Lewati ke konten utama
Jumat, 10 Juli 2026 / 24 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Disebut Ingin Gabung Israel, Komunitas Kristen Lebanon Bantah Keras

3 menit baca 68 dibaca
Front Lebanon dalam Pusaran Perundingan AS-Iran
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital – Beberapa waktu lalu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu Kembali menjadi sorotan publik. 

Pasalnya Netanyahu mengungkapkan kepada media Fox News bahwa sejumlah desa Kristen di Lebanon selatan meminta untuk dianeksasi oleh Israel. 

"Desa-desa Kristen di Lebanon, beberapa di antaranya benar-benar telah meminta untuk dianeksasi ke Israel karena kami melindungi mereka dari Hizbullah, para fanatik Hizbullah yang ingin membunuh mereka. Kami juga melakukan hal yang sama terhadap komunitas Kristen di mana pun," kata Netanyahu kepada Fox News, dikutip Jumat (10/7/2026).

Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah secara tegas oleh komunitas Kristen setempat, yang menegaskan bahwa mereka tidak pernah mengajukan permintaan tersebut dan tetap berkomitmen kepada negara Lebanon dan Lembaga-lembaga resminya.

Wali Kota Rmeish, Hanna al-Amil, membantah dengan tegas tuduhan dari Netanyahu. Mengutip kantor berita resmi Lebanon, NNA, al-Amil justru menyatakan bahwa gagasan mengenai aneksasi tersebut sama sekali tidak dapat diterima.

Baca juga: Hancurnya Rumah dan Mimpi Warga Lebanon Korban Serangan Brutal Israel

Dengan tegas  Al-Amil mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak pernah mempertimbangkan gagasan tersebut, apalagi untuk mengungkapkannya kepada Netanyahu.

"Benar-benar tidak mungkin dilakukan. Bahkan 15 kota Kristen telah mengeluarkan pernyataan dua hari lalu yang membantah tuduhan tersebut," ujar Al-Amin, dikutip dari Saudi Gazette.

Diketahui, sejumlah desa Kristen di kawasan Marjeyoun, Lebanon selatan, juga telah membantah laporan media yang menyebut mereka menginginkan aneksasi oleh Israel.

Dalam pernyataan bersama, mereka menegaskan bahwa mereka "tidak memiliki kewenangan maupun hak hukum" untuk mengambil keputusan sebesar itu.

Selain itu, desa-desa tersebut kembali menyampaikan komitmen mereka untuk tetap tinggal di wilayah mereka sendiri, sekaligus menegaskan "kesetiaan terhadap identitas nasional" serta "keterikatan mereka pada bendera Lebanon."

Sejak pecahnya perang, berbagai desa Kristen di Lebanon selatan menjadi sasaran tembakan artileri dan serangan udara Israel. 

Baca juga: Netanyahu Sebut Israel akan Tetap Caplok Wilayah yang Diduduki di Lebanon dan Suriah

Konflik tersebut juga menyebabkan kerusakan infrastruktur serta memaksa sebagian warga mengungsi.

Walaupun Israel mengeluarkan perintah evakuasi, mayoritas desa masih tetap dihuni. Banyak penduduk memilih bertahan demi menjaga rumah, gereja, dan lahan pertanian mereka, meski beberapa desa pada akhirnya mengalami evakuasi sebagian maupun secara menyeluruh.

Di tengah konflik tersebut, militer Israel juga menghubungi sejumlah wali kota dan pejabat di desa-desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen melalui sambungan telepon. 

Dalam peringatan itu, mereka diminta agar tidak mengizinkan "orang asing" memasuki wilayah mereka, yang dimaksud adalah para pejuang Hizbullah.

Dalam pidatonya pada Ahad (5/7/ 2026) di sebuah sebuah acara kenegaraan, Netanyahu kembali menegaskan bahwa militer Israel akan mempertahankan kehadirannya di Lebanon selatan selama diperlukan demi melindungi penduduk wilayah utara dan seluruh warga Israel.

Pada hari yang sama, Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir juga meninjau pasukan yang ditempatkan di sekitar Kastel Beaufort, Lebanon selatan.

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa militer akan terus bertindak secara tegas untuk menghilangkan ancaman dari wilayah Lebanon

Hingga kini, bentrokan antara pasukan Israel dan pejuang Hizbullah masih terus berlangsung meskipun Israel dan Lebanon telah mencapai kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat sebagai upaya menuju penghentian permusuhan secara permanen.