Silaturahim Ulang Willie Salim, Sapa Hangat untuk Santri, dan Hadiah Buku dari Kiai
Depok, MUI Digital — Ahad pagi itu tidak sekadar menjadi waktu untuk bersilaturahim. Bagi Willie Salim, kunjungannya ke kediaman KH M Cholil Nafis di kawasan Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, menjadi kesempatan untuk kembali belajar, berdiskusi, dan menyerap nasihat dari para ulama.
Pada Ahad (9/8/2026), kreator konten yang dikenal luas di media sosial itu kembali menyambangi kediaman Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut.
Suasana berlangsung hangat. Percakapan mengalir santai, diselingi canda dan tawa. Namun di balik suasana akrab itu, ada satu hal yang menarik perhatian: Willie pulang membawa sebuah buku sebagai hadiah dari Kiai Cholil.
Buku tersebut berjudul “Cholil Nafis: Membimbing dan Mengayomi Umat”, karya Thobib Al-Asyhar, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama.
Buku itu diserahkan langsung oleh Kiai Cholil kepada Willie. Bukan sekadar hadiah, buku tersebut menjadi simbol apresiasi sekaligus bekal bacaan bagi seorang kreator muda yang belakangan kerap menyempatkan diri bersilaturahim dengan para ulama.
Bagi Willie, pertemuan dengan para tokoh agama bukan hanya soal berkunjung. Ada ilmu yang ingin dipelajari dan ada pengalaman yang ingin dibawa pulang untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Melalui akun Instagram pribadinya, @willie27_, Willie mengungkapkan kesannya atas pertemuan tersebut.
“Minggu pagi penuh ilmu dan silaturahmi. Ngobrol santai sekaligus banyak belajar bersama KH Cholil Nafis, Gus Hayid, dan Dr KH Bukhori. Semoga setiap ilmu dan langkah ke depan membawa keberkahan dan manfaat untuk banyak orang.”
Kalimat itu menggambarkan bagaimana Willie memaknai perjumpaannya dengan para ulama: bukan sekadar pertemuan, melainkan ruang untuk belajar dan mencari keberkahan.
Kunjungan Ahad pagi itu bukanlah pertemuan pertama Willie dengan Kiai Cholil. Sepekan sebelumnya, Willie juga hadir dalam Mujahadah Sabtiyah, majelis rutin yang digelar di pesantren tersebut.
Di sana, ia mengikuti rangkaian ibadah dan kajian bersama para jamaah. Dalam majelis yang dipimpin langsung Kiai Cholil Nafis itu, Willie tampak mengikuti kegiatan dengan khusyuk.
Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan Ratib, kemudian dilanjutkan dengan kajian kitab Mau’izhatul Mu’minin min Ihya’ Ulumiddin.
Majelis tersebut juga dihadiri sejumlah figur publik dan penceramah, antara lain Ustaz Derry Sulaiman, Vincen, Ustaz Muhay, Ustaz Agus Edward, dan Habib Fachri Jamalullail.
Setelah ibadah dan kajian selesai, suasana tidak langsung bubar. Percakapan justru berlanjut dalam suasana yang lebih santai hingga menjelang waktu Zuhur.
Di antara obrolan ringan, canda tawa, dan diskusi, terbangun suasana yang mempertemukan dunia pesantren dengan dunia kreator digital.
Kiai Cholil menyebut perbincangan bersama para tamu berlangsung penuh kehangatan, dengan nuansa dakwah yang tetap terasa di tengah suasana santai.
Baca juga: Berguru ke Waketum MUI Kiai Cholil, Willy Salim Ungkap Rasa Syukur Hadiri Mujahadah Sabtiyah
Kehadiran Willie juga menghadirkan suasana tersendiri bagi para santri. Begitu menyadari ada kreator konten yang mereka kenal berada di lingkungan pesantren, para santri pun antusias mendekat.
Willie yang dikenal ramah tampak menyambut mereka dengan hangat. Ia menyapa para santri dan melayani permintaan untuk berfoto bersama di sela-sela kunjungannya.
Pemandangan tersebut memperlihatkan perjumpaan dua dunia yang selama ini kerap dianggap berbeda: dunia pesantren yang lekat dengan tradisi keilmuan dan dunia media sosial yang bergerak cepat mengikuti perkembangan zaman.
Namun pagi itu, keduanya bertemu dalam suasana sederhana—silaturahim, belajar, dan berbagi pengalaman.
Kesan Willie terhadap kunjungannya ke pesantren sebelumnya juga ia bagikan melalui unggahan Instagram pada Sabtu (1/8/2026). Ia mengungkapkan rasa syukur karena dapat bertemu langsung dengan Kiai Cholil sekaligus berinteraksi dengan para santri.
“Silaturahim dan belajar langsung dari Kyai pondok pesantren sekaligus Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH M Cholil Nafis. Dijamu dengan baik dan bisa bertemu dengan para santri. Terimakasih untuk ilmunya. Semoga bisa bermanfaat.”
Bagi seorang kreator dengan jutaan perhatian publik di dunia digital, perjumpaan seperti itu menjadi menarik. Sebab, ruang belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas atau forum resmi.
Kadang, ilmu justru hadir dalam percakapan sederhana, di sela-sela secangkir minuman, canda, dan silaturahim. Dan bagi Willie, pagi di pesantren itu tampaknya menjadi salah satu ruang untuk terus mengisi perjalanan tersebut.
Kiai Cholil menjelaskan bahwa Mujahadah Sabtiyah bukanlah majelis yang hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu. Majelis tersebut telah berlangsung secara konsisten setiap Sabtu pagi sejak 2015.
Selain menjadi ruang ibadah dan kajian, Mujahadah Sabtiyah terbuka bagi masyarakat umum. Para tokoh, pendakwah, hingga figur publik dan influencer yang ingin bersilaturahmi serta belajar bersama juga dapat hadir.
Karena itu, kehadiran Willie bukan sesuatu yang asing bagi majelis tersebut. Di tempat itu, popularitas bukan menjadi ukuran utama. Yang dipertemukan adalah manusia dengan manusia, generasi muda dengan ulama, serta dunia digital dengan tradisi keilmuan pesantren.
Pada akhirnya, hadiah buku yang diberikan Kiai Cholil kepada Willie pada Ahad pagi itu terasa seperti kelanjutan alami dari silaturahim yang telah terjalin.
Sebuah buku berpindah tangan. Namun yang diharapkan lebih dari sekadar sebuah buku: ilmu yang dibaca, nasihat yang diingat, dan kebermanfaatan yang diteruskan kepada lebih banyak orang.