IDULADHA: TELADAN NABI IBRAHIM DALAM KEYAKINAN, KETAATAN DAN KEADABAN SEBAGAI WUJUD PENGHAMBAAN KEPADA ALLAH Oleh IRVAN MANGUNSONG, M.Pd Anggota Komisi Penelitian MUI SU; Alumni PTKU MUI SU
Administrator
Penulis
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلهِ كثيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرْ
اللَّهُ أَكْبَرْ وَ لِلَّهِ اْلحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ, اَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ ٣
وَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّي اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Hadirin Jamaah Salat Iduladha Rahimakumullah!
Marilah kita senantiasa bersyukur dan memuji Allah atas semua pemberian-Nya kepada kita; dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw., “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad”. Semoga pujian kita kepada Allah dan salawat kita kepada Rasulullah, menjadikan kita, hamba yang selamat dan bahagia dunia-akhirat.
Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Hadirin yang Berbahagia!
Masih terngiang di telinga kita, lantunan takbir di hari yang fitri. Dan kini, kita kembali melantunkan takbir itu, untuk membesarkan dan mengagungkan Allah, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar; yang menjadi pertanda, bahwa beginilah hidup ini, amat cepat waktu itu berlalu.
Kemarin, kita duduk bersama orang-orang yang kita sayangi, kita cintai, dan kita kasihi; ayah, ibu, anak, suami, istri, saudara, sahabat, atau tetangga kita. Namun saat ini, mereka telah tiada, mereka telah dulu meninggalkan kita. Namun begitulah hidup, “setiap yang bernyawa pasti akan mati”, dan “apabila telah datang ajal itu, tak bisa dimajukan dan tak bisa pula dimundurkan”. Pada hakikatnya, kita semua memang sudah divonis mati, dan hanya menanti bila kematian itu tiba, tanpa sebuah permisi. Untuk itu, jadikanlah hidup ini benar-benar hanya untuk menghambakan diri kepada Allah, karena saatnya kelak, kita akan kembali kepada Allah.
Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Hadirin yang Berbahagia!
Dalam momen ini, kita mungkin telah banyak mendengar, penjelasan dari para ulama dan guru-guru kita, tentang ibadah kurban dan berbagai keutamaannya, tentang sejarah ibadah kurban, serta perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya. Itu semua merupakan hal yang memang harus kita tahu. Akan tetapi, ada hal yang amat penting untuk kita jadikan teladan, yaitu tentang keteladanan Nabi Ibrahim dalam keyakinan (akidah), ketaatan (syariah) dan keadaban (akhlak), yang semuanya merupakan wujud penghambaan diri kepada Allah swt. Inilah poin penting yang akan disampaikan dalam khutbah ini.
Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Hadirin yang Berbahagia!
Pertama, Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Keyakinan
Keyakinan Nabi Ibrahim tidak tumbuh begitu saja, namun dengan perjuangan melakukan pencarian. Al-Qur’an merekam dengan jelas, bagaimana Nabi Ibrahim dilanda kegundahan dan kebingungan; tentang siapakah Tuhan yang harus benar-benar diyakini dan disembah.
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ ٧٦ فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ ٧٧ فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ ٧٨
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (Q.S. al-An’ām/6: 76-78).
Ketika pencarian yang begitu panjang, pada akhirnya Nabi Ibrahim menemukan, bahwa Allah adalah Tuhan yang benar-benar harus diyakini dan disembah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ ٧٩
Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik (Q.S. al-An’ām/6: 76-78).
Ketika Nabi Ibrahim meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang harus diyakini, maka keyakinan itu pun murni hanya untuk Allah, sehingga beliau menolak segala bentuk penghambaan kecuali hanya kepada Allah. Itulah yang membuatnya murka dan marah, ketika kaumnya menyekutukan Allah dengan berhala-berhala.
Ketika beliau sudah benar-benar meyakini bahwa hanya Allah-lah satu-satunya zat yang disembah, beliau kemudian istikamah dalam keyakinan, sekalipun taruhannya adalah nyawa. Beliau tidak takut dan gentar, ketika kaumnya yang inkar membakarnya. Atas izin Allah, api yang harusnya membakar, namun tidak dapat membakar Nabi Ibrahim, karena Allah berfirman:
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ ٦٩
Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (Q.S. al-Anbiyā`/21: 69).
Dari keteladanan Nabi Ibrahim tentang keyakinannya kepada Allah, ada beberapa pelajaran penting untuk kita:
Pertama, menumbuhkan iman dengan pencarian dan pemikiran. Nabi Ibrahim mengajarkan kita saat ini, bahwa keyakinan kita kepada Allah, jangan hanya sekedar ikut-ikutan, tapi memang punya dasar yang kuat, dengan mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Allah, pelajari ilmu tauhid dan sifat-sifat Allah.
Kedua, memurnikan tauhid hanya kepada Allah. Nabi Ibrahim mengajarkan kita, bahwa tidak ada sesuatu apapun yang kita sembah kecuali Allah, tidak ada harapan apapun kecuali harapan pada Allah, dan tujuan hidup kita hanya untuk Allah saja.
Ketiga, berani meninggalkan dan menolak kesyirikan. Nabi Ibrahim tidak hanya meyakini, namun juga secara total berlepas diri dari segala bentuk penyekutuan terhadap Allah. Atas dasar itu, kita wajib menjauhi segala kesyirikan, baik yang nyata maupun tersembunyi seperti riya.
Keempat, istikamah dalam keimanan meskipun diuji. Nabi Ibrahim tetap istikamah dan mempertahankan keimanannya, sekalipun beliau diancam dan dibakar. Ini mengajarkan kita, bahwa iman harus dijaga dengan kesabaran dan keteguhan, agar tidak mudah mudah goyah oleh ujian kehidupan.
Kelima, tawakal dan yakin kepada pertolongan Allah. Keyakinan Nabi Ibrahim yang begitu kuat kepada Allah, membuat tawakal, memasrahkan semua hidupnya kepada Allah. Atas kekuatan imannya, api yang harusnya membakar, namun tak bisa membakarnya. Atas dasar itu, kita harus menyakini, bahwa Allah akan senantiasa menjaga dan menolong orang-orang yang benar-benar yakin kepada-Nya.
Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Hadirin yang Berbahagia!
Kedua, Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Ketaatan
Bukti bahwa keyakinan kepada Allah itu benar-benar nyata, adalah ketaatan seorang hamba dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam ketaatan kepada Allah, Nabi Ibrahim tak lagi diragukan. Beliau benar-benar menjalankan ketaatan kepada Allah, tanpa memikirkan untung atau rugi dirinya, baik atau buruk untuknya; semua dijalankan dengan sami’na wa atha’na, dan keyakinan bahwa apapun yang diperintahkan Allah untuknya adalah yang terbaik untuk dirinya.
Ada banyak ketaatan yang dilakukan Nabi Ibrahim dengan penuh kepatuhan tanpa memikirkan resiko yang dialaminya, salah satunya ialah ketika Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya. Ketika Nabi Ibrahim tahu bahwa perintah itu benar dari Allah, maka beliau mentaati perintah Allah, sekalipun menyembelih anak yang selama ini dirindukan kehadirannya. Tentang ini disebutkan dalam Al-Qur’an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢
Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar” (Q.S. al-Shaffāt/37: 102).
فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ١٠٦ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ١٠٧
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (Q.S. al-Shaffāt/37: 103-107).
Dari kisah ini, terlihatlah dengan jelas, bahwa Nabi Ibrahim begitu taat kepada Allah. Ketika tahu bahwa perintah itu dari Allah, tanpa berpikir dan bertanya-tanya, mengapa dan mengapa? Beliau langsung menjalankan perintah itu, sekalipun harus mengorbankan anak yang amat disayanginya.
Nabi Ibrahim tidak pernah berpikir, bahwa ini hanya ujian kepadanya, dan Allah tak akan mungkin membiarkannya menyembelih anaknya sendiri. Beliau tidak pernah berpikir akan seperti itu endingnya. Beliau hanya berpikir ini perintah Allah, maka apapun perintah Allah, harus ditaati.
Keteladan ini mengajarkan kita, bahwa ketaatan yang sesungguhnya ialah ketika melakukan semuanya hanya untuk Allah dan rela mengorbankan apapun yang kita sayangi dan cintai hanya demi Allah.
Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Hadirin yang Berbahagia!
Ketiga, Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Keadaban
Semua yang terjadi dalam kehidupan ini adalah atas izin Allah. Baik sesuatu yang baik ataupun sesuatu yang buruk; semuanya atas izin Allah. Inilah keyakinan yang wajib diyakini oleh orang beriman, termasuk Nabi Ibrahim meyakini hal tersebut. Karena semua nabi dan rasul, dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, memiliki keyakinan demikian. Al-Qur’an secara tegas menyebutkan:
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ ٢٢
Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah (Q.S. al-Ḥadīd/57: 22).
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ١١
Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Q.S. al-Taghābun/64: 11).
Memang semua kejadian yang terjadi; baik kejadian yang baik ataupun kejadian yang buruk; itu semua atas izin Allah. Akan tetapi, ada seuatu yang Allah izinkan dan Allah meridainya, namun ada pula sesuatu yang Allah izinkan, tetapi Allah tidak meridai-Nya. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita adab tertinggi kepada Allah, sebagaimana ungkapan beliau yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ ۙ ٧٨ وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ ۙ ٧٩ وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ ٨٠
(Yaitu) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan Yang memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku (Q.S. al-Syu’arā`/26: 78-80).
Nabi Ibrahim tahu betul; bahwa semua yang terjadi atas izin Allah. Namun ungkapan beliau memberikan pelajaran berharga kepada kita, bahwa adab kepada Allah adalah prioritas yang harus kita lakukan.
Dalam ungkapan Nabi Ibrahim, segala sesuatu kebaikan seperti menciptakan, memberi hidayah, memberi makan, memberi minum dan memberi kesembuhan, semuanya disandarkan kepada Allah. Sebaliknya, untuk sesuatu yang tidak disukai, seperti suatu penyakit, tidak disandarkannya kepada Allah, namun disandarkan kepada dirinya, padahal hakikatnya, sakit itu juga atas izin Allah. Itulah mengapa beliau katakan “wa idzā maridhtu” (apabila aku sakit), bukan dengan kata “wa idzā amradhani Rabbī (apabila Tuhan memberikan penyakit kepadaku).
Pelajaran berharga bagi kita dari keteladan adab Nabi Ibrahim ialah “selalu berbaik sangka kepada Allah (bahwa semua yang diberikan Allah adalah yang terbaik untuk kita), dan selalu rendah diri di hadapan Allah (bahwa kekurangan dan kelemahan ada pada diri kita, sedangkan segala kekuatan dan kebaikan ada pada Allah)”.
Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Hadirin yang Berbahagia!
Keteladanan Nabi Ibrahim dalam keyakinan, ketaatan, dan keadaban pada hakikatnya adalah wujud penghambaannya yang total kepada Allah. Dari beliau, kita diajarkan bahwa jalan hidup seorang hamba dimulai dari tauhid yang murni, yaitu keyakinan bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah.
Keyakinan itu harus pula dibuktikan, dengan ketaatan yang nyata, yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah tanpa syarat, tanpa ragu, dan tanpa menunda. Kemudian, keyakinan dan ketaatan kita kepada Allah, harus disempurnakan dengan adab kepada Allah, yaitu senantiasa bersangka baik pada Allah dan merendahkan diri serendah-rendahnya hanya kepada Allah.
Semua ini adalah wujud penghambaan kita kepada Allah dan memang kita diciptakan untuk itu, yakni untuk mengabdi kepada Allah. Kita pun telah berjanji dalam setiap salat kita, bahwa semua kehidupan kita hanya untuk Allah:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٦٢
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam (Q.S. al-An’ām/6: 162).
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ, وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
للَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ !إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.