Indonesia Kecam Keras Serangan Brutal Israel ke Lebanon, Sebut Pelanggaran Serius
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
JAKARTA – Indonesia menyampaikan sikap tegas merespons rentetan serangan brutal Zionis Israel di wilayah kedaulatan Lebanon.
"Indonesia mengutuk keras serangan terkoordinasi Israel terhadap Beirut dan banyak tempat di Lebanon yang telah mengakibatkan korban sipil dan kerusakan fisik," kata Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI lewat akun X resminya, Kamis (9/4/2026).
Serangan tersebut, menurut pemerintah Indonesia, merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional.
“Selain itu, serangan Israel dinilai berisiko memperburuk ketegangan regional dan merusak keamanan global,” bunyi pernyataan itu.
Pemerintah RI menuntut agar Israel segera dan secara permanen menghentikan semua permusuhan dan agresi di Lebanon. Indonesia juga menekankan pentingnya melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil, sesuai dengan hukum internasional.
Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri secara maksimal, mengambil langkah-langkah menuju deeskalasi, memprioritaskan dialog, dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi lebih lanjut.
Sebelumnya, serangan udara Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya di berbagai wilayah Lebanon sejak dini hari Rabu ini telah menewaskan 254 orang dan melukai 1.165 orang lainnya, demikian dilaporkan Kantor Berita Nasional mengutip pernyataan dari Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil Lebanon.
Dilansir Aljazeera, Kamis (9/4/2026), pernyataan tersebut menjelaskan bahwa jumlah korban terdiri dari 92 gugur dan 742 luka-luka di ibu kota Beirut, serta 61 gugur dan 200 luka-luka di pinggiran selatan Beirut.
Ditambahkan bahwa tercatat 18 gugur dan 28 luka-luka di distrik Baalbek, serta sembilan gugur dan enam luka-luka di distrik Hermel (timur).
Jumlah korban juga mencakup 28 gugur dan 59 luka-luka di Nabatieh, 17 gugur dan 6 luka-luka di distrik Aley, 12 gugur dan 56 luka-luka di Saida, serta 17 gugur dan 68 luka-luka di Tyre (selatan), menurut pernyataan tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon juga melaporkan bahwa jumlah korban sementara akibat serangan Israel di negara tersebut pada Rabu mencapai 182 orang gugur dan 890 orang luka-luka.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nasiruddin, mengatakan kepada Aljazeera bahwa ambulans masih mengangkut korban ke rumah sakit, seraya menyerukan lembaga-lembaga internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon.
Dalam pernyataan sebelumnya, dia menyebutkan bahwa rumah sakit dipenuhi oleh korban tewas dan terluka.
Koresponden Aljazeera melaporkan bahwa serangan Israel semakin meluas, mencakup wilayah luas di selatan negara itu, melewati Pegunungan Lebanon, hingga ke pinggiran selatan, serta wilayah di dalam ibu kota Beirut, serta Tyre, Hermel, dan Bekaa.
Ini bersamaan dengan pengumuman tentara Israel tentang pelaksanaan serangan besar-besaran terhadap Lebanon sejak dimulainya perang, beberapa jam setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran selama dua pekan.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyerukan kepada komunitas internasional untuk menjalankan tanggung jawabnya dan mengakhiri apa yang dia gambarkan sebagai sikap agresif yang mengancam stabilitas kawasan.
"Berlanjutnya kebijakan agresif Israel hanya akan menimbulkan ketegangan yang lebih besar,"ujar dia.
Sementara itu, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengatakan Israel mengabaikan prinsip-prinsip hukum internasional dan kemanusiaan, tanpa mempedulikan semua upaya regional dan internasional untuk menghentikan perang.
Dia menyerukan kepada teman-teman negaranya untuk membantu menghentikan serangan Israel dengan segala cara.
Salam menulis dalam sebuah unggahan di platform X, "Meskipun kami menyambut baik kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat serta mengintensifkan upaya kami untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Lebanon, Israel terus memperluas serangannya yang menargetkan kawasan pemukiman padat dan menewaskan warga sipil tak bersenjata di berbagai wilayah Lebanon."yang