Lewati ke konten utama
Minggu, 26 Juli 2026 / 11 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Prof Sylvia Narulita Tekankan Pentingnya Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan dan Inklusif

3 menit baca 134 dibaca
85d161e2-3aaf-4ebc-aa75-b5b8a47fa30e
Bagikan:

JAKARTA, MUI Digital – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Prof Sylvia Veronica Nalurita Purnama Siregar, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan keberlanjutan lingkungan dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Hal tersebut disampaikan dalam sesi diskusi bertema “Tantangan dan Agenda Pertumbuhan dan Ketahanan Ekonomi yang Berkeadilan, Inklusif, dan Berkelanjutan” pada rangkaian Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu (25/7/2026). 

Menurut Prof Sylvia, pembangunan ekonomi tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan saat ini, tetapi juga harus memastikan generasi mendatang tetap memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya.

“Berkelanjutan itu bagaimana suatu pembangunan bisa memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meski sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan, masih terdapat tantangan besar terkait pemerataan dan kualitas pertumbuhan. 

Salah satunya terlihat dari kesenjangan distribusi kekayaan serta masih banyaknya masyarakat yang berada di sekitar garis kemiskinan.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kelompok masyarakat rentan dapat kembali terdampak apabila terjadi tekanan ekonomi seperti kenaikan inflasi.

“Kalau terjadi kenaikan inflasi saja dari tingkat yang sekarang, itu bisa menimbulkan dampak kenaikan penduduk miskin yang cukup signifikan,” katanya.

Selain aspek ekonomi, Prof Sylvia juga menyoroti risiko global yang semakin didominasi isu lingkungan dan sosial, khususnya perubahan iklim. 

Menurutnya, perubahan iklim dapat berdampak luas terhadap produktivitas, kesehatan masyarakat, hingga pertumbuhan ekonomi.

Ia menjelaskan, peningkatan emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia menjadi salah satu penyebab utama perubahan iklim yang berdampak pada kenaikan suhu global, meningkatnya bencana alam, serta terganggunya ekosistem.

“Kita tidak ingin pertumbuhan ekonomi tinggi yang kita capai saat ini justru mengorbankan aspek lingkungan dan sosial, sehingga generasi mendatang yang menerima dampak negatifnya,” jelasnya.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, Prof Sylvia mendorong penguatan ekonomi hijau (green economy) dan pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.

Menurutnya, konsep ekonomi hijau tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan dampak lingkungan dan inklusi sosial.

“Ekonomi hijau berusaha mengimbangkan, bukan hanya fokus di aspek ekonomi saja, tapi juga aspek lingkungan dan sosial,” tuturnya.

Ia juga menilai nilai-nilai keberlanjutan memiliki keterkaitan dengan ajaran Islam, terutama dalam hal tidak berlebihan dalam menggunakan sumber daya serta mendorong kepedulian sosial.

Selain itu, Prof Sylvia menyoroti pentingnya ekonomi sirkular untuk mengurangi limbah dan menciptakan nilai ekonomi baru dari pengelolaan sumber daya yang lebih efisien.

Ia menambahkan, pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, media, komunitas, dan masyarakat memiliki peran bersama dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

“Semua orang punya tanggung jawab. Sebagai institusi keagamaan, kita juga punya peranan besar karena masyarakat memandang tokoh agama sebagai teladan, memberikan edukasi, termasuk dalam pemanfaatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf,” tegasnya.

Sebagai penutup, Prof Sylvia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mewujudkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keadilan, inklusivitas, dan keberlanjutan. 

Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, organisasi keagamaan, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

"Saya percaya, bersama kita bisa mencapai sustainable future," yakinnya.