Pesantren Kilat Ramadhan Digelar Berkesinambungan, Fokus Penekanan 3 Modal untuk Peserta
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital— Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) MUI menggelar Pesantren Kilat Ramadhan di sejumlah lokasi dengan waktu pelaksanaan yang berbeda.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Pendidikan, Prof Armai Arief, berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan anak-anak yang memiliki ilmu, iman dan akhlak. Menurutnya, tiga modal ini sangat penting agar anak bisa meraih prestasi.
Prof Armai menjelaskan, ketiga modal itu bisa menjadi arah bagi seorang anak untuk mencapai tujuan yang diiringi dengan perilakunya yang baik.
Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menilai, tantangan ke depan akan semakin berat. Melalui Pesantren Kilat Ramadhan MUI, bisa mempersiapkan para peserta yang masih remaja untuk menjadikan Indonesia Emas 2045.
"Mereka yang telah mengikuti kegiatan ini akan kami berikan pendampingan. Rencananya akan dilakukan setiap hulan secara online," kata Prof Armai kepada MUI Digital di lokasi Pesantren Kilat Ramadhan MUI di YP IPPI Jakarta Timur, Jumat (27/2/2026).
Prof Armai mengungkapkan kegiatan ini akan dilaksanakan secara berkesinambungan sebagai bentuk pemantauan kepada mereka.
"Jadi sampai mereka nanti terpantau, sudah bekerja di mana yang alumni-alumni Pesantren Kilat Ramadhan kita ini sebagai generasi yang bertauhid, berprestasi dan berakhlak," tegasnya.
Kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan MUI di YP IPPI ini digelar secara hybrid yang diikuti oleh 4500 orang siswa-siswa SMP, SMA/SMK. Sementara yang hadir secara offline sebanyak 300 orang.
Sementara itu, Ketua KPK MUI Dr Kartini menyatakan para siswa merupakan kader emas masa depan yang harus memiliki akhlak agar nantinya menjadi bangsa bermartabat.
Dalam Pesantren Kilat Ramadhan MUI yang mengangkat tema "Remaja Berakhlak, Bangsa Bermartabat" ini menjadi momentum penguatan iman dan ilmu bagi para siswa.
Kartini menegaskan, bangsa bermartabat adalah sebuah bangsa yang tidak hanya dibangun di atas tumpukan materi, melainkan di atas fondasi moralitas rakyat.
"Jika remajanya tangguh dan beradab, maka bangsa akan memiliki daya saing yang terhormat di kancah global," tegasnya. (Sadam, ed: Nashih)