebut sang ayah sejatinya ingin mengetuk kesadaran publik agar tidak melihat ekonomi syariah sebatas aturan formalitas perbankan atau regulasi di atas kertas. Target akhirnya adalah menjadikan ekonomi syariah sebagai budaya dan gaya hidup riil umat.

​"Beliau sangat menyoroti perlunya mentransformasi ekonomi syariah agar mendarah daging sebagai kesadaran perilaku masyarakat sehari-hari," jelasnya.

Visi membumikan ekonomi syariah ini ditopang oleh tiga pilar utama pemikiran Kiai Ma'ruf, yaitu Ekonomi Keadilan (berbasis moral spiritual), Ekonomi Keumatan (berpihak pada ekonomi kerakyatan), dan Ekonomi Kedaulatan (memutus ketergantungan dari asing dan memberdayakan kelompok lemah).

Lebih lanjut, transformasi ekonomi syariah menjadi sebuah "budaya bangsa" dinilai kian realistis mengingat performa ekonomi syariah nasional yang tumbuh sangat masif.

Siti Ma'rifah memaparkan data catatan strategis sang ayah bahwa total aset keuangan syariah di Indonesia saat ini telah melesat tajam hingga menyentuh angka Rp10.542 triliun. Rasio nilai aset tersebut bahkan telah menguasai porsi 52% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

​"Indonesia memiliki seluruh modal dan syarat lengkap untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Target global beliau adalah membawa Indonesia meraih peringkat pertama ekonomi syariah global, menggeser posisi negara tetangga seperti Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi yang saat ini masih berada di atas kita," pungkasnya.