Sekjen MUI Dorong Dai Kampanyekan Pola Hidup Sehat dan Kurangi Kebiasaan Merokok
Sekjen MUI Dorong Dai Kampanyekan Pola Hidup Sehat dan Kurangi Kebiasaan Merokok
MAKASSAR — Sekretaris Jenderal MUI Pusat Dr.H.Amirsyah Tambunan,MA menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik, mental, spiritual, serta pola makan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu disampaikan saat menjadi pemateri pada kegiatan Transformasi Awareness dan Sinergi Bersama Insan Dakwah JKN (Tasbih JKN) di Hyatt Place Makassar, Rabu (23/9/2026).
Buya Amirsyah Tambunan yang juga selaku Dewan Syariah BPJS Kesehatan mengungkapkan kondisi kejiwaan seseorang dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Ia menceritakan pengalamannya ketika seorang dokter mempertanyakan kadar gula darah yang mencapai angka 300.
“Bapak makan apa ini kok gula Anda sampai 300?” kata Buya Amirsyah menirukan pertanyaan dokter.
Menurutnya, pasien tersebut mengaku tidak mengonsumsi makanan tertentu yang berlebihan. Namun, ia kemudian mengungkapkan sedang mengalami stres dan sering marah-marah.
“Artinya apa? Pengaruh dari jiwa kita itu sangat memengaruhi kesehatan kita,” ujarnya.
Buya Amirsyah mengatakan, menjaga ketenangan jiwa memang tidak mudah. Namun, Al-Qur’an memberikan petunjuk bahwa ketenangan hati dapat diperoleh dengan mengingat Allah.
Ia mengutip firman Allah dalam QS Ar-Ra’d ayat 28, “Ala bi dzikrillahi tathma’innul qulub”, yang bermakna bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Karena itu, ia mendorong para dai untuk menghidupkan kembali kebiasaan membaca Al-Qur’an di tengah masyarakat, khususnya setelah salat Magrib.
“Kita sekarang di Indonesia, kebiasaan kita ini berkurang membaca Al-Qur’an. Coba lihat di rumah-rumah kita, habis Magrib itu ada suara baca Al-Qur’an tidak? Jarang terlihat. Yang ada suara TV,” katanya.
Menurutnya, Al-Qur’an bukan hanya menjadi pedoman kehidupan spiritual, tetapi juga disebut sebagai syifa’ atau obat bagi orang beriman.
Ia mengutip QS Yunus ayat 57 yang menyebut Al-Qur’an sebagai pelajaran, obat bagi penyakit yang terdapat dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.
Selain menjaga spiritualitas, Buya Amirsyah mengingatkan pentingnya mengatur pola makan. Ia menekankan prinsip halalan tayyiban, yakni makanan yang halal sekaligus baik bagi kesehatan.
“Memang makanan itu baik, tapi jangan makan berlebihan. Itu akan merusak,” tegasnya.
Ia mencontohkan konsumsi gula. Gula merupakan makanan yang halal, tetapi bagi penderita diabetes, konsumsi gula secara berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Karena itu, menurutnya, menjaga keseimbangan menjadi bagian penting dalam pola hidup sehat.
Buya Amirsyah juga mengingatkan bahaya perilaku mubazir dalam konsumsi makanan. Ia meminta para dai ikut menyampaikan pentingnya menghindari pemborosan makanan dalam kehidupan masyarakat.
“Kalau pola hidup makanan diatur, pola istirahat diatur, spiritualnya diatur dengan baik, insyaallah kita akan sehat,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti kebiasaan merokok yang dinilainya perlu mendapat perhatian serius. Ia mengajak masyarakat, khususnya para dai dan ulama, untuk meninggalkan kebiasaan tersebut demi menjaga kesehatan.
Ia menyebut persoalan rokok telah menjadi pembahasan panjang dalam khazanah fatwa MUI, termasuk perbedaan pandangan antara haram dan makruh.
Buya Amirsyah juga mendorong adanya penelitian dan kebijakan yang dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap industri rokok, termasuk mencari alternatif pemanfaatan tembakau.
Menurutnya, menjaga kesehatan masyarakat tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berhubungan dengan keberlanjutan pembiayaan kesehatan nasional.
“Kalau kita umat Islam sehat, insyaallah negara kuat. Kalau kita sehat, BPJS juga sehat,” ujarnya.
Ia berharap para dai dapat menjadi teladan sekaligus menyampaikan pesan hidup sehat kepada masyarakat melalui dakwah.
“Kalau ulama sehat, mubalig sehat, bagaimana umatnya? Kira-kira sehat tidak?” tanyanya kepada peserta yang kemudian menjawab, “Sehat.”
Irfan Suba Raya