PBNU Luncurkan Tema dan Logo Hari Santri 2026, Begini Filosofinya
PBNU Luncurkan Tema dan Logo Hari Santri 2026, Begini Filosofinya
Jakarta, MUI Digital — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi meluncurkan tema dan logo Hari Santri 2026. Tahun ini, sebagai penegasan atas peran santri dalam merawat tradisi keilmuan pesantren sekaligus menjaga persatuan Indonesia, PBNU mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”.
Sekretaris Jenderal PBNU, H Gudfan Arif, yang akrab dikenal
Gus Gudfan mengatakan, tema Hari Santri tahun ini membawa pesan bahwa kemajuan
zaman tidak boleh membuat santri tercerabut dari akar keilmuan, adab, dan
tradisi pesantren.
“Santri harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman,
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi jangan pernah kehilangan akar.
Akar kita adalah tradisi keilmuan pesantren, sanad, adab, dan nilai-nilai yang
diwariskan para masyayikh,” katanya.
Menurutnya, akar tradisi yang kuat justru menjadi bekal bagi
santri untuk hadir menjawab berbagai tantangan baru.
“Semakin kuat akarnya, semakin luas pula pengabdiannya. Santri tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat, bangsa, dan negara,” imbuhnya.
Frasa “Menjaga Keutuhan Negeri” menurut Gus Gudfan juga
mengingatkan kembali pada perjalanan panjang kaum santri dalam sejarah Indonesia.
Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga hari ini, pesantren dan kaum santri
memiliki tanggung jawab kebangsaan untuk merawat persaudaraan, menjaga
kebinekaan, dan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Cinta kepada tradisi dan cinta kepada negeri tidak pernah
berseberangan. Dari pesantren kita belajar bahwa menjaga agama harus berjalan
beriringan dengan menjaga persaudaraan dan keutuhan bangsa,” terangnya.
Semangat tersebut juga dituangkan dalam logo Hari Santri
2026 yang menampilkan sejumlah elemen utama, yakni akar, kitab terbuka, kubah,
dan bintang.
Akar melambangkan tradisi dan sanad keilmuan yang kokoh.
Kitab menggambarkan ilmu pengetahuan serta tradisi intelektual pesantren. Kubah
merepresentasikan nilai spiritual dan kehidupan keagamaan, sementara bintang
menggambarkan cita-cita luhur yang menerangi perjalanan santri.
“Kitab mengingatkan bahwa santri tumbuh bersama ilmu. Akar
mengingatkan kita dari mana kita berasal. Kubah menunjukkan landasan spiritual,
sedangkan bintang menjadi simbol cita-cita dan arah pengabdian,” ungkap Gus Gudfan.
Peluncuran tema dan logo Hari Santri 2026 juga menjadi bagian dari momentum baru PBNU setelah diumumkannya susunan Pengurus PBNU Masa Khidmah 2026–2031. Momentum tersebut diharapkan semakin memperkuat konsolidasi organisasi dan pengabdian NU kepada umat, bangsa, dan negara.
Selain itu, ditegaskan pula bahwa Hari Santri tidak boleh
berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum ini harus menjadi penyemangat
untuk terus menghidupkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan masyarakat.
“Tradisi itu bukan sekadar untuk dikenang. Tradisi harus
dihidupkan. Di dalamnya ada ilmu, adab, keteladanan, kepedulian kepada sesama,
dan tanggung jawab menjaga negeri,” kata putra Kiai Abdul Ghofur, Lamongan.
PBNU mengajak seluruh jajaran Nahdlatul Ulama, pesantren,
santri, dan masyarakat untuk menjadikan Hari Santri 2026 sebagai momentum
memperkuat kembali nilai-nilai keilmuan, akhlak, persaudaraan, dan kebangsaan.
Seluruh struktur kepengurusan NU dari tingkat wilayah,
cabang, hingga ranting juga didorong untuk menyosialisasikan tema dan logo Hari
Santri 2026 serta menerjemahkannya dalam berbagai kegiatan yang produktif dan
bermanfaat bagi masyarakat.
“Hari Santri adalah momentum untuk mengingat dari mana kita
berasal sekaligus menentukan ke mana kita akan melangkah. Akarnya tetap
tradisi, tetapi pengabdiannya harus menjangkau seluruh negeri,” pungkas Sekretaris
Jenderal PBNU masa khidmah 2026-2031.