Khutbah Jumat: Muhasabah untuk Berubah Lebih Baik di Tahun Baru Hijriyah
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH A. Roghobb Alfatiry, Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Kota Tangerang
اَلسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ
اِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَ بَعْدَهُ
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَمَّابَعْدُ، فَيَاعِبَادَاللّٰهِ،
اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَال اللّٰهُ
تَعَالٰى فِى الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الْرَّجِيْمِ
(يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً
نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ)
صَدَقَ اللّٰهُ
الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْحَبِيْبُ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلٰى ذَالِكَ
مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Ma’asyiral
Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Menjadi suatu
kewajiban bagi kita semua sebagai hamba Allah untuk senantiasa bersyukur atas
anugerah berbagai kenikmatan yang dilimpahkan kepada kita.
Nikmat yang telah
kita rasakan dalam kehidupan selama ini harus menjadikan kita sebagai pribadi
yang pandai bersyukur, dan dengan sikap ini anugerah akan terus kita nikmati, bahkan ditambah oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
لَىِٕنْ
شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Sungguh jika
kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Oleh karenanya,
pada momentum khutbah kali ini, khatib sekali lagi mengajak kepada seluruh
jamaah dan kita semua untuk senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah dan
bershalawat kepada Rasulullah, Muhammad SAW sekaligus meningkatkan ketakwaan
kepada Allah SWT.
Meningkatkan
ketakwaan dengan senantiasa lebih bersemangat lagi menjalankan segala perintah
Allah dan bersungguh-sungguh meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Hanya
dengan cara inilah kita akan mampu terus berada pada jalur yang ditentukan oleh
syariat agama kita, sehingga tidak menyimpang ke jalan yang sesat.
Ma’asyiral
Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Kehidupan kita di
dunia ini seperti melewati sebuah jalan dengan lintasan penuh dinamika dan
tantangan. Medan terjal yang harus kita daki, hingga medan menurun dan mendatar,
tak boleh membuat kita terlena dan lengah.
Perjalanan kita
menyisakan masa lalu sebagai pengalaman, masa kini sebagai kenyataan, dan masa
yang akan datang sebagai harapan. Karenanya kita membutuhkan rambu-rambu agar
perjalanan kita senantiasa lancar dan selamat sampai ke tujuan. Dan ketakwaanlah
yang menjadi rambu-rambu yang mampu memandu kita berada pada jalan yang benar
dan bekal yang paling baik dalam perjalanan.
Allah
mengingatkan kita dalam firman-Nya:
وَتَزَوَّدُوْا
فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
“Dan berbekallah
kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah
kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Ma’asyiral
Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Dalam sebuah
perjalanan panjang, kita haruslah menyempatkan diri berhenti, beristirahat
untuk menghimpun kembali semangat dan tenaga guna melanjutkan perjalanan
berikutnya.
Begitu juga dalam
perjalanan kehidupan di dunia. Kita harus menyediakan waktu untuk melakukan
introspeksi, evaluasi, menghitung, sekaligus berkontemplasi, yang dalam bahasa
Arab disebut “muhasabah”.
Terkait pentingnya
muhasabah tersebut, Sayyidina Umar bin Khattab pernah menyampaikan:
حَاسِبُوْا
أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَ تَزَيَّنُوْا لِلْعِرْضِ الْأَكْبَرِ
وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ
فِي الدُّنْيَا
“Hisablah diri
(introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk
menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat
akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup
di dunia.”
Saat ini,
alhamdulillah, kita berada dalam masa peralihan Tahun Hijriyah. Bulan Dzulhijah
sebagai bulan terakhir berganti dengan Muharram sebagai awal bulan Tahun Hijriyah.
Pergantian tahun
ini tidak boleh dimaknai sebagai pergantian waktu seperti biasanya, atau
biasa-biasa saja. Momentum ini memiliki makna dan hikmah mendalam yang jika
dimaksimalkan akan membuahkan kesuksesan dan keberkahan dalam hidup.
Bergantinya tahun
ini harus dijadikan sebagai waktu evaluasi terhadap perjalanan hidup selama ini
agar ke depan menjadi lebih baik lagi.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Jangan sampai
berjalannya waktu, kita tidak mampu mengambil ‘ibrah, pelajaran, hikmah, dan pengalaman
berharga.
Dengan
merenungkan masa lalu, kita meninggalkan hal-hal yang negatif dan mengambil
sisi-sisi positif sebagai bekal menghadapi masa depan.
Kita harus
optimistis bisa melakukan perubahan lebih baik di masa yang akan datang dengan
terus melakukan ikhtiar-ikhtiar terbaik.
Rasulullah SAW pernah
bersabda:
مَنْ كَانَ
يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ
أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ
مَلْعُوْنٌ
Artinya: “Siapa
saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang
beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia
(tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari
kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim)
Allah pun telah
mengingatkan kita dalam Alquran surat Al-Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).
Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa-apa yang
kamu kerjakan.”
Ma’asyiral
Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Selain melakukan “muhasabah”
terkait apa-apa yang telah dilakukan pada masa lalu, kita juga harus
melakukan persiapan untuk menghadapi masa depan di tahun baru. Hal ini penting
dilakukan, karena sebuah perjalanan pasti membutuhkan bekal yang cukup agar
kita bisa sampai ke tujuan dengan baik.
Dalam mengarungi
kehidupan melalui ikhtiar ini, kita juga harus menyadari bahwa kita tidak akan
mengetahui apa yang akan terjadi besok. Kita diperintahkan untuk melakukan
ikhtiar dan setelah itu kita diingatkan untuk bertawakal, berserah diri kepada
Allah.
Dalam surat
Luqman ayat 34 Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ
عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى
الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ
نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Sesungguhnya
Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan
mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan dikerjakan besok. (Begitu pula) Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Teliti”.
Ayat ini
menunjukkan kekuasaan Allah atas masa depan dan ketidaktahuan kita tentang apa
yang akan terjadi esok. Dalam satu ayat ini Allah menunjukkan lima
kekuasaan-Nya sekaligus tentang masa depan, yaitu:
Pertama, Allah-lah yang Maha Mengetahui kapan
kiamat akan terjadi.
Kedua, Allah-lah yang mengetahui kapan turun
hujan, untuk menghidupkan bumi ini dan memberi rezeki kepada manusia sebagai
bekal kehidupan di dunia.
Ketiga, Allah Yang Maha Mengetahui apa yang ada
dalam kandungan seorang ibu, walaupun saat ini telah ditemukan alat-alat super
modern untuk melihat kondisi bayi dalam rahim, seperti USG dan lainnya, namun
pada hakikatnya semua masih dalam fase prediksi.
Keempat, Allah-lah yang mengetahui nasib kita di
masa yang akan datang. Kita hanya berusaha dengan cara yang terbaik, namun
Allah-lah yang menentukan hasilnya.
Kelima, Allah Yang Maha Mengetahui kapan seseorang akan
mati. Tidak ada seorang manusia pun yang bisa merencanakan umurnya, meninggal
dunia di mana, dan di mana dia akan dikuburkan.
Kematian
merupakan keniscayaan yang akan dihadapi oleh semua makhluk yang bernyawa. Hal
ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
وَلِكُلِّ
اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا
يَسْتَقْدِمُوْنَ
Artinya:“Setiap
umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat
meminta penundaan sesaatpun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS.
Al-A’raf: 34)
Ma’asyiral
Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Untuk mengakhiri
khutbah Jumat tentang muhasabah ini, mari kita merenungi bersama pesan
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Hakim berikut:
اِغْتَنِمْ
خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: َشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ،
وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ،وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya: “Gunakan
lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum masa tua, sehatmu
sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum
kesibukanmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
بَارَكَ
اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي
وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
أَقُوْلُ هٰذَا
الْقَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ
ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،
فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.