Lewati ke konten utama
Rabu, 1 Juli 2026 / 15 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah

Khutbah Idul Adha: Meneladani Kesalehan Nabi Ibrahim dan Keluarganya

7 menit baca 6.122 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Khutbah Idul Adha: Meneladan Kesalehan Nabi Ibrahim dan Keluarganya
Ilustrasi kambing qurban bersiap untuk disembelih. Foto: iStock
Bagikan:

Oleh: Ustadz Nur Rohmad, Ketua Komisi Dakwah MUI Kab. Mojokerto

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ (3x) اللهُ أَكْبَرُ (3x) اللهُ أَكْبَرُ (3x) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ (إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Mengawali khutbah ‘Id pada pagi hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, kapan pun dan di mana pun kita berada serta dalam keadaan sesulit apa pun dan dalam kondisi yang bagaimana pun, dengan cara melaksanakan segenap kewajiban dan menjauhi segala larangan Allah SWT.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Di pagi Hari Raya Qurban ini, khatib akan menyampaikan khutbah mengenai kesalehan Nabi Ibrahim dan keluarganya, seorang Nabi yang kisah keteladanan hidupnya selalu diceritakan setiap kali kita merayakan Idul Adha.

Hadirin Rahimakumullah,

Keluarga Nabi Ibrahim adalah keluarga yang saleh. Sang ayah, yaitu Ibrahim, serta istri dan putranya, semuanya adalah hamba-hamba yang saleh. Saleh artinya memenuhi hak Allah dan hak sesama hamba.

Kesalehan tidak akan dicapai kecuali dengan ilmu dan amal. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan mampu beramal dengan benar sesuai tuntunan syariat. Dan ilmu yang tak diamalkan tidak akan mendekatkan diri kepada Allah dan tidak akan mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang saleh.

Ada banyak sekali sisi kesalehan keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang dapat kita contoh. Di antaranya adalah hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Nabi Ibrahim sangat kuat memegang teguh akidah dan syariat.

Allah SWT berfirman:

مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Artinya: “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang memegangteguh Islam. Dia bukan pula termasuk (golongan) orang-orang musyrik.” (QS Ali ‘Imran: 68)

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah ma’shum (selalu dijaga oleh Allah) dari kufur atau syirik. Begitu juga terjaga dari dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang menunjukkan kehinaan jiwa, baik sebelum maupun setelah diangkat menjadi nabi.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam tidak pernah sedikit pun meragukan ketuhanan Allah SWT. Beliau tidak pernah menyembah selain Allah, tidak pernah menyembah bulan, bintang, atau matahari.

Nabi Ibrahim juga tidak pernah menjual berhala. Ia justru mengancurkan berhala-berhala yang disembah orang-orang musyrik. Dan Nabi Ibrahim tidak pernah meragukan sifat qudrah (kemahakuasaan) Allah SWT. Begitu juga tidak pernah berdusta dalam setiap ucapannya.

Kedua, Nabi Ibrahim berdakwah dengan penuh hikmah.

Hal itu tercermin tatkala Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam mengajak ayahnya untuk masuk ke dalam agama Islam sebagaimana diceritakan dalam surat Al-Anbiya’ ayat 52-56 dan surat Maryam ayat 4. Begitu juga dalam surat Maryam ayat  41-45.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dengan menjaga adab seorang anak kepada orang tuanya menjelaskan dengan santun kepada ayahnya yang menyembah berhala, bahwa berhala tidaklah dapat mendengar doa penyembahnya dan tidak dapat melihat penyembahnya.

Ditegaskanlah, bahwa yang demikian itu, bagaimana mungkin berhala dapat memberi manfaat kepada penyembahnya, memberi rezeki kepadanya atau menolongnya.

Nabi Ibrahim dengan penuh kelembutan mengajak ayahnya untuk menyembah kepada Allah semata, satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin Rahimakumullah,

Ketiga, Nabi Ibrahim berilmu, memiliki hujjah yang kuat dan beramar ma’ruf nahi mungkar dengan penuh keberanian.

Nabi Ibrahim telah diberi hujjah yang kuat oleh Allah SWT, sehingga selalu dapat mematahkan berbagai dalih yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam ketika berdebat.

Allah SWT berfirman:

وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ

Artinya: “Itulah hujjah yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.” (QS. Al-An’am: 83)

Karena memiliki hujjah yang kuat inilah, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berhasil membungkam para penduduk daerah Harran yang menganggap bulan, bintang, dan matahari sebagai tuhan.

Nabi Ibrahim menjelaskan kepada mereka, bahwa bulan, bintang, dan matahari tidak layak disembah karena mereka adalah makhluk yang mengalami perubahan, terbit lalu tenggelam.

Sesuatu yang berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain pasti bukan tuhan. Karena sesuatu yang berubah pasti membutuhkan kepada yang mengubahnya. Sesuatu yang membutuhkan kepada yang lain, berarti ia lemah. Dan sesuatu yang lemah tidak mungkin disebut sebagai tuhan yang layak disembah.

Perkataan Nabi Ibrahim kepada kaumnya: هٰذَا رَبِّـي seperti dikisahkan dalam surat Al-An’am ayat 76-78 adalah dalam konteks mendebat kaumnya dan menjelaskan bahwa bulan, bintang, dan matahari tidak layak disembah.

Perkataan tersebut tidak berarti Ibrahim menetapkan bulan, bintang, dan matahari sebagai tuhan. Karena Nabi Ibrahim pada hakikatnya tidak pernah mengalami fase kebingungan mencari-cari Tuhan.

Sebelum perdebatan itu, bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah mengetahui dan meyakini bahwa satu-satunya Tuhan yang berhak disembah hanyalah Allah. Dialah satu-satunya Pencipta segala sesuatu, Tuhan yang menghendaki terjadinya segala sesuatu dan yang berbeda denga segala sesuatu.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ

Artinya: “Sungguh, Kami (Allah) benar-benar telah menganugerahkan kepada Ibrahim petunjuk sebelum masa kenabiannya (bahkan sejak ia masih kecil) dan Kami telah mengetahui dirinya.” (QS. Al-Anbiya’: 51)

Jadi, perkataan Nabi Ibrahim: هٰذَا رَبِّـي ketika melihat bulan, bintang dan matahari adalah bermakna istifham inkariy, yakni beliau bertanya kepada kaumnya dengan maksud mengingkari bukan dengan tujuan menetapkan, “Inikah Tuhanku?”

Seakan-akan beliau ingin mengatakan, “Wahai kaumku, inikah tuhanku seperti yang kalian sangka? Ini jelas bukan tuhanku karena ia berubah, terbit lalu terbenam.”

Demikianlah yang dikatakan oleh para ulama tafsir. Ibrahim adalah seorang nabi yang ma’shum dari kemusyrikan sebelum maupun setelah menjadi nabi.

Hadirin Rahimakumullah,

Keempat, bagi Nabi Ibrahim dalam berjuang menegakkan agama Allah, tidak ada yang perlu ditakuti dan dikhawatirkan.

Demikianlah, karena rezeki telah diatur. Ajal sudah termaktub. Berjuang menegakkan agama Allah tidak akan mengurangi rezeki dan tak akan mempercepat ajal.

Hal itu dibuktikan ketika Raja Namrud hendak melemparkannya ke dalam api yang berkobar-kobar, Nabi Ibrahim tidak gentar sedikit pun. Ia yakin sepenuhnya bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang memperjuangkan agama-Nya.

Kelima, Nabi Ibrahim tawakal sepenuhnya kepada Allah tanpa meninggalkan ikhtiar.

Hal itu tercermin pada peristiwa saat Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di Makkah yang tandus dan tiada sumber air.

Karena takwa dan tawakal yang tertanam kuat di hati Ibrahim dan Hajar, akhirnya Ibrahim meninggalkan keduanya karena menjalankan perintah Allah, dan Hajar rela ditinggal di tempat itu.

Keenam, Nabi Ibrahim bersegera menjalankan perintah Allah, seberat dan sebesar apa pun resikonya.

Setelah penantian yang begitu panjang, akhirnya Allah mengaruniakan kepada Ibrahim seorang putra yang kemudian diberi nama Ismail. Putra yang sangat dicintainya itu setelah tumbuh menjadi seorang remaja, ternyata kemudian Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelihnya.

Dengan ketundukan yang total kepada Allah, Ibrahim bersegera menjalankan perintah itu tanpa ada keraguan sedikit pun.

Sang putra juga menyambut perintah itu dengan kepasrahan yang total tanpa ada protes sepatah kata pun.

Masya Allah, demikianlah sebuah potret keluarga saleh yang lebih mengutamakan perintah Allah dibandingkan dengan apa pun selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan menyemangati untuk melaksanakan perintah Allah.

Dialog indah antara keduanya terekam dalam Alquran sebagaimana dikisahkan oleh Allah:

قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ

Artinya: “Ibrahim berkata: ‘Duhai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?’”(QS. Ash-Shaffat: 102)

Sebagaimana kita tahu bahwa mimpi para nabi adalah wahyu. Sedangkan perkataan Nabi Ibrahim kepada putranya, “Maka pikirkanlah apa pendapatmu?,” bukanlah permintaan pendapat kepada putranya apakah perintah Allah itu akan dijalankan ataukah tidak. Begitu juga bukanlah sebuah keragu-raguan.

Nabi Ibrahim hanya ingin mengetahui kemantapan hati putranya dalam menerima perintah Allah SWT.

Lalu dengan kemantapan dan keteguhan hati, Nabi Ismail menjawab dengan jawaban yang menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah jauh melebihi kecintaannya kepada jiwa dan dirinya sendiri:

قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: “Ismail menjawab: ‘Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shafaat: 102)

Jawaban Isma’il yang disertai pernyataan “insya Allah” menunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak akan terjadi.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Demi mendengar jawaban dari sang putra tercinta, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam lantas menciumnya dengan penuh kasih sayang sembari menangis terharu dan mengatakan kepada Ismail:

نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ

“Engkaulah sebaik-baik penolong bagiku untuk menjalankan perintah Allah, duhai putraku.”

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam kemudian mulai menggerakkan pisau di atas leher Ismail. Akan tetapi pisau itu sedikit pun tidak dapat melukai leher Ismail.

Hal itu tidak lain karena pencipta segala sesuatu tidak lain adalah Allah SWT. Pisau hanyalah sebab terpotongnya sesuatu. Sedangkan pencipta terpotongnya sesuatu dan pencipta segala sesuatu tiada lain adalah Allah SWT.

Jadi, sebab tidak dapat menciptakan akibat. Pisau tidak dapat menciptakan terpotongnya leher Nabi Ismail. Sebab maupun akibat, keduanya adalah ciptaan Allah SWT.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang Berbahagia,

Berkat takwa, sabar dan tawakal serta ketundukan total yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail serta Hajar, Allah kemudian memberikan jalan keluar dan mengganti Ismail dengan seekor domba jantan yang besar dan berwarna putih yang dibawa malaikat Jibril dari surga. Demikianlah kisan menakjubkan ini diabadikan dalam surat Ash-Shaffat ayat 106-107.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Mari kita berdoa, semoga Allah menganugerahkan kepada kita kekuatan dan taufiknya untuk meneladani kesalehan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ (3x) اللهُ أَكْبَرُ (3x) اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: (إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا).

 اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالصَّالِحِيْنَ.

اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللهم اجْعَلْ عِيدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ.

اللهم اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهم أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ،

اَللّٰهُ اَكْبَرُ (3x) لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.