Lewati ke konten utama
Minggu, 26 Juli 2026 / 11 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Baznas Geser Arah Pengelolaan Zakat Nasional, dari Santunan Langsung ke Pemberdayaan

3 menit baca 171 dibaca
Baznas
Ketua Baznas RI, Sodik Mudjahid menerima cendera mata dari Bandara Umum MUI, KH Misbahul Ulum, seusai memaparkan capaian dan program Baznas pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Jakarta, Sabtu (25/7/2026). Foto: Latifahtul Jannah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital – Ketua Baznas RI, Sodik Mudjahid, menyatakan arah baru pengelolaan zakat nasional yang kini digeser dari sekadar pemberian santunan menuju pendayagunaan dan pemberdayaan ekonomi umat.

Hal itu disampaikannya saat memaparkan capaian dan program Baznas pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

Menurutnya, program Baznas selama ini terbagi ke dalam tiga kategori besar, yakni santunan, distribusi pendayagunaan, dan distribusi pemberdayaan, yang secara bertahap didorong bergeser ke pola pemberdayaan yang berkelanjutan.

"Bagaimana peran Baznas sebagai salah satu pilar ekonomi syariah di dalam membangun pemerataan dan dalam membangun kesejahteraan, kami bagi program Baznas menjadi tiga bagian utama. Satu adalah santunan, begitu Pak. Jangan menyantuni tapi harus meningkat kepada pendayagunan dan pemberdayaan," ujarnya.

Baca juga: Marak "Ustaz AI", Waketum MUI KH M Cholil Nafis Dorong Jihad Digital di KUII VIII

Dia menjelaskan, program santunan yang menyasar fakir-miskin dan korban bencana masih menjadi bagian penting dari kerja Baznas, tersebar di 34 provinsi dalam bentuk sembako dan program bantuan lainnya.

Program santunan tersebut, kata Sodik, telah menjangkau 1.233.000 jiwa dengan anggaran mencapai Rp1,399 triliun, menjadikannya kategori dengan cakupan penerima manfaat terbesar di antara tiga program Baznas.

"Itu santunan itu ada di berapa kota? Ada di 34 provinsi, ada di ratusan kota. Apa bentuknya? Bentuknya adalah ada sembako, ada program bantuan, dan lain-lain. Ini adalah santunan," katanya.

Lebih lanjut, Sodik memaparkan kategori kedua, yakni distribusi pendayagunaan, yang telah hadir di ratusan kabupaten dan kota melalui sejumlah program unggulan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.

Program distribusi pendayagunaan ini, lanjutnya, telah menjangkau 42.514 jiwa di 34 provinsi dengan anggaran Rp490 miliar, tersebar melalui beragam skema mulai dari peternakan hingga wirausaha mikro.

Baca juga: Buka KUII VIII, Ketua MPR Ahmad Muzani Serukan Kebersamaan Demi Indonesia Kuat

"Yang kedua, yang kami mulaikan adalah distribusi pendayagunan. Ada di 100 kabupaten dan kota. Z-Chicken ada di 56 kota-kabupaten. Z-Auto ada di 90 kota-kabupaten. Santrepreneur ada di 201 kota-kabupaten. Dan seterusnya, Balai Ternak ada di 14 kabupaten-kota. Microfinance ada di 31 bentuk badan, dan lain-lain. Ini adalah program Baznas dalam bentuk pendayagunan," urainya.

Sodik pun menekankan bahwa program yang paling menjadi fokus perhatian Baznas saat ini adalah distribusi pemberdayaan, yang dinilainya sebagai puncak dari transformasi pola bantuan Baznas kepada umat.

Program distribusi pemberdayaan ini tercatat telah menjangkau 345 ribu jiwa di 26 provinsi dengan anggaran Rp1,76 triliun, mencakup sejumlah program layanan pendidikan dan kesehatan bagi umat.

"Nah, terakhir Bapak-Bapak. Ini yang sekarang kami tekankan, yakni distribusi pemberdayaan. Ada BSI Swacendikia, anggarannya Rp235 juta sampai Rp2.3 miliar sampai saat ini. Ada rumah sehat Baznas, dan lain-lain. Ini adalah bentuk kami. Ada kesantunan, ada pendayagunan, ada pemberdayaan," kata dia. .

Dalam kesempatan yang sama, Sodik juga mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi Baznas dalam menjalankan tiga pilar program tersebut, yakni minimnya dukungan APBN dibandingkan target penghimpunan dana zakat yang harus dicapai setiap tahun.

Baca juga: Di KUII VIII, Pegiat Pemilu Rekomendasikan Sejumlah Perbaikan untuk Penguatan Demokrasi

Dia menyebut, dari APBN Baznas hanya menerima Rp22 miliar tahun ini, sementara target penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah yang harus dicapai mencapai Rp1,5 triliun, sebuah beban kerja yang menurutnya jauh melampaui kemampuan pembiayaan dari negara.

"Bantulah kami, doakanlah kami agar bisa dipercaya lebih banyak, agar kami bisa memberi lebih banyak kepada umat melalui delapan mustahiknya. Terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," harapnya.