Update Perang AS VS Iran: Trump Pertahankan Blokade Iran, Teheran Ancam Tindakan Praktis
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital —Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan terus mempertahankan blokade laut terhadap Iran hingga tercapai kesepakatan nuklir dengan Teheran.
Dalam wawancara dengan Axios pada Rabu (29/4/2026) lalu, Trump menegaskan dirinya tidak berniat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Trump juga menolak opsi pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari proses negosiasi antara kedua negara.
Dikutip MUI Digital dari Aljazeera, Sabtu (2/5/2026), Trump kemudian melontarkan pernyataan keras terkait kebijakan tersebut. Dia mengatakan bahwa blokade dianggap lebih efektif dibandingkan serangan militer langsung.
“Blokade ini lebih efektif daripada pengeboman. Mereka seperti tercekik seperti babi yang disumbat,” ujar Trump, sambil menegaskan sikap keras Amerika Serikat terhadap program nuklir Iran.
“Dan itu akan semakin buruk bagi mereka. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
Iran sendiri menjadikan pencabutan blokade sebagai syarat utama untuk kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat.
Sejumlah laporan media menyebut Teheran sempat mengajukan usulan kesepakatan terbatas pada pekan ini. Dalam usulan tersebut, Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz dengan syarat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya dihentikan.
Namun, menurut laporan tersebut, Presiden Trump menolak proposal itu dan memilih mempertahankan status quo.
Trump juga menyatakan bahwa ia tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan baru maupun mengakhiri ketegangan yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, ketegangan di lapangan terus meningkat. Sedikitnya dua kapal dagang yang dikaitkan dengan Iran dilaporkan telah ditangkap oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari kebijakan blokade.
Baca juga: Dibayang-bayangi Meletusnya Kembali Perang, Bagaimana Nasib Jamaah Haji Iran?
Militer Amerika Serikat juga disebut telah mengalihkan 39 kapal di wilayah perairan regional dalam beberapa pekan terakhir.
Sebagai respons, Iran turut menahan sejumlah kapal yang dituduh melanggar aturan pelayaran internasional.
Ketegangan tersebut berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak tajam, sementara harga bahan bakar di Amerika Serikat ikut mengalami kenaikan signifikan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pernyataannya menuding Amerika Serikat berupaya melemahkan Iran dari dalam.
Dia menyebut Washington berusaha “mengaktifkan tekanan ekonomi dan perpecahan internal” untuk mengguncang stabilitas negara tersebut. Ghalibaf kemudian menegaskan keyakinannya terhadap ketahanan Iran.
Dia menyatakan bahwa rakyat Iran akan mampu menghadapi tekanan tersebut dan meraih “kemenangan besar”.
Sementara itu, sebuah sumber keamanan yang dikutip media pemerintah Iran, Press TV, menyebut bahwa blokade tersebut akan segera direspons.
“Blokade ini akan segera dihadapi dengan tindakan praktis dan belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar sumber tersebut tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Di tengah eskalasi tersebut, Trump kembali mengklaim bahwa kemampuan militer Iran telah melemah. “Mereka hampir tidak memiliki apa-apa lagi. Mereka hanya memiliki sebagian kecil rudal,” kata Trump dalam pernyataan terpisah.
Selain ketegangan blokade, Amerika Serikat dan Iran juga masih terjebak dalam kebuntuan terkait isu nuklir.
Iran menegaskan, mereka tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir, namun tetap mempertahankan hak untuk memperkaya uranium di dalam negeri.
Sebaliknya, Amerika Serikat menuntut penghentian total program nuklir Iran, yang hingga kini belum diterima oleh Teheran.
Iran juga menolak tuntutan untuk membatasi produksi rudal dan drone, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok sekutu regional seperti Hizbullah dan Hamas.
Setelah gencatan senjata sebelumnya, kedua negara sempat melakukan satu putaran perundingan di Pakistan.
Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan berarti. Di tingkat diplomasi internasional, Presiden Rusia Vladimir Putin disebut ikut terlibat dalam pembahasan tidak langsung.
Dia sebelumnya bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di St Petersburg. Kremlin kemudian menyatakan bahwa Rusia telah mengajukan sejumlah proposal untuk meredakan ketegangan.
“Untuk tujuan ini, kontak aktif akan terus dilakukan dengan perwakilan Iran, para pemimpin negara-negara Teluk, serta Israel dan tentu saja tim negosiasi Amerika Serikat,” demikian pernyataan Kremlin.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan bahwa Abbas Araghchi juga telah bertemu dengan Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Mirjana Spoljaric.
Dalam pertemuan tersebut, Iran mengecam serangan terhadap fasilitas sipil di wilayahnya, termasuk sekolah, situs budaya, dan rumah sakit.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa komunitas internasional memiliki tanggung jawab untuk bersikap tegas. Mereka menyerukan agar pelanggaran tersebut dikutuk dan para pelakunya dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum internasional.