Bertahan tanpa Makanan, Berjuang di Tengah Kesunyian: Aceh Tamiang Jangan Dilupakan
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Laporan langsung MUI Digital dari Aceh Tamiang
Jakarta, MUI Digital — Di tengah gelapnya malam banjir Aceh Tamiang, rasa lapar menjadi musuh paling sunyi. Founder Sekolah Relawan, Bayu Gawtama masih mengingat malam ketika ia menyusuri wilayah Seumadam hanya dengan senter dan lampu kepala, di saat beberapa warga telah bertahan tiga hingga empat hari tanpa makan.
Malam itu, 1 Desember 2025, banjir besar merendam Kabupaten Aceh Tamiang. Air datang tanpa banyak aba-aba, memaksa warga meninggalkan rumah saat sebagian besar orang terlelap.
Di tengah kegelapan, Bayu bersama tim Sekolah Relawan menyusuri kawasan Seumadam, hanya berbekal senter dan lampu kepala.
“Pas malam hari tanggal 1 Desember itu, kami melakukan evakuasi di daerah Seumadam . Banyak keluarga yang harus dievakuasi tengah malam. Kondisinya gelap, tidak ada penerangan sama sekali. Kami pakai senter dan headlamp,” ujar Bayu saat berbincang dengan MUI Digital, di lokasi bencana beberapa waktu lalu.
Di antara lorong air dan rumah-rumah yang terendam, ada kisah yang tak pernah bisa ia lupakan. Beberapa warga memilih bertahan hingga tiga sampai empat hari tanpa makan. Bukan karena tidak ingin mengungsi, tetapi karena keterbatasan akses dan keterlambatan bantuan.
“Warga yang bertahan itu ada yang sampai tiga–empat hari tidak makan sama sekali. Sementara kami membawa makanan sangat terbatas. Itu sedih banget, karena enggak bisa bantu semua,” katanya.
Kesedihan itu mencapai puncaknya ketika seorang ibu tiba-tiba pingsan di tengah evakuasi. Tubuhnya ambruk di jalanan yang masih digenangi air, diiringi kepanikan dan kepasrahan.
Baca juga: ‘Parang tanpa Gagang’, Merengkuh Nelangsa Korban Banjir Aceh Tamiang
“Waktu itu masih banjir, airnya memang sudah dangkal. Tapi pas jalan, ibu itu pingsan. Entah karena kelelahan atau kelaparan. Tengah malam juga. Akhirnya kami bopong bersama suaminya,” tutur Bayu.
Peristiwa-peristiwa itulah yang terus teringat. Bukan sekadar karena dramanya, melainkan karena rasa bersalah yang tertinggal.
“Mengapa enggak bisa dilupakan? Karena kami merasa kurang cepat mengevakuasi mereka, kurang cepat menolong,” ujarnya.
Tim Sekolah Relawan berpose bersama warga terdampak di lokasi bencana banjir Aceh Tamiang. Foto: Istimewa
Luka belum kering
Dua bulan berlalu, air memang surut. Di pusat kota Aceh Tamiang, kehidupan perlahan bergerak. Namun di pelosok, luka itu belum kering.
“Kalau dibilang kondusif, ya sebagian memang sudah kondusif di pusat kota. Tapi di pelosok-pelosok, masih banyak warga yang belum bisa tinggal di tempat layak,” kata Bayu.
Tenda-tenda darurat masih berdiri. Rumah-rumah dipenuhi lumpur tebal. Di beberapa wilayah perbatasan Aceh Timur, bahkan ada warga yang tidak lagi memiliki rumah sama sekali.
“Huntara belum semua dapat. Entah kapan mereka dapat. Baru sebagian kecil saja yang sudah menerima,” ujarnya.
Puluhan ribu orang pernah mengungsi. Hingga kini, ribuan di antaranya masih belum jelas masa depannya.
“Seolah-olah Aceh sudah selesai. Padahal belum selesai sama sekali. Ini butuh waktu lebih dari satu sampai dua tahun untuk benar-benar pulih,” tegas Bayu.
Ramadhan kelabu
Ramadhan kelabu. Bagi banyak penyintas, ibadah bulan suci dibayang-bayangi pertanyaan paling mendasar: di mana mereka akan tinggal?
“Yang paling mendesak sekarang itu tempat tinggal. Mau sampai kapan mereka tinggal di tenda?” kata Bayu.
Pesan-pesan pribadi terus masuk ke gawainya.
“Sampai hari ini saya masih sering di-DM penyintas minta bantuan makanan, alas tidur, perlengkapan dapur. Mereka masih sangat membutuhkan itu,” ungkapnya.
Dunia pendidikan pun belum sepenuhnya pulih. Banyak sekolah kembali aktif, tetapi tanpa fasilitas layak.
“Masih banyak sekolah yang belajarnya lesehan. Tidak ada papan tulis, meja, kursi. Bahkan banyak siswa tidak punya sepatu dan seragam,” ujarnya.
Tim Sekolah Relawan melakukan trauma healing dengan warga terdampak di lokasi bencana banjir Aceh Tamiang. Foto: Istimewa
Bukan abai, tapi tertutup isu
Bayu menilai, pemerintah tidak sepenuhnya abai. Di awal bencana, respons cukup masif. Namun perhatian publik cepat bergeser.
“Kadang-kadang beritanya ketutup isu-isu yang enggak penting. Isu artis, isu lain. Akhirnya perhatian pemerintah dan publik berkurang,” katanya.
Akibatnya, Aceh perlahan menghilang dari percakapan nasional, meski penderitaannya belum usai.
Aceh dan daya bertahan yang sunyi...
Di tengah keterbatasan, Bayu melihat satu hal yang tetap hidup: solidaritas.
“Warga jaga warga, rakyat bantu rakyat. Itu masih sangat terjaga. Mereka juga patuh pada pemimpin lokal. Rasa syukur mereka besar, bantuan sedikit pun disyukuri,” katanya.
Tak ada konflik perebutan bantuan. Tak ada kegaduhan. Yang ada hanya upaya bertahan bersama.
Baca juga: MUI Sampaikan Mau'idhah Hasanah Respons Banjir dan Tanah Longsor, Ini Poin-poinnya
Tantangan relawan sejak awal tidak sederhana. Delapan puluh persen wilayah Aceh Tamiang terdampak. Hampir semuanya parah.
“Yang sedang-sedang itu enggak ada. Rata-rata parah banget,” ujar Bayu.
Akses terputus, wilayah luas, dan keterbatasan tenaga memaksa relawan menentukan prioritas.
“Secara emosional kita pengin bantu semua. Tapi kita juga punya batas. Ada daerah yang harus ditempuh naik perahu sampai enam jam, dengan segala risikonya,” katanya.
Agar tidak tumbang
Bagi Bayu, semangat relawan lahir dari satu kesadaran: mereka dibutuhkan.
“Penyintas itu kadang enggak cuma butuh bantuan. Mereka melihat ada relawan saja sudah menguatkan,” ujarnya.
Namun Bayu juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental.
“Saya selalu ingatkan teman-teman untuk tahu batas kemampuan. Ada waktunya istirahat. Relawan enggak boleh tumbang,” katanya.
Di dalam tim, relawan saling menguatkan—ada tim medis, terapis, hingga sekadar saling mengingatkan untuk makan.
Baca juga: MUI Serahkan Bantuan Rehabilitasi Masjid dan Rumah untuk Korban Aceh Sumatera
Mengapa bertahan di Aceh?
Awalnya, Bayu mengira misinya hanya berlangsung satu atau dua pekan. Kenyataan di lapangan mematahkan perkiraan itu.
“Begitu masuk wilayah dan lihat kondisinya, parah banget. Enggak mungkin cuma seminggu. Akhirnya kami bertahan dua bulan di sana,” ujarnya.
Bertahan bukan karena heroisme, melainkan karena empati.
“Kami enggak tega ninggalin mereka dalam kondisi rapuh. Kadang kita enggak bawa bantuan pun enggak apa-apa, yang penting kita tetap ada bersama mereka,” katanya.
Tim Sekolah Relawan berkumpul di lokasi bencana banjir Aceh Tamiang melakukan koordinasi. Foto: Istimewa
Jangan tinggalkan Aceh
Ada satu pesan yang terus Bayu dengar dari para penyintas.
“Jangan tinggalin Aceh. Kalian mungkin sudah menyiapkan Ramadhan, tapi di sini kami masuk rumah pun belum bisa,” ucapnya menirukan suara warga.
Karena itu, Sekolah Relawan masih menyiapkan berbagai program pemulihan: pembangunan MCK dan mushala darurat, pemberdayaan UMKM, perlengkapan sekolah, dapur Ramadhan, hingga program Qurban.
Lebih dari itu, mereka menyiapkan relawan lokal agar estafet kebaikan tidak terputus.
“Kami percaya Aceh akan bangkit dengan tangannya sendiri, seperti saat tsunami dulu. Mereka sanggup mandiri, sanggup pulih,” tutup Bayu.
Air boleh surut. Kamera media boleh beralih. Namun bagi ribuan penyintas, Aceh belum selesai. Dan selama itu pula, harapan masih menunggu untuk dijaga.