Lewati ke konten utama
Senin, 6 Juli 2026 / 20 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Tuntunan Ibadah

Doa saat Berjumpa Malam Lailatul Qadar, Lengkap dengan Artinya

4 menit baca 4.003 dibaca
Doa saat Berjumpa Malam Lailatul Qadar, Lengkap dengan Artinya
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Lailatul Qadar merupakan malam istimewa yang diyakini umat Islam terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana isyarat yang disampaikan oleh Nabi SAW.

Malam yang penuh keberkahan ini disebut dalam Alquran sebagai malam yang lebih baik dan lebih mulia daripada seribu bulan, di mana doa dan amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.

Artinya, amal ibadah yang dilakukan pada malam itu memiliki nilai pahala yang sangat besar, bahkan melebihi ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun. Karenanya, kaum muslimin dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai bentuk ibadah.

Baca juga: Makna Lailatul Qadar, Mengapa Umat Nabi Muhammad Secara Kualitas Lebih Unggul Dibanding Umat Terdahulu?

Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk memperbanyak doa pada malam Lailatul Qadar, terutama memohon ampun kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat hadis berikut:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، مَا أَدْعُو بِهِ؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Artinya: “Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, ia pernah bertanya: Wahai Rasulullah, jika aku kedapatan menjumpai Lailatul Qadar, bagaimana doa yang harus kubaca? Rasulullah SAW lalu menjawab: Bacalah ‘Allahumma innaka ’afuwwun karimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.’” (HR at-Tirmizi)

Hadis ini menunjukkan bahwa memohon ampun kepada Allah merupakan salah satu amalan utama pada malam Lailatul Qadar. Para ulama juga menjelaskan bahwa memperbanyak doa pada malam Lailatul Qadar memiliki kedudukan yang sangat istimewa.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam kitabnya menerangkan bahwa di antara amalan yang dianjurkan pada malam Lailatul Qadar adalah berdoa dengan sungguh-sungguh.

Beliau bahkan mengutip pendapat para kibar at-tabi’in (pembesar kalangan tabi’in) Imam Sufyan ats-Tsauri, yang menyatakan bahwa berdoa pada malam Lailatul Qadar lebih ia sukai daripada mendirikan shalat.

Baca juga: Tanda-tanda Alam Munculnya Lailatul Qadar Menurut Hadits Nabi

Pernyataan demikian maksudnya menegaskan bahwa memperbanyak doa memiliki keutamaan tersendiri pada malam yang penuh keberkahan itu. Terlebih, jika doa tersebut disertai dengan membaca Alquran dan memohon kepada Allah dengan penuh harapan, maka hal itu merupakan amalan yang sangat baik:

وَأَمَّا الْعَمَلُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: الدُّعَاءُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ. قَالَ: وَإِذَا كَانَ يَقْرَأُ وَهُوَ يَدْعُو وَيَرْغَبُ إِلَى اللَّهِ فِي الدُّعَاءِ وَالْمَسْأَلَةِ لَعَلَّهُ يُوَافِقُ. انْتَهَى. وَمُرَادُهُ أَنَّ كَثْرَةَ الدُّعَاءِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ الَّتِي لَا يُكْثِرُ فِيهَا الدُّعَاءَ، وَإِنْ قَرَأَ وَدَعَا كَانَ حَسَنًا

“Adapun amalan pada malam Lailatul Qadar, Sufyan ats-Tsauri berkata: ‘Berdoa pada malam Lailatul Qadar lebih aku sukai daripada shalat.’ Beliau berkata: ‘Jika seseorang membaca Alquran sambil berdoa dan memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka mudah-mudahan ia mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar.’ Yang beliau maksud, adalah bahwa memperbanyak doa lebih utama daripada shalat yang di dalamnya tidak banyak doa. Namun jika seseorang membaca Alquran sekaligus berdoa, maka itu sesuatu yang baik.” (Lathaif al-Ma’arif [Beirut: al-Maktab al-Islami], vol. 1, h. 359)

Sebagaimana hadis yang telah disebutkan di atas, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengajarkan sebuah doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca saat berjumpa Lailatul Qadar.

Doa ini berisi permohonan ampun kepada Allah Yang Maha Pemaaf dan Maha Mulia. Berikut bacaan doa tersebut beserta artinya:

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka ’afuwwun karimun tuhibbul ’afwa fa’fu ’anni

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku/maafkanlah kami.”

Baca juga: Tiga Tingkatan Ibadah untuk Menghidupkan Lailatul Qadar

Dalam redaksi lain yang diriwayatkan oleh lima imam hadis selain Abu Dawud, doa tersebut juga disebutkan dengan redaksi yang sedikit berbeda yakni:

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka afuwwun tuhibbul ’afwa fa’fu ’anni

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku/maafkanlah kami.”

Demikian ini bacaan doa yang dianjurkan untuk dibaca saat kita bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, khususnya di malam-malam akhirnya, berharap meraih Lailatul Qadar.

Doa yang diajarkan Rasulullah SAW tersebut sarat akan makna. Di dalamnya mengandung permohonan seorang hamba yang mengharapkan ampunan atas dosa-dosanya, dan sekaligus juga berharap memperoleh rahmat serta kasih sayang Allah SWT.

Kedua redaksi doa di atas memilki substansi yang sama, karena itu keduanya bisa dibaca dan diamalkan. Maka sudah benar dan tepat sekali ketika doa ini sering kali dibaca setiap selesai melaksanakan shalat Tarawih bersama.

Memang tidak ada yang bisa memastikan kapan terjadinya malam Lailatul Qadar, tapi berdasarkan petunjuk Nabi, kemungkinan besar ia berada di malam-malam sepuluh akhir Ramadhan, khususnya di malam-malam ganjilnya.

Baca juga: Ingin Meraih Lailatul Qadar di Tahun 2026? Begini Petunjuk Para Ulama

Tapi bagaimanapun, malam Lailatul Qadar berada di bulan Ramadhan, sehingga doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW di atas, patut dibaca di sepanjang bulan Ramadhan, khususnnya di momen ‘asyrul awakhir, atau di sepuluh malam terakhir, dan lebih khusus lagi di malam-malam ganjilnya.

Hal itu dianjurkan karena memang Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar membaca doa tersebut ketika berjumpa malam Lailatul Qadar.

Siapa tahu ketika kita membaca doa tersebut di setiap malam bulan Ramadhan, kita dapat meraih keberkahannya, meski secara kasat mata kita tidak tampak berjumpa. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.