Keutamaan Shalat Jenazah dan Shalat Ghaib
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan mengurusi jenazah seorang muslim. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
مَن شَهِدَ الجَنازةَ حتَّى يُصَلِّيَ فلَه قيراطٌ، ومَن شَهِدَ حتَّى
تُدفَنَ كان له قيراطانِ، قيلَ: وما القيراطانِ؟ قال: مِثلُ الجَبَلَينِ
العَظيمَينِ
Artinya: “‘Barang siapa
yang menghadiri jenazah hingga ia menshalatkannya, maka baginya satu qirath.
Dan barangsiapa yang menghadirinya hingga jenazah itu dimakamkan, maka baginya
dua qirath.’ Para sahabat bertanya: ‘Apakah dua qirath itu?’ Beliau menjawab: ‘Seperti
dua gunung yang besar.’” (HR Bukhari dan Muslim)
Lalu, secara spesifik terkait urusan menshalati jenazah seorang muslim ini, dijelaskan dalam banyak riwayat hadis, terdapat syafaat atau ampunan di dalamnya.
Baca juga: 3 Jenazah Prajurit TNI Tertembak Israel Tiba di Indonesia, MUI: Mereka Syuhada, PBB Harus Bersuara
Dalam hadis yang
diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah bersabda:
ما مِن مَيِّتٍ تُصَلِّي عليه أُمَّةٌ مِنَ المُسلِمينَ يَبلُغونَ مِائةً،
كُلُّهم يَشفَعونَ له، إلَّا شُفِّعوا فيه
Artinya: “Tidaklah seorang mayit yang
dishalati oleh sekelompok kaum muslimin yang jumlahnya mencapai seratus orang,
yang semuanya memohonkan syafaat (permohonan ampun dan anugerah kebaikan) untuknya,
melainkan syafaat mereka itu akan diterima baginya.” (HR Muslim)