Ketika Emas Hitam Mengantarkan Sodiyah ke Tanah Suci
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan jurnalis MUI Digital, langsung dari Madinah, Arab Saudi
Madinah, MUI Digital — Di balik tubuh renta Sodiyah Syukur (86) tersimpan kisah perjuangan panjang untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Sodiyah tiba di Madinah bersama rombongan Embarkasi Yogyakarta (YIA), didampingi putri keempatnya yang menggantikan peran sang ayah yang telah wafat lebih dulu.
Langkah jamaah haji asal Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah itu, tampak pelan saat tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, Arab Saudi.
Perjalanan spiritual Sodiyah bukanlah perjalanan biasa. Selama puluhan tahun, ia bekerja sebagai petani desa dan menabung sedikit demi sedikit demi mewujudkan impiannya berhaji.
“Sehari-hari ibu bertani. Dari situlah beliau menabung sedikit demi sedikit,” tutur putrinya dengan suara lirih. Namun hasil bertani tidak cukup untuk membiayai perjalanan haji. Demi memenuhi panggilan ke Baitullah, Sodiyah akhirnya mengambil keputusan besar dengan menjual “emas ireng” miliknya.
Dalam istilah masyarakat Jawa, “emas ireng” merujuk pada tanah atau pekarangan yang menjadi sumber penghidupan warga desa.
Bagi masyarakat pedesaan, tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan simbol kerja keras dan ketahanan hidup. “Emasnya orang desa itu ya tanah, bukan perhiasan,” ujar sang putri.
Baca juga: Doa Berlinang Air Mata Vania Jamaah Haji DIY Termuda untuk Sang Ayah
Tanah yang dijual Sodiyah merupakan hasil jerih payahnya sendiri selama bertahun-tahun bercocok tanam. Meski berat melepas aset berharga tersebut, ia memilih mengorbankannya demi bisa menunaikan rukun Islam kelima.
Perjalanan haji Sodiyah juga menyimpan kisah duka. Sang suami, yang semula terdaftar untuk berangkat bersama, meninggal dunia saat masa tunggu haji yang mencapai 14 tahun belum selesai.
Akhirnya, penantian panjang itu harus ia tuntaskan sendiri tanpa pendamping hidup yang selama ini berbagi mimpi yang sama.
Sebagai pengganti sang ayah, putri keempat Sodiyah kini mendampingi ibunya menjalani perjalanan ibadah di Tanah Suci.
Kehadirannya bukan hanya membantu secara fisik, tetapi juga menjadi penguat emosional bagi sang ibu. Di tengah ribuan jamaah yang tiba di Madinah, kisah Sodiyah menjadi gambaran tentang perjuangan dan pengorbanan masyarakat kecil demi memenuhi panggilan Allah SWT.
Dari desa sederhana di Kebumen, Sodiyah membuktikan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari kehidupan yang sederhana. Tanah yang ia jual mungkin telah berpindah tangan, tetapi perjuangan dan doa yang ia bawa menuju Baitullah akan tetap hidup dalam setiap langkahnya di Tanah Suci.