Lewati ke konten utama
Sabtu, 25 Juli 2026 / 10 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

MUI Berharap Presiden Prabowo Subianto Bisa Hadir di Penutupan KUII VIII

3 menit baca 145 dibaca
KH M Cholil Nafis
Ketua DSN MUI, KH M Cholil Nafis, dalam konferensi pers di sela-sela pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (24/7/2026). Foto: MUI Digital/Latifahtul Jannah
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital--Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dapat hadir secara langsung pada penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Minggu (26/7/2026).

Harapan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, usai pembukaan KUII VIII pada Jumat (24/7/2026).

Ulama yang akrab disapa Kiai Cholil ini menjelaskan, pihak panitia sebenarnya telah mengundang Presiden Prabowo untuk membuka helatan akbar umat Islam tersebut. Namun, lantaran tingginya dinamika agenda kepresidenan, kehadiran Kepala Negara pada acara pembukaan diwakili oleh Ketua MPR RI, Ahmad Muzani.

Baca juga: Buka KUII VIII, Ketua MPR Ahmad Muzani Serukan Kebersamaan Demi Indonesia Kuat

"Kita sudah mengundang beliau (Presiden RI Prabowo Subianto). Mungkin karena kesibukan beliau yang lebih penting, jadi beliau tidak bisa hadir pada kesempatan ini," ujar Kiai Cholil kepada wartawan di lokasi acara.

"Maka Pak Muzani sebagai Ketua MPR yang menggantikan beliau untuk membuka acara ini. Barangkali nanti (Presiden) bisa hadir pada acara penutupannya," lanjutnya menambahkan.

Selain menyampaikan harapan terkait kehadiran Presiden, Kiai Cholil juga membeberkan salah satu agenda krusial yang dibahas dalam KUII VIII, yakni strategi dakwah umat di era transformasi digital atau yang disebutnya sebagai "Jihad Digital".

Secara khusus, kongres ini menyoroti fenomena maraknya penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) atau "Ustaz AI" sebagai rujukan belajar agama bagi masyarakat modern.

Baca juga: Di KUII VIII, Pegiat Pemilu Rekomendasikan Sejumlah Perbaikan untuk Penguatan Demokrasi

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menekankan pentingnya merumuskan batasan tegas dalam memanfaatkan teknologi informasi, agar masyarakat tidak melupakan peran penting ulama dan ustaz yang memiliki transmisi keilmuan bersambung (sanad).

Menurutnya, belajar ilmu agama memerlukan bimbingan guru spiritual yang mumpuni, memiliki sanad yang valid, serta dapat menjadi teladan moral.

"Belajar agama itu butuh sanad (yakni) ada yang menjamin kebenaran, keaslian, dan kevalidannya. Sementara informasi dari media atau mesin, sebagian mungkin benar tapi sebagian bisa salah. Maka MUI menegaskan, berguru harus kepada orang, kepada ulama, tidak bisa hanya kepada mesin," tegasnya.

Pembukaan KUII VIII yang mengusung tema "Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat" ini berlangsung khidmat pada 24–26 Juli 2026. Rangkaian acara turut dihadiri oleh jajaran tokoh nasional, pimpinan lembaga tinggi negara, hingga diplomat negara sahabat.

Di antara tokoh yang hadir membuka acara tampak Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurrahman, Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung, Kepala BRIN Prof. Arief Satria, serta Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.

Selain itu, deretan Duta Besar negara-negara sahabat seperti Dubes Arab Saudi Faisal Abdullah H. Amodi, Dubes Palestina Abdulfattah A.K. Al-Sattari, Dubes Iran Mohammad Boroujerdi, Dubes Qatar, Dubes Malaysia, hingga Dubes Yaman turut hadir menyemarakkan pembukaan kongres tersebut.