Lewati ke konten utama
Kamis, 22 Oktober 2026 / 11 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah Jumat: Jihad Santri Jayakan Negeri
Ilustrasi para santriwati menunjukkan ekspresi kecintaan mereka terhadap Indonesia. Foto: Pinterest
Khutbah

Khutbah Jumat: Jihad Santri Jayakan Negeri

Khutbah Jumat: Jihad Santri Jayakan Negeri

/ 11 Jumadil Awal 1448 H 5 menit baca 196 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Admin Admin Editor: Admin

Oleh: KH A Roghob Alfatiry, Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Kota Tangerang

Khutbah I

الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِينَ، القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ: (وَمَا كَانَ المُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ).

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah,

Melalui mimbar ini khatib berwasiat kepada kita semua, marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan kesungguhan melakukan hal itu, mudah-mudahan kita menjadi hamba Allah yang beruntung di dunia dan akhirat.

Sidang Jumat Rahimakumullah,

Dengan ketakwaan yang benar, kita bisa menjaga kedamaian dan persatuan di dalam kehidupan masyarakat yang majemuk ini.  Dengan takwa, semoga kita senantiasa diberikan jalan keluar dari berbagai persoalan yang kita hadapi. Allah berfirman dalam surat Ath-Thalaq ayat 2 dan 3:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“…. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang dia tidak duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq:  2-3)

Ma’asyiral Musilimin yang Berbahagia,

Tak terasa, momentum besar telah tiba kemarin, yakni bahwa setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap peran santri dalam memperjuangkan kemerdekaan negara dan bangsa Indonesia dari penjajah melalui berbagai peran dan kontribusi penting, termasuk Resolusi Jihad yang digagas oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Hadirin, Sidang Jumat Rahimakumullah,

Bahwa perjuangan kiai yang harus dilanjutkan oleh santri adalah perjuangan untuk membela agama dan bangsa. Ketika zaman dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata melawan penjajah melalui  resolusi jihad, maka santri saat ini juga tidak boleh berpangku tangan. Dalam konteks hari ini, santri bisa berjuang dengan mengangkat pena dan segala fasilitas penyebaran ilmu secara modern dan melek teknologi untuk melawan kebodohan dan keterbelakangan bangsa dan negara ini.

Penetapan Hari Santri yang kita peringati setiap tahun merupakan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Keputusan tersebut patut diapresiasi dan terus digaungkan pentingnya pengakuan itu.

Hari Santri merupakan sebuah pengakuan atas supremasi perjuangan para santri dan ulama pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, saat itu Belanda membonceng tentara Sekutu (Inggris) untuk kembali menduduki Indonesia dalam Agresi Militer Belanda II, pasca kekalahan Jepang oleh Sekutu, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Lalu, pada akhirnya tercetuslah Resolusi Jihad yang diinisiasi oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945.

Fakta sejarah itu menunjukkan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah akhir perjuangan. Justru perjuangan semakin tidak mudah ketika bangsa Indonesia harus menegakkan kemerdekaan karena upaya kolonialisme masih tetap ada. Dan ulama pesantren sudah melakukan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi perang senjata saat Jepang menyerah kepada Sekutu.

Sidang Jumat Rahimakumullah,

Tantangan tak kalah berat ada di era modern ini, dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat. Penggunaan medsos yang tanpa batas waktu, berimbas pada tidak sedikit penggunaannya banyak unsur-unsur negatif seperti tindak kriminal, penyimpangan dan pelanggaran moral, serta banyak sekali berita-berita yang memiliki dampak kepada perubahan perilaku sosial secara masif.

Dalam mengatasi berbagai hal tersebut, salah satu hal yang sangat dibutuhkan adalah konsistensi peran santri. Hal ini sejalan dengan makna yang terkandung dalam firman Allah, surat At-Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?” (QS. At-Taubah: 122)

Perjuangan bukan hanya dilakukan dengan berperang secara fisik, melainkan juga bisa dilakukan secara keilmuan. Kemerdekaan dan kebebasan yang didapatkan masyarakat bukan sekadar kebebasan dari penjajah dalam bentuk fisik-jasmani dalam arti hanya manusianya, tetapi juga kebebasan dari segala bentuk kebodohan yang membuat sebuah bangsa semakin mundur dan hancur.

Kemunduran bangsa akan terjadi apabila terjadi kemunduran akhlak serta moral. Maka, para santri harus mengambil peran yang signifikan dalam hal ini. Kecakapan dalam berbagai ilmu dan keluhuran akhlak yang diteladani dari para kiai harus dipraktikkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, santri tidak boleh berdiam diri.

Sidang Jumat Rahimakumullah,

Tugas perjuangan santri di masa depan adalah “berjihad” menyampaikan ilmu yang didapatkannya kepada masyarakat luas untuk memerangi kebodohan masyarakat dan penyesatan ideologi keagamaan.

Jika tentara membekali dirinya dengan kemampuan berperang dan menggunakan senjata, maka santri harus membekali diri dengan kompetensi ilmu agama dari para guru, para kiai.

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsir Al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj, juz II, halaman 79, mengungkapkan hal ini:

يَجِبُ أَنْ يَكُونَ الْمَقْصُودُ مِنَ التَّفَقُّهِ وَالتَّعَلُّمِ دَعْوَةَ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ، وَإِرْشَادَهُمْ إِلَى الدِّينِ الْقَوِيمِ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ         

“Maksud dari memahami dan mempelajari ilmu agama harusnya adalah mengajak masyarakat kepada kebenaran dan membimbing mereka kepada agama yang lurus dan ajaran yang benar.”

Hadirin, Sidang Jumat Rahimakumullah,

Tanggung jawab santri saat ini adalah memanfaatkan waktunya untuk mengenyam pendidikan, menuntut ilmu dari para guru, para kiai. Tidak lain, hal ini disiapkan untuk menjadi penerus perjuangan para kiai di masa depan.

Terkait hal itu, menarik menyimak sabda Nabi SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dalam kitab Musnad ad-Darimi atau yang dikenal dengan nama Sunan ad-Darimi, juz I, halaman 308.

أَنَّهُ قَالَ: خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ، قَالُوا: وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللّٰهِ وَفِينَا كِتَابُ اللّٰهِ؟! قَالَ: فَغَضِبَ، ثُمَّ قَالَ:  ثَكِلَتْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ! أَوَلَمْ تَكُنِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمْ شَيْئًا؟! إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ، إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ        

“Bahwasanya Nabi bersabda: ‘Ambillah ilmu sebelum pergi/hilang.’ Para sahabat bertanya: ‘Bagaimana ilmu bisa pergi, wahai Nabi, sedangkan Alquran masih bersama kami?’ Nabi bersabda: ‘Celakalah kalian, bukankah Taurat dan Injil masih ada bersama Bani Israil, tetapi tidak bermanfaat untuk mereka? Sesungguhnya perginya ilmu itu dengan cara meninggalnya para ulama. Sesungguhnya perginya ilmu itu dengan cara meninggalnya para ulama.”

Dalam hadis ini tersirat jelas betapa pentingnya regenerasi keilmuan. Santri harus melanjutkan tradisi keilmuan para kiai, sehingga ketika ditinggal wafat, setiap santri sudah siap menjadi penerusnya. Hal ini harus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga masyarakat tidak kehilangan arah sebab adanya generasi-generasi yang telah disiapkan untuk menyampaikan ilmu dan menunjukkan arah kebenaran.

Hadirin, Sidang Jumat Rahimakumullah,

Dalam memperingati Hari Santri Nasional, tidak cukup hanya melakukan seremoni untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan para kiai dan santri di masa lalu. Hal itu perlu, tetapi yang lebih penting adalah dengan melanjutkan perjuangan dan pengorbanan mereka dalam menegakkan, memuliakan, dan meninggikan Islam dan kejayaannya. Begitu juga menyangkut kejayaan bangsa Indonesia. Sebab, kita adalah umat Islam yang terlahir dan hidup di Tanah Air Indonesia ini. Sehingga setiap dari kita tidak boleh abai terhadap kondisi bangsa dan negara kita, Indonesia.

Semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan dan kejayaan untuk seluruh bangsa Indonesia dengan berkah perjuangan dan pengorbanan santri dan kiai. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads