Lewati ke konten utama
Sabtu, 29 Agustus 2026 / 16 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Menimba Keteguhan KH Bisri Syansuri, Belajar Istiqamah Menjaga Panji NU

4 menit baca 38 dibaca
Ziarah Bisri
Sri Rahayu Retnowati bersama rombongan dari Kebumen berziarah ke Makam KH Bisri Syansuri di Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar Jombang. Foto: Syadam/ MUI Digital
Bagikan:

Jombang, MUI Digital— Ada perjalanan yang tidak cukup diukur dengan jarak. Ia ditempuh untuk mendekatkan hati pada jejak perjuangan orang-orang yang telah lebih dahulu mengabdikan hidupnya untuk agama, umat, dan bangsa.

Bagi warga Nahdliyin dari Kebumen, perjalanan menuju Jombang menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) adalah perjalanan semacam itu.

Di tengah agenda Muktamar ke-35 yang menyedot perhatian warga Nahdliyin dari berbagai penjuru negeri, Sri Rahayu Retnowati memilih menyempatkan diri berhenti sejenak di makam KH Bisri Syansuri di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).

Di tempat itu, hiruk-pikuk perjalanan seolah menemukan jedanya.

Yayu, sapaan akrab Sri Rahayu, berdiri di hadapan makam salah seorang ulama besar yang namanya lekat dengan sejarah panjang Nahdlatul Ulama. 

Baginya, ziarah bukan semata datang untuk mendoakan mereka yang telah wafat. Ada sesuatu yang hendak dibawa pulang: semangat, keteguhan, dan teladan perjuangan.

Sosok KH Bisri Syansuri menjadi salah satu figur yang membuatnya terdiam dalam kekaguman.

Yayu melihat Kiai Bisri sebagai ulama yang mampu berdiri tegak di tengah dinamika zaman dan berbagai tantangan perjuangan Islam pada masanya. 

Ketika kepedulian terhadap perjuangan Islam belum tentu mendapat dukungan luas, Kiai Bisri justru menunjukkan sikap sebaliknya: tetap teguh, tidak mudah goyah, dan konsisten dengan jalan perjuangannya.

“Secara pribadi kagum kepada beliau. Di tengah masyarakat yang waktu itu kepedulian terhadap perjuangan Islamnya mungkin masih diragukan, beliau tetap bersemangat untuk berdiri tegak lurus dengan bendera NU-nya,” ujar Yayu kepada MUI Digital, Kamis (28/8/2026). 

Kalimat itu terasa seperti menemukan maknanya sendiri di tempat Yayu berdiri.

Bendera, dalam konteks perjuangan Kiai Bisri, bukan sekadar kain yang dikibarkan. Ia adalah simbol dari pilihan untuk tetap setia pada jalan pengabdian. 

Ada keberanian untuk berdiri ketika keadaan belum tentu mudah, sekaligus ada kesabaran untuk terus bertahan ketika hasil perjuangan belum langsung terlihat.

Dari situlah Yayu menemukan relevansi keteladanan Kiai Bisri dengan kehidupan Nahdliyin hari ini

Zaman memang berubah. Tantangan pun berganti rupa. Namun, satu hal yang tidak boleh hilang adalah istiqamah.

Semangat itulah yang kemudian ingin dibawa Yayu dan rombongan warga Nahdliyin Kebumen dalam perjalanan mereka mengikuti Muktamar ke-35 NU.

Menariknya, perjalanan tersebut bukan perjalanan singkat. Yayu bahkan rela mengambil hak cutinya di tengah kesibukannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Kebumen. Bersama rombongan, ia berangkat menggunakan bus dari Kantor PCNU Kabupaten Kebumen sejak Rabu malam.

Mereka tidak langsung menuju arena Muktamar.

Ada rangkaian ziarah yang lebih dahulu ditempuh. Makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Tebuireng menjadi salah satu persinggahan. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Denanyar untuk berziarah ke makam KH Bisri Syansuri.

Bagi Yayu, inilah cara mereka “ngiras-ngirus”—mengikuti Muktamar sekaligus bersilaturahim dan berziarah kepada para masayikh yang telah meninggalkan warisan perjuangan bagi generasi sesudahnya.

Perjalanan itu akhirnya tidak hanya mempertemukan mereka dengan sebuah momentum organisasi, tetapi juga dengan sejarah.

Baca juga: Pembukaan Muktamar ke-35, Ra’is Aam PBNU: Jaga Marwah Ulama, Hindari Ambisi Duniawi

Di makam para ulama, mereka seperti diajak melihat kembali bahwa NU yang mereka kenal hari ini tidak lahir dalam ruang kosong. Ada keringat, keteguhan, pengorbanan, dan istikamah para pendahulu yang menjadi fondasinya.

Karena itu, bagi Yayu, mengenang KH Bisri Syansuri bukan sekadar mengingat seorang tokoh masa lalu. Yang lebih penting adalah bagaimana keteladanan itu diterjemahkan dalam kehidupan hari ini.

Panji NU harus terus dijaga, bukan hanya dalam bentuk simbol, melainkan melalui pengabdian yang nyata kepada umat.

Semangat berorganisasi harus dirawat, bukan sekadar ketika Muktamar berlangsung, melainkan juga setelah keramaian usai dan setiap orang kembali kepada aktivitas masing-masing.

Dan istiqamah, seperti yang ditunjukkan Kiai Bisri, harus menjadi sikap yang melekat dalam pengabdian.

Dari Denanyar, Yayu dan rombongan kemudian melanjutkan perjalanan. Muktamar menanti, dengan segala dinamika dan harapan yang menyertainya.

Baca juga: Gus Ipul: Muktamar Ke-35 NU Manfaatkan Teknologi CIP dan AI Olahan Santri

Namun sebelum sampai ke arena Muktamar, mereka telah membawa pulang sesuatu yang mungkin lebih penting daripada sekadar pengalaman mengikuti sebuah perhelatan besar: kesadaran bahwa perjuangan tidak selalu membutuhkan sorak-sorai, tetapi membutuhkan keteguhan untuk tetap berdiri di jalan yang diyakini benar.