Wasekjen MUI Jelaskan Dua Model Pelaksanaan Pesantren Kilat Ramdhan Tahun Ini
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital— Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Pendidikan, Prof Armai Arif menjelaskan, pelaksanaan Pesantren Kilat Ramadhan tahun ini menerapkan dua model pelaksanaan.
Pertama, Pesantren Kilat untuk para pelajar di sekolah. Menurut Prof Armai, model pertama ini dilaksanakan di lingkungan sekolah yang melibatkan ribuan siswa. Pelaksanaannya menekankan pada pembekalan soft skill yang mendukung ekosistem belajar yang baik.
“Nah kalau di sekolah, di samping materi tentang keagamaan, juga kita berikan materi terkait dengan soft skill. Misalnya bagaimana anak-anak remaja ini mampu memanfaatkan artificial intelligence (AI) dengan baik. Nah itu ada materi yang kita berikan begitu,” ungkapnya pada Pelaksanaan Pesantren Kilat Ramadhan MUI di Masjid al-Mau’idzah Hasanah, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Sabtu (28/5/2026).
Prof Armai pun melaporkan, model pertama ini sudah direlaisasikan dalam pelaksanaan pesantren kilat di Pesantren Tahfizh Darul Qur'an (DaQu) pada 24-25 Februari dan di Yayasan Perguruan Institut Pengembangan Pendidikan Indonesia (YP IPPI) pada 27 Februari 2026 yang diikuti 4.500 peserta.
Ia mengakui, pelaksanaan pesantren kilat di sekolah diikuti dengan antusias oleh ribuan siswa. Untuk itu melalui pesantren kilat, ia mendorong agar penguasaan siswa terhadap artificial intelligence (IA) terus meningkat untuk mendukung pola belajar saat ini.
Menurutnya, hal ini penting untuk mencetak generasi yang bertauhid, berakhlak, dan berprestasi. Hal itu akan menjadi modal dasar bagi pelajar saat ini untuk menjadi penerus generasi selanjutnya.
“Nah itu kalau di sekolah. Jadi di sekolah, sekali lagi saya katakan di samping bagaimana mencetak generasi yang bertauhid, kemudian juga berakhlak dan berprestasi. Kenapa penting berprestasi? Karena mereka yang akan melanjutkan generasi berikutnya.” kata Prof Armai menjelaskan.
Sementara itu, pesantren kilat model kedua dilaksanakan di lingkungan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada masyarakat umum dalam menjalani kehdiupan beragama dan bermasyarakat.
Pelaksanaannya berlangsung di Masjid, salah satunya di Masjid al-Mau’idzah Hasanah, Ciputat Timur, Tangerang Selatan pada 28 Februari 2026. Harapannya, MUI dapat membina masyarakat umum untuk membangun kehidupan keluarga dan masyarakat yang lebih baik.
“Sementara di lingkungan masyarakat, kita berharap bagaimana masyarakat ini juga berperan untuk membina anak-anak yang ada di lingkungan khususnya anak-anak remaja. Oleh karena itu kita berikan tambahan materi di lingkungan masjid yang di lingkungan masyarakat ini,” ujarnya.
Pada model kedua ini, ada sejumlah materi yang diberikan, salah satunya tentang fikih nikah, emotional spiritual quotient (ESQ) untuk pembinaan spiritualitas, intelektualitas, dan emosional, serta materi yang berisi kiat membangun akhlak anak di rumah.
“Inilah dua model yang kita lakukan tahun ini. Dan tentu saja model ini selalu berkembang mulai dari awal pelaksanaan Pesantren Kilat Ramadhan yang dicetuskan oleh MUI. Saya pikir itu,” tandasnya.
(Rozi/Azhar)