Lewati ke konten utama
Kamis, 1 Oktober 2026 / 19 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
60c829a0-d5df-4a67-ad49-9f8b50da5c09
Berita

Diangkat Sebagai Rais Syuriyah PBNU, Berikut Jejak Pengabdian Prof Asrorun Niam Sholeh

Diangkat Sebagai Rais Syuriyah PBNU, Berikut Jejak Pengabdian Prof Asrorun Niam Sholeh

/ 19 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 57 dibaca

JAKARTA, MUI Digital— Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi mengumumkan pengurus baru masa khidmah 2026–2031. 

Dalam penetapan struktur baru ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh didaulat sebagai Rais Syuriyah PBNU.

Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan PBNU Nomor: 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026 tentang Pengesahan Komposisi dan Personalia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 

Surat keputusan ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 18 Rabi’ul Akhir 1448 H yang bertepatan dengan 30 September 2026 M, dan berlaku hingga 30 September 2031.

Dokumen resmi tersebut ditandatangani oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU Prof Muhammad Nuh, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz, dan Sekretaris Jenderal PBNU H Gudfan Arif.

Penetapan ini menjadi penanda penting dalam perjalanan khidmah Prof Niam di struktur kepengurusan jam’iyyah Nahdlatul Ulama. 

Setelah periode sebelumnya diamanahi posisi sebagai Katib Syuriyah PBNU, akademisi sekaligus ulama ini kini dipercaya naik jenjang sebagai Rais Syuriyah PBNU. 

Dalam struktur kepemimpinan Nahdlatul Ulama, Syuriyah memegang peranan sangat vital sebagai badan tertinggi organisasi yang bertindak sebagai pemegang kebijakan umum, pengarah, sekaligus pengendali arah perjalanan organisasi.

Promosi jabatan ini tidak lepas dari rekam jejak, kapabilitas, serta karakter kepemimpinan Prof Niam yang dikenal luas berpandangan moderat (tawasuth) dan mampu diterima oleh berbagai elemen, baik di internal jam'iyyah maupun secara nasional.

Dalam lanskap dinamika organisasi yang kerap dinamis, sosoknya dinilai senantiasa mengedepankan pertimbangan objektif dan mengutamakan maslahat keumatan serta kebangsaan.

Kematangan dalam memimpin dan kemampuan mengelola dinamika organisasi tersebut dibuktikan lewat berbagai momentum krusial NU. 

Pada Muktamar ke-34 NU yang berlangsung di Lampung,  Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini dipercaya memegang peran strategis sebagai Pimpinan Sidang Muktamar. 

Kepercayaan tinggi dari jamaah dan pengurus kembali terulang pada arena Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, di mana Prof Niam kembali didaulat untuk memimpin jalannya permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut.

Rekam jejak kepemimpinan Prof Niam di lingkungan NU merupakan sebuah proses pengabdian yang panjang dan berjenjang. 

Kiprahnya dimulai dari badan otonom kepemudaan saat ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Pengabdian tersebut terus berlanjut di wadah alumni dengan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Majelis Alumni IPNU, sebelum akhirnya dipercaya menakhodai organisasi tersebut sebagai Ketua Umum Majelis Alumni IPNU.

Pengalaman berorganisasi dari tingkat basis pemuda hingga alumni menjadi fondasi kokoh saat ia melangkah ke kepengurusan pusat PBNU. 

Kepercayaan organisasi padanya teruji lewat amanah sebagai Katib Syuriyah PBNU selama dua periode berturut-turut, hingga akhirnya kini resmi dikukuhkan sebagai Rais Syuriyah PBNU untuk periode 2026–2031.

Penetapan ini diharapkan semakin memperkuat peran Syuriyah PBNU dalam menjaga garis perjuangan ulama serta merespons berbagai tantangan keagamaan dan kebangsaan di masa depan. 

BAGIKAN: