Lewati ke konten utama
Rabu, 7 Oktober 2026 / 25 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Riwayat Mahkota Pertama
Sumatera Selatan

Riwayat Mahkota Pertama

Riwayat Mahkota Pertama

/ 24 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca

 

Oleh : Lukman Hakim Husnan

Dua ratus kali sabetan palu besi menghantam tempurung kepala sang penguasa setiap harinya. Bukan sebagai hukuman mati di alun-alun, melainkan sebagai satu-satunya obat penenang yang dimohonkan sendiri oleh sang raja. Di aula istana Babil yang megah, mahkota bertahtakan zamrud tergeletak berdebu di lantai marmer pun sama sekali tak berdaya menyelamatkan pemiliknya dari dengungan nyamuk kerdil yang bersarang di balik lipatan otak.

Laku tragis ini terekam dalam memori sejarah sebagai muara paling mengenaskan dari riwayat manusia pertama yang memberanikan diri memahkotai kepalanya sendiri. Siapa dia? Orang pertama dalam peradaban manusia yang merintis syahwat kekuasaan dengan mengenakan perhiasan kepala sebagai simbol penguasaan atas sesama?

Khazanah turats mencatat nama Namrud bin Kan’ān. Sebagaimana dituturkan oleh Imam Al-Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil (jilid 1, h. 316), Namrud bukan hanya manusia pertama yang menaruh mahkota di atas kepalanya (awwalu man waḍa’a at-tāj), melainkan juga figur pertama yang memancangkan kediktatoran di panggung bumi (awwalu man tajabbara fī al-arḍ). Al-Samarqandi dalam Bahr al-‘Ulum (jilid 1, h. 248) menambah catatan penting bahwa sebelum dinasti Babil berdiri, komunitas manusia hidup dalam kesetaraan yang lurus, hingga kelimpahan kekuasaan (al-mulk) membutakan mata batin Namrud dan melahirkan watak tiran (thughyān).

Ketika watak otoriter itu berhadapan dengan keteguhan paham tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, timbul perdebatan teologis yang diabadikan Al-Qur’an pada Surat Al-Baqarah ayat 258. Al-Shawkani dalam Fatḥ al-Qadīr (jilid 1, h. 258) menerangkan bahwa frasa an ātāhullāhu al-mulk memberi isyarat betapa karunia takhta yang melimpah justru menimbun rasa takabur dalam dadanya. Saat Ibrahim menyatakan bahwa Tuhannya adalah Dzat yang menciptakan kehidupan dan kematian, Namrud merespons dengan logika yang sangat dangkal. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas yang dikutip Al-Wahidi dalam Al-Wasit fi Tafsir al-Qur’an al-Majid (jilid 1, h. 371), Namrud memanggil dua orang terpidana; satu dimaafkan dan satu dieksekusi, lalu bersumpah bahwa dirinya pun sanggup “menghidupkan dan mematikan”. Sebuah bentuk pemutarbalikan fakta yang menyamakan hak vonis hakim dengan daya cipta kehidupan.

Melihat kelonggaran nalar sang raja, Ibrahim tidak terjebak dalam perdebatan tak berujung. Ia menggeser fokus pada bukti kosmologis yang tak bisa dimanipulasi: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat!”. Seketika itu juga Namrud bungkam dan terperangah (fabuhita al-ladzī kafara).

Namun, bukannya tunduk pada kebenaran, keangkuhan politik Babil justru berlanjut pada eksperimen yang tak masuk akal. Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (jilid 3, h. 284), juga Ismail Haqqi dalam Ruh al-Bayan (jilid 4, h. 436), mengisahkan bagaimana Namrud mendirikan menara raksasa Babil berketinggian ribuan hasta untuk menembus langit. Ketika menara itu runtuh dihantam angin dahsyat, ia melatih empat ekor burung elang raksasa yang diikatkan pada peti kayu demi mengangkut tubuhnya terbang melepas anak panah ke angkasa.

Bagi Sang Pencipta semesta, menghancurkan mahkota sekelas Namrud tidak membutuhkan legiun malaikat berpakaian zirah atau badai api yang melumat kota. Sebagaimana dicatat oleh Abd al-Razzaq dalam Tafsir ‘Abd al-Razzaq (jilid 1, h. 367) serta Ibn al-Jauzi dalam Zad al-Masir (jilid 1, h. 258), Allah hanya melepas kawanan nyamuk (ba’ūdhah) yang menyerbu bala tentara Babil hingga melumat habis kekuatan mereka.

Dan untuk sang tiran yang mengaku sebagai tuhan, seekor nyamuk kerdil disusupkan masuk melalui lubang hidung menuju rongga otaknya. Selama empat ratus tahun—durasi yang persis sama dengan lama masa bertahtanya—penderitaan Namrud hanya bisa diringankan apabila kepalanya dihantam dengan martil besi. Orang yang paling bernilai di matanya bukanlah para menteri atau panglima perang, melainkan hamba sahaya yang sanggup memukul tempurung kepalanya paling keras.

Ibn ‘Asyur dalam Al-Tahrir wa-l-Tanwir (jilid 20, h. 106) mengurai bahwa narasi riwayat mahkota pertama ini ditaruh dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran yang abadi. Kekuasaan politik di bumi sejatinya hanyalah titipan yang sangat rapuh. Ketika para pemangku jabatan hari ini sibuk bersolek dengan simbol-simbol kekuasaan, memoles trah politik, serta mengabaikan jerit keadilan masyarakat, mereka sejatinya sedang mengulang ilusi konyol yang pernah diperagakan di tanah Babil. Di hadapan Mālik al-Mulk, seluruh kemegahan takhta dan mahkota terbuat dari emas itu sanggup dirobohkan hanya oleh seekor serangga kecil yang tak kasat mata.

Wallahu a’lam bis shawab.

04 Oktober 2026

 

 

BAGIKAN: