Lewati ke konten utama
Jumat, 28 Agustus 2026 / 15 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Pembukaan Muktamar ke-35, Ra’is Aam PBNU: Jaga Marwah Ulama, Hindari Ambisi Duniawi

2 menit baca 112 dibaca
9c4ff06d-560e-4cbe-be77-5c439bc06e5e
Bagikan:

JOMBANG, MUI Digital— Pembukaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Kamis (27/8/2026), berlangsung penuh khidmat.

Dalam Khutbah Iftitah-nya, Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar menyampaikan pesan yang sangat menyentuh hati bagi seluruh pengurus NU untuk senantiasa menjaga muruah ilmu dan mewaspadai godaan pragmatisme duniawi.

Mengawali pidatonya, Kiai Miftah mengungkapkan rasa syukur atas tiga kebahagiaan besar yang menyertai perhelatan besar ini. 

“Pada hari ini ada tiga kegembiraan: peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, perayaan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, dan dimulainya Muktamar ke-35 di Tambakberas," ungkapnya. Ia berharap ketiga momen bersejarah ini terus menjadi energi penggerak dalam pengabdian di NU.

Memasuki inti khutbah, Kiai Miftah mengutip pandangan sahabat Ibnu Mas'ud mengenai pentingnya ulama menjaga martabat keilmuan dan menempatkannya pada orang yang berhak. 

Ia mengingatkan dengan tegas agar ilmu tidak dikorbankan demi mengejar kepentingan duniawi semata, karena hal itu justru akan membuat pemilik ilmu menjadi hina.

"Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai satu-satunya tujuan, Allah pasti mencukupkan urusan dunianya. Namun, siapa yang ambisinya bercabang-cabang mengejar dunia, Allah tidak peduli di lembah mana ia akan binasa," tegas Kyai Miftah mengutip hadis Nabi Muhammad SAW.

Lebih lanjut, Kiai Mifah merujuk pada nasihat ulama salaf, Abu Qilabah. 

Ia berpesan bahwa setiap karunia ilmu yang baru harus diwujudkan dalam bentuk ibadah yang baru pula, bukan hanya untuk disampaikan sebagai kebanggaan lisan. 

Beliau juga mendorong kemandirian ekonomi (bekerja di pasar) sebagai bentuk kesejahteraan yang menjaga kehormatan diri.

Sebagai penutup, Kiai Miftah memberikan peringatan keras tentang fenomena dicabutnya ilmu seiring wafatnya para ulama. 

Kekosongan ilmu akan melahirkan generasi yang saling bertikai secara liar, di mana orang yang lebih tua dan berilmu justru ditindas dan diremehkan. 

Pesan ini menjadi pembelajaran bagi muktamirin untuk merawat tradisi keilmuan pesantren demi menjaga peradaban zaman. 

Baca juga: Muktamar ke-35 NU, Gus Wahib Ungkap Doktrin Mbah Wahab: Islam dan Negara Tidak Bisa Dipisahkan

Baca juga: Waketum MUI Kiai Marsudi Dorong Pengesahan UU Perampasan Aset, Ingatkan Pesan Prabowo di Muktamar NU