Trump Klaim Iran Setuju Tak Memiliki Senjata Nuklir, Negosiasi Damai Berlanjut
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Washington, MUI Digital — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (7/5/2026) lalu, dan menjadi sinyal positif di tengah upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Dikutip MUI Digital dari Daily Sabah (11/5/2026), Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dan menyebut pembicaraan dalam 24 jam terakhir berjalan positif.
“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memilikinya, dan mereka telah menyetujui hal itu, di antara hal-hal lainnya. Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan,” ujar Trump.
Trump juga mengatakan bahwa Teheran telah menyetujui sejumlah poin lain, meski tidak menjelaskan rinciannya.
Namun, pada hari yang sama Trump sempat menyampaikan nada yang lebih pesimistis.
Dalam unggahan di Truth Social, dia mengancam akan melanjutkan kembali operasi pemboman terhadap Iran apabila Teheran tidak menerima proposal terbaru Washington.
Sementara itu, pemerintah Iran memberikan respons yang jauh lebih hati-hati.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghai, meremehkan laporan yang menyebut kesepakatan sudah dekat dan menyebut pemberitaan tersebut terlalu dibesar-besarkan.
Juru bicara lain yang dikutip kantor berita Iranian Students News Agency (ISNA) menyatakan Teheran masih meninjau proposal terbaru Amerika Serikat dan akan menyampaikan respons resminya kepada Pakistan.
Kantor berita semi-resmi Tasnim News Agency, mengutip sumber anonim, melaporkan bahwa proposal Washington masih memuat sejumlah ketentuan yang dianggap tidak dapat diterima Teheran.
Anggota Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, bahkan menyebut proposal tersebut lebih menyerupai daftar keinginan Amerika daripada kenyataan.
Baca juga: AS Resmi Hentikan Operasi Ofensif di Iran, Fokus ke Pertahanan dan Jalur Diplomasi
Kedua negara masih berselisih terkait sejumlah isu utama, termasuk program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz yang sebelum perang menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Sumber dari Pakistan dan pihak yang mengetahui proses mediasi menyebut kedua pihak hampir mencapai kesepakatan atas memorandum satu halaman yang akan secara resmi mengakhiri konflik.
Kesepakatan awal itu nantinya akan membuka pembahasan lanjutan terkait pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS terhadap Iran, serta pembatasan program nuklir Iran.
Sumber tersebut juga menyebut belum jelas sejauh mana memorandum baru itu berbeda dari rencana 14 poin yang diajukan Iran pekan lalu. Hingga kini, Iran juga belum memberikan tanggapan resmi terhadap proposal terbaru Amerika Serikat.
Dalam perkembangan lain, Trump pada Selasa (6/5/2026) menghentikan sementara misi angkatan laut AS yang baru berlangsung dua hari untuk membuka kembali jalur pelayaran yang diblokade di Selat Hormuz. Langkah itu disebut terkait kemajuan dalam pembicaraan damai.
Meski demikian, militer AS dilaporkan tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal Iran di kawasan tersebut.
Baca juga: Kemenangan BJP Perkuat Modi, Tapi Picu Kekhawatiran Demokrasi India
Komando Pusat AS menyatakan pasukannya menembaki sebuah kapal tanker berbendera Iran pada Rabu (7/5/2026) hingga tidak dapat beroperasi setelah kapal itu disebut mencoba berlayar menuju pelabuhan Iran dengan melanggar blokade.
Sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebut pembicaraan dari pihak AS dipimpin utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bersama menantu Trump, Jared Kushner. Jika kesepakatan awal tercapai, kedua negara akan menjalani negosiasi rinci selama 30 hari untuk mencapai kesepakatan penuh.
Kesepakatan tersebut nantinya mencakup penghentian blokade dari kedua pihak di Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta kemungkinan moratorium terhadap pengayaan uranium Iran.
Namun, sejumlah tuntutan utama AS yang sebelumnya ditolak Iran seperti pembatasan program rudal dan penghentian dukungan Teheran kepada kelompok proksi di Timur Tengah tidak disebutkan dalam memorandum awal tersebut.
Sumber-sumber terkait juga tidak menyinggung keberadaan lebih dari 400 kilogram uranium Iran yang telah diperkaya mendekati tingkat senjata nuklir.
Di tengah kabar kemungkinan kesepakatan, harga minyak mentah Brent sempat turun sekitar 11 persen hingga berada di kisaran 98 dolar AS per barel sebelum kembali naik di atas 100 dolar AS.
Optimisme pasar juga mendorong kenaikan harga saham global dan penurunan imbal hasil obligasi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sekutu Trump dalam menghadapi Iran, menegaskan bahwa kedua pemimpin sepakat seluruh uranium yang telah diperkaya harus dipindahkan dari wilayah Iran guna mencegah pengembangan senjata nuklir.
Sementara itu, Teheran tetap membantah tuduhan bahwa mereka tengah mengembangkan bom nuklir.