Iran Kirim Respons Atas Proposal AS, Selat Hormuz Jadi Penentu Stabilitas Dunia
Dhea Oktaviana
Penulis
Admin
Editor
Jakarta MUI Digital — Iran dikabarkan telah mengirimkan respons terhadap proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik dan ketegangan kawasan melalui mediasi Pakistan.
Media pemerintah Iran, IRNA, menyebut respons tersebut bersifat realistis dan positif, meski Presiden AS Donald Trump justru mengecam balasan Teheran dan menilainya tidak dapat diterima.
"Laporan tersebut menyebutkan pada hari Minggu bahwa berdasarkan rencana yang diusulkan, tahap pertama negosiasi akan berfokus pada penghentian permusuhan, serta memastikan keamanan maritim di Teluk dan Selat Hormuz," tulisnya sebagaimana dikutip Aljazeera pada Selasa (12/05/2026).
Proposal negosiasi itu disebut memfokuskan tahap awal pada penghentian permusuhan serta jaminan keamanan maritim di Teluk dan Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia yang selama ini menjadi titik panas konflik.
Baca juga: Update Perang AS VS Iran: Trump Pertahankan Blokade Iran, Teheran Ancam Tindakan Praktis
Menurut laporan IRNA, Iran menilai peluang kemajuan diplomasi masih terbuka apabila Washington memberikan respons positif terhadap jawaban yang telah disampaikan Teheran.
Namun di sisi lain, Trump menuding Iran terus memainkan strategi politik terhadap Amerika Serikat dan dunia internasional selama puluhan tahun.
"Iran telah bermain-main dengan Amerika Serikat, dan sisa dunia, selama 47 tahun, tulis presiden di Truth Social. Mereka tidak akan tertawa lagi," ujar Presiden AS, Donald Trump.
Sebelumnya, Washington dilaporkan mengirim proposal 14 poin yang mewajibkan Iran menghentikan pengayaan uranium selama sedikitnya 12 tahun serta menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen.
Sebagai imbalannya, AS disebut menawarkan pencabutan sanksi secara bertahap, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Perkembangan ini terjadi di tengah memanasnya situasi di Selat Hormuz.
Dalam sepekan terakhir, AS dan Iran terlibat saling serang di kawasan tersebut, meski gencatan senjata sejak 8 April belum secara resmi dinyatakan berakhir.
Iran bahkan menutup Selat Hormuz bagi kapal asing dan menyita sejumlah kapal berbendera luar negeri sebagai respons atas blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya.