Silaturahim Dakwah MUI–BPKH, Sekjen MUI Ajak Umat Optimalkan ZISWAF Selama Ramadhan
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan menyatakan Ramadhan harus menjadi momentum penguatan ekonomi umat melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF), bukan sekadar peningkatan konsumsi.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Silaturahim Dakwah Perkantoran yang digelar Komisi Dakwah MUI bekerja sama dengan (BPKH), di Masjid Jami At-Taubah, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (24/2/2026) petang.
Buya Amirsyah mengingatkan agar harta dan keluarga tidak melalaikan umat dari mengingat Allah SWT. Dia mengutip pesan Alquran bahwa harta dan anak adalah ujian, sekaligus amanah yang harus dikelola secara benar agar menjadi jalan pahala.
“Jangan sampai harta membuat kita lalai. Kalau salah kelola, itu bisa menjadi sebab kerugian. Tapi kalau dikelola dengan benar, harta menjadi sarana keberkahan dan kemaslahatan,” katanya.
Dia menyoroti fenomena meningkatnya konsumsi rumah tangga selama Ramadhan. Secara makro, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama perekonomian nasional. Namun, menurutnya, peningkatan belanja tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kontribusi sosial umat.
“Pertanyaannya, apakah kenaikan konsumsi itu juga diiringi dengan kenaikan zakat, infak, dan sedekah? Di sinilah tantangan kita. Ramadhan jangan hanya kuat dalam belanja, tetapi juga kuat dalam berbagi,” tegasnya.
Buya Amirsyah menyebut potensi ekonomi umat sangat besar, tetapi belum sepenuhnya terkelola secara optimal. Masih terdapat tantangan dalam aspek tata kelola, transparansi, serta transformasi dana sosial menjadi pemberdayaan produktif.
Karena itu, dia mendorong agar dana ZISWAF tidak hanya bersifat konsumtif, melainkan diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat melalui program pemberdayaan.
“Jangan berhenti pada bantuan sesaat. Dana umat harus menjadi kekuatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan,” katanya.
Dia juga menekankan pentingnya digitalisasi tata kelola zakat dan optimalisasi peran masjid sebagai pusat literasi ekonomi umat.
Menurut dia, masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat pemberdayaan dan penguatan solidaritas sosial.
“Masjid harus menjadi pusat peradaban. Dari masjid lahir gerakan mencintai dan membeli produk umat, menguatkan ekonomi berbasis kebersamaan,” ujarnya.
Di akhir penyampaiannya, Buya Amirsyah mengajak agar semangat Ramadan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir.
“Ramadhan melatih kita menahan diri dan berbagi. Jangan sampai semangatnya hanya satu bulan, lalu sebelas bulan berikutnya kita kembali pada pola lama. Mari jadikan Ramadhan sebagai titik tolak kebangkitan ekonomi umat,” kata dia. (Miftahul Jannah, ed: Nashih)