Khutbah Jumat: Hijrah dan Berkah di Tahun Baru Hijriyah
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH Zaki Mubarok, Lc., Sekretaris 1 MUI Kota Tangerang
Khutbah I
اَلسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ
مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ
فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُونَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
قَال اللّٰهُ تَعَالٰى
فِى الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الْرَّجِيْمِ:
(اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ
سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ) صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ.
Jamaah Shalat
Jumat yang Dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah
SWT yang telah mempertemukan kita kembali dengan momentum yang sangat agung,
yaitu Tahun Baru Hijriyah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah
kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW.
Melalui mimbar yang
mulia ini, khatib selaku hamba Allah yang fakir, mengajak diri sendiri dan
jamaah sekalian untuk terus meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT.
Caranya adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya.
Jamaah yang Berbahagia,
Mari kita renungkan
kembali lembaran sejarah runtuhnya peradaban jahiliyah. Sadarkah kita, bahwa
penetapan Kalender Hijriyah oleh Khalifah Umar bin Khattab dan para sahabat
terdahulu tidak didasarkan pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagaimana
kalender Masehi merayakan kelahiran Isa Al-Masih?
Penanggalan ini juga
tidak didasarkan pada hari wafatnya Rasulullah yang penuh duka, bukan pula pada
momentum turunnya wahyu pertama di Gua Hira, atau kemenangan gemilang dalam
Perang Badar.
Para sahabat Nabi,
dengan kedalaman mata hati dan kecerdasan mereka, justru memilih peristiwa “hijrah”—sebuah
momentum perpindahan fisik dari Makkah ke Yatsrib—sebagai titik nol dan awal
mula peradaban Islam.
Pertanyaannya, mengapa
harus hijrah?
Jawabannya, adalah sebab
hijrah bukan sekadar kisah pelarian dari kepungan kaum kafir Quraisy, melainkan
sebuah proklamasi agung dan tonggak perubahan peradaban yang secara tegas
memisahkan (Al-Faruq) antara yang batil dan yang haq.
Hijrah adalah simbol
transformasi total; dari fase tertindas menuju fase berdaulat, dari
keterasingan menuju persatuan, dan dari kesempitan hidup di bawah bayang-bayang
intimidasi menuju bentangan luas gerbang keberkahan Allah SWT.
Tanpa peristiwa hijrah,
tidak akan pernah ada kota Madinah Al-Munawwarah yang bercahaya, dan tanpa hijrah,
syariat Islam tidak akan pernah tegak dengan paripurna seperti yang kita
rasakan manisnya hari ini.
Allah SWT berfirman
dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 218:
إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan
Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”
Rahmat dan berkah
Allah tidak turun kepada mereka yang diam dalam kenyamanan kemaksiatan,
melainkan kepada mereka yang bergerak, berjuang, dan berhijrah demi meraih ridha-Nya.
Jamaah Shalat
Jumat yang Dirahmati Allah,
Hari ini, fisik kita
mungkin tidak perlu lagi berhijrah secara geografis dari Makkah ke Madinah
karena fase itu sudah selesai. Namun, esensi hijrah tidak pernah mati. Hijrah
yang paling kontekstual bagi kita saat ini adalah “hijrah maknawiyah”,
yakni perpindahan hati, perilaku, dan kebiasaan.
Nabi Muhammad SAW
bersabda dalam sebuah hadis shahih:
الْمُسْلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ
مَا نَهَى اللّٰهُ عَنْهُ
“Seorang muslim
adalah orang yang lidah dan tangannya tidak menyakiti muslim lain. Dan orang
yang berhijrah (Al-Muhajir) adalah orang yang meninggalkan semua yang dilarang
oleh Allah.” (HR
Bukhari dan Muslim)
Selanjutnya, bagaimana
kita menjemput keberkahan di tahun baru ini melalui spirit hijrah?
Pertama, hijrah keyakinan dan ibadah. Mari kita
tengok lembaran amal kita di tahun yang lalu. Jika jujur diakui ibadah kita
masih sering bolong-bolong, shalat lima waktu masih sering diujung waktu, dan
shalat berjamaah di masjid masih sering tertinggal karena urusan duniawi, maka
momentum tahun baru ini adalah saat yang tepat untuk mengetuk pintu kesadaran
kita.
Hijrah ibadah
berarti kita memindahkan prioritas hidup kita. Jika kemarin dunia adalah yang
utama dan akhirat adalah sisa-sisa, maka di tahun baru ini, hijrahkan diri kita
untuk menempatkan Allah di atas segalanya. Jadikan shalat sebagai poros utama
aktivitas kita sehari-hari, bukan sekadar penggugur kewajiban.
Mari kita bangun
kedisiplinan baru, jemput takbiratul ihram bersama imam, dan hadirkan
kekhusyukan yang mendalam. Sebab, bagaimana mungkin kita mengharapkan
keberkahan hidup yang luas dari Allah, sementara kita masih enggan melangkahkan
kaki ke rumah-Nya?
Kedua, hijrah akhlak dan perilaku. Mari kita
renungkan bagaimana kita menggunakan panca indera kita selama setahun ke
belakang.
Di era digital ini,
kemaksiatan tidak lagi hanya bersumber dari lisan yang berucap, tetapi juga
telah berpindah ke ujung-ujung jari kita. Oleh karena itu, momentum tahun baru
Hijriyah ini harus kita jadikan tonggak untuk menghentikan segala bentuk polusi
akhlak.
Mari kita hijrahkan
lisan kita dari gemar membicarakan aib orang lain (ghibah), dan kita rem
jemari kita dari menyebarkan berita bohong (hoaks), ujaran kebencian,
atau fitnah di media sosial yang dapat memutus tali silaturahmi. Ingatlah,
setiap ketukan jari kita di layar kaca gawai akan dimintai pertanggungjawaban
di hadapan Allah SWT.
Di tahun yang baru
ini, ubahlah ruang digital dan kehidupan nyata kita menjadi ladang pahala.
Hijrahkan lisan dan jemari kita agar senantiasa basah dengan dzikir, istighfar,
serta kalimat-kalimat yang menyejukkan, mendamaikan, dan membawa manfaat bagi
sesama.
Ketiga, hijrah finansial dan rezeki. Ketahuilah,
bahwa aspek yang tidak kalah penting untuk kita evaluasi di tahun baru ini
adalah dari mana dan dengan cara apa kita memberi makan diri dan keluarga kita.
Mari kita lakukan
hijrah finansial secara total. Kita bersihkan harta kita dengan berpindah dari
cara-cara mencari rezeki yang syubhat, apalagi yang jelas-jelas haram.
Hentikan segala bentuk
jalan pintas yang membinasakan, seperti jeratan judi online yang sedang merusak
sendi-sendi keluarga, praktik riba yang mencekik, serta tindakan curang dan
culas dalam berniaga maupun bekerja.
Ingatlah, setiap
suapan makanan haram yang masuk ke dalam perut kita dan anak istri kita, akan
menjadi penghalang terkabulnya doa dan pembakar amal-amal shalih kita.
Di tahun baru Hijriyah
ini, bulatkan tekad untuk menjemput rezeki yang halalan thoyyiban—yang
halal lagi baik. Tanamkan dalam dada kita sebuah keyakinan iman yang mendalam:
bahwa rezeki yang tampak sedikit namun mengalir di dalamnya keberkahan Allah,
jauh lebih menenangkan, menyelamatkan, dan mencukupi di dunia dan akhirat,
daripada harta yang melimpah ruah, bertumpuk-tumpuk, namun didapat dengan cara
mengundang murka dan laknat Allah SWT.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Ingatlah janji Allah
bagi siapa saja yang mau melangkah untuk berhijrah. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ
يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً
“Barangsiapa
berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat
hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa: 100)
Maka dari itu,
momentum pergantian tahun ini jangan hanya dilewati sebagai rutinitas kalender
belaka. Jadikan ini sebagai ajang evaluasi (muhasabah).
Mari kita buka
lembaran baru dengan niat yang bersih, tekad yang kuat untuk menjadi pribadi
yang lebih baik, demi menjemput keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
Jamaah yang Dirahmati
Allah,
Mari kita tutup
khutbah yang singkat ini dengan menundukkan kepala, memohon kepada Allah SWT
agar di Tahun Baru Hijriyah ini, kita diberikan kekuatan untuk berhijrah menuju
ketaatan dan dilimpahi keberkahan yang berlipat ganda.
بَارَكَ
اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي
وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ هٰذَا
الْقَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ
الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ
تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا
الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.