Saatnya Mualaf Naik Kelas, Ikhtiar LP2M MUI Alihkan dari Level Mustahik Menjadi Muzaki
Saatnya Mualaf Naik Kelas, Ikhtiar LP2M MUI Alihkan dari Level Mustahik Menjadi Muzaki
Jakarta, MUI Digital — Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Mualaf (LP2M) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong mualaf untuk tidak hanya mendapatkan penguatan keimanan, tetapi juga memiliki kemandirian secara ekonomi.
Upaya tersebut diarahkan agar mualaf yang masih menjadi mustahik dapat berkembang hingga menjadi muzaki dan mampu membantu mualaf lainnya.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua LP2M MUI, KH Jamaluddin Faisal Hasyim, dalam pembukaan Bootcamp Muharrik Mualaf 2026.
Kiai Jamaluddin mengatakan, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu perhatian yang ingin dikembangkan LP2M MUI.
Menurutnya, selama ini pendampingan mualaf lebih banyak bergerak pada aspek keagamaan, psikologis, hingga hukum, sementara pemberdayaan ekonomi belum banyak mendapat perhatian.
Dia mempertanyakan, jika hanya mendampingi para mualaf kemudian memperkuat keimanannya, itu bisa dilakukan oleh lembaga mualaf lain atau lembaga-lembaga seperti pesantren, masjid, dan yayasan.
"Lalu, siapa yang memikirkan pembangunan ekonomi mereka?” ujar Kiai Jamaluddin dalam pembukaan Bootcamp Muharrik Mualaf 2026 di Aula MUI, Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Bootcamp Muharrik Mualaf 2026 mengusung tema “Dari Mualaf Menjadi Muharrik, Berdaya untuk Kemaslahatan”.
Setelah pembukaan, rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari, 18–20 September 2026, di Villa Bukit Pinus, Caringin, Bogor, Jawa Barat.
Kiai Jamaluddin menjelaskan, sebagian mualaf menghadapi tantangan setelah memeluk Islam, termasuk kehilangan dukungan keluarga dan keterbatasan modal.
Kondisi tersebut, menurutnya, perlu direspons melalui pendampingan yang tidak hanya bersifat keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek kemandirian ekonomi.
“Karena kebanyakan mualaf ini terbuang dari keluarganya," tutur dia.
Dia menyebut yang hadir di sini sebagian merasakan terbuang, tidak punya modal, bahkan dicoret dari warisan keluarga. Artinya, dalam bahasa sederhananya, sebatang kara. "Lalu, siapa yang peduli?” katanya.
Karena itu, Kiai Jamaluddin menjelaskan LP2M MUI ingin mendorong mualaf agar tidak terus berada dalam posisi sebagai penerima bantuan. Mereka diharapkan dapat memiliki usaha, meningkatkan kemampuan ekonomi, dan pada akhirnya turut membantu mualaf lain yang membutuhkan.
“Diharapkan dari hari ini menjadi mustahik. Kalau misalnya masih mustahik, dia akan menjadi muzaki. Dia akan menjadi bapak atau ibu bagi para mualaf yang lain yang terdampar, terbuang,” ujarnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, kata Kiai Jamaluddin LP2M MUI membuka peluang kolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Kiai Jamaluddin mengatakan, LAZ dapat diarahkan untuk memberikan dukungan permodalan kepada mualaf yang memiliki usaha.
Pihaknya mengarahkan LAZ-LAZ ini untuk menjadikan Bapak-Ibu sebagai anak asuh yang diberikan modal usaha dari hasil pengumpulan LAZ.
"Kalau MUI tidak bisa memberikan langsung, dari LAZ-LAZ inilah kita arahkan karena ini adalah mandat dari MUI,” katanya.
Kiai Jamaluddin menilai, kolaborasi tersebut dapat menjadi salah satu jalan untuk membuka akses ekonomi bagi mualaf.
Menurutnya, dukungan juga dapat diberikan melalui berbagai peluang usaha yang tersedia dalam jejaring lembaga dan organisasi.
Kiai Jamaluddin mencontohkan, peluang tersebut dapat berupa keterlibatan mualaf dalam pengelolaan kantin, administrasi, maupun percetakan.
Menurutnya, pembukaan akses semacam itu dapat membantu mualaf memiliki kesempatan untuk berkembang secara ekonomi.
Dia berkeyakinan jika ada affirmative action semacam ini, insya Allah mualaf-mualaf akan semakin berdaya.
"Ini harapan kita," kata dia.
"Mimpi, namanya mimpi. Tapi sesuatu dimulai dari mimpi. Maka dari mimpi ini mudah-mudahan terwujud menjadi kenyataan,” tuturnya menambahkan.
Pemberdayaan ekonomi tersebut juga disiapkan sebagai tindak lanjut setelah Bootcamp Muharrik Mualaf 2026. LP2M MUI mendorong peserta untuk mengembangkan gagasan usaha melalui pengajuan proposal.
Dia mengatakan, harapannya setelah kegiatan ini ada pengajuan proposal dari para mualaf. Pembekalan akan diberikan selama pelatihan. Setelah selesai pelatihan, dalam sepekan atau dua pekan, akan dikumpulkan di sini lagi bersama-sama untuk membicarakan peluang usaha tersebut.
Selain pengembangan usaha, LP2M MUI juga ingin membangun jejaring yang memungkinkan para mualaf saling terhubung dan memperoleh akses pendampingan. Jejaring tersebut akan melibatkan berbagai unsur, termasuk MUI di daerah dan penyuluh agama.
“Kita harapkan setelah ini kita tidak selesai, tetapi kita akan menjadi komunitas. Komunitas yang punya grup, saling bertukar, saling berinformasi, termasuk membuka peluang-peluang kerja sama,” katanya.