Lewati ke konten utama
Sabtu, 29 Agustus 2026 / 16 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

LPJ PBNU Diterima Penuh, Gus Yahya: Kami Mohon Maaf kepada Nahdlatul Ulama

4 menit baca 71 dibaca
Yahya Cholil Staquf
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Foto: Istimewa
Bagikan:

Jombang, MUI Digital— Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti arena Sidang Pleno II Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang bertempat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).

Dalam forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat lima tahun terakhir secara resmi diterima secara penuh oleh seluruh peserta muktamar.

Momentum bersejarah ini ditandai dengan penyampaian laporan langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), di hadapan ribuan utusan muktamirin yang hadir dari jajaran Pengurus Wilayah (PWNU), Pengurus Cabang (PCNU), hingga perwakilan Pengurus Cabang Istimewa (PCINU) dari berbagai belahan dunia.

Di balik diterimanya LPJ PBNU tanpa hambatan berarti, puncak perhatian muktamirin tertuju pada pidato pertanggungjawaban yang disampaikan oleh Gus Yahya. 

Mengenang masa awal kepemimpinannya saat menerima mandat organisasi lima tahun lalu, Gus Yahya yang dikenal dengan pemikiran inklusifnya itu menyampaikan pidato dengan sikap penuh kerendahan hati dan rasa tanggung jawab yang mendalam.

Dengan suara yang terdengar bergetar, Gus Yahya menyampaikan permohonan maaf yang begitu emosional dan tulus kepada seluruh jajaran jam'iyah hingga warga nahdliyin di tingkat akar rumput (grassroots).

"Lima tahun yang lalu kami menerima amanah ini. Sekarang saatnya kami mengembalikannya dengan laporan tentang apa yang telah kami kerjakan. Kami menerima amanah itu dengan segala keterbatasan dan kelebihan kami," tutur Gus Yahya di hadapan ribuan muktamirin yang menyimak dengan saksama.

Gus Yahya mengakui bahwa dalam menakhodai PBNU di tengah arus dinamika zaman yang sangat cepat, pihaknya terus berikhtiar merespons berbagai tantangan global dan nasional melalui kebijakan serta pilihan strategis. 

Meski banyak program unggulan yang berhasil merealisasikan transformasi organisasi secara signifikan, Gus Yahya secara ksatria tidak menampik adanya kekurangsempurnaan yang masih membutuhkan pembenahan di masa depan.

Puncak keharuan suasana sidang pleno terjadi ketika Gus Yahya mengutarakan penyesalan atas segala keterbatasan pengurus pusat selama menjalankan roda kepemimpinan.

"Kami mohon maaf kepada Nahdlatul Ulama, kami mohon maaf kepada seluruh jam'iyah Nahdlatul Ulama, kami mohon maaf kepada warga Nahdlatul Ulama, kami mohon maaf kepada sejarah Nahdlatul Ulama," ucapnya disambut suasana hening penuh haru dari para peserta sidang.

Di sisi lain, Gus Yahya juga menegaskan bahwa seluruh capaian positif, kemajuan program, serta lompatan inovasi yang berhasil diraih PBNU selama periode kepemimpinannya bukanlah klaim keberhasilan pribadi atau elite pengurus pusat semata.

Baca juga: Pembukaan Muktamar ke-35, Ra’is Aam PBNU: Jaga Marwah Ulama, Hindari Ambisi Duniawi

Gus Yahya menggarisbawahi pentingnya prinsip kerja kolektif yang selama ini menjadi fondasi utama gerak organisasi.

Menurutnya, seluruh keberhasilan agenda PBNU merupakan buah dari kerja keras, dedikasi, dan pengorbanan bersama seluruh jajaran struktur NU dari tingkat pusat hingga Ranting, serta dukungan moral dari para kiai sepuh.

"Ini bukan pencapaian personal,” kata dia.  

Bukan hasil kerja orang per orang, kata dia, bahkan bukan hanya hasil kerja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Karena Bapak-bapak PW-PC seluruh Indonesia juga merasakan bahwa PW-PC seluruh Indonesia pun selama ini ikut mengerjakan agenda-agenda ini.

Gus Yahya menambahkan bahwa sinergi yang solid dari jajaran Syuriyah, Tanfidziyah, lembaga, Badan Otonom (Banom), hingga sokongan doa dari para masyayikh dan ketulusan para kader adalah kunci utama berputarnya roda jam'iyah. Oleh karena itu, LPJ yang diserahkan merupakan pertanggungjawaban atas ikhtiar bersama, bukan sekadar pamer capaian.

"Laporan ini bukan klaim atas keberhasilan. Ini adalah pertanggungjawaban atas ikhtiar, bahwa kami telah berikhtiar," tambah Gus Yahya.

Baca juga: Enam Kualitas Utama Sosok Ideal Menakhodai PBNU Menurut Peneliti

Pernyataan jujur, transparan, dan ksatria dari Gus Yahya tersebut disambut hangat oleh seluruh peserta muktamar. Dalam sesi pandangan umum yang disampaikan oleh perwakilan PWNU dan PCNU se-Indonesia, mayoritas utusan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kinerja kolektif dan dinamika positif yang dibangun PBNU selama lima tahun terakhir.

Meskipun terdapat beberapa catatan konstruktif dan masukan strategis dari pengurus daerah demi penguatan tata kelola jam'iyah di masa mendatang, Sidang Pleno II secara resmi memutuskan bahwa LPJ PBNU periode ini diterima secara penuh (acclamation).

Keberhasilan penerimaan LPJ ini menjadi bukti kuat bahwa konsolidasi organisasi di tubuh Nahdlatul Ulama berjalan dengan sangat mature (dewasa), akuntabel, dan berlandaskan semangat ukhuwah islamiyah.