Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Tuntunan Ibadah

Tuntunan Khutbah Idul Fitri untuk Khatib, Lengkap dan Praktis

4 menit baca 5.243 dibaca
Tuntunan Khutbah Idul Fitri untuk Khatib
Foto: commons.wikimedia.org/Ganjarmustika1904
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Khutbah Idul Fitri merupakan bagian penting dalam rangkaian ibadah hari raya. Secara umum, pelaksanaannya memiliki kesamaan dengan khutbah Jumat, baik dari sisi rukun maupun susunannya. Namun, terdapat perbedaan mendasar, yaitu khutbah ‘Id dilaksanakan usai shalat ‘Id, bukan sebelumnya sebagaimana khutbah Jumat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat hadis yang berbunyi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: شَهِدْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Artinya: “Dari Ibn Abbas, beliau berkata: Aku menyaksikan Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar melaksanakan shalat dua hari raya sebelum khutbah.” (HR an-Nasai)

Syekh Zakariya al-Anshari (wafat 926 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa pelaksanaan khutbah ‘Id sama halnya dengan khutbah Jumat, baik dari segi rukun maupun kesunahannya.

Adapun rukun khutbah yang dimaksud yaitu: memuji Allah, membaca shalawat, menyampaikan wasiat tentang ketakwaan, membaca ayat Alquran pada salah satu khutbah, serta mendoakan kaum muslimin pada khutbah kedua:

صَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ وَلَوْ لِمُنْفَرِدٍ وَمُسَافِرٍ... وَسُنَّ خُطْبَتَانِ بَعْدَهُمَا لِجَمَاعَةٍ كَجُمُعَةٍ فِي أَرْكَانٍ وَسُنَنٍ، وَيَفْتَتِحُ الْأُولَى بِتِسْعِ تَكْبِيرَاتٍ، وَالثَّانِيَةَ بِسَبْعٍ وِلَاءً

“Shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) hukumnya sunnah, meskipun dilakukan secara sendirian atau oleh musafir. Dan disunnahkan melaksanakan dua khutbah setelahnya bagi jamaah, laiknya khutbah Jumat dalam hal rukun dan kesunnahannya. Khutbah pertama dibuka dengan sembilan kali takbir, sementara khutbah kedua dengan tujuh kali takbir secara berturut-turut.” (Fath al-Wahab bi Syarh Minhaj at-Thullab [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 97)

Penjelasan ini lalu dipertegas oleh Syekh Mustafa al-Khin (wafat 1429 H) dalam kitabnya, yang menekankan bahwa tiga rukun pertama wajib ada pada kedua khutbah, sedangkan membaca ayat Alquran cukup pada salah satu khutbah, serta doa untuk kaum muslimin dikhususkan pada khutbah kedua:

ثُمَّ إِنَّ لِلْخُطْبَتَيْنِ أَرْكَانًا هِيَ: الْأَوَّلُ: حَمْدُ اللَّهِ تَعَالَى، بِأَيِّ صِيغَةٍ كَانَ. الثَّانِي: الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِأَيِّ صِيغَةٍ مِنَ الصَّلَوَاتِ، بِشَرْطِ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَهُ الصَّرِيحَ كَالنَّبِيِّ أَوِ الرَّسُولِ أَوْ مُحَمَّدٍ، فَلَا يَكْفِي ذِكْرُ الضَّمِيرِ بَدَلًا مِنَ الِاسْمِ الصَّرِيحِ. الثَّالِثُ: الْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى، بِأَيِّ الْأَلْفَاظِ وَالْأَسَالِيبِ كَانَتْ. فَهٰذِهِ الْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ أَرْكَانٌ لِكِلْتَا الْخُطْبَتَيْنِ، لَا يَصِحُّ كُلٌّ مِنْهُمَا إِلَّا بِهَا. الرَّابِعُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ فِي إِحْدَى الْخُطْبَتَيْنِ، وَيُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ الْآيَةُ مُفْهِمَةً وَوَاضِحَةَ الْمَعْنَى، فَلَا يَكْفِي قِرَاءَةُ آيَةٍ مِنَ الْحُرُوفِ الْمُقَطَّعَةِ أَوَائِلِ السُّوَرِ. الْخَامِسُ: الدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ، بِمَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ الدُّعَاءِ عُرْفًا

“Kemudian, sesungguhnya untuk dua khutbah (‘Id) terdapat rukun-rukun sebagai berikut: Pertama: memuji Allah Ta’ala dengan bentuk apa pun. Kedua: bershalawat kepada Nabi SAW dengan bentuk shalawat apa pun, dengan syarat menyebut nama beliau secara jelas, seperti Nabi, Rasul, atau Muhammad. Tidak cukup hanya menggunakan kata ganti tanpa menyebut namanya secara jelas. Ketiga: berwasiat untuk takwa, dengan lafaz dan cara apa pun. Tiga rukun ini merupakan rukun bagi kedua khutbah, dan masing-masing khutbah tidak sah kecuali dengan ketiganya. Keempat: membaca satu ayat dari Alquran pada salah satu khutbah, dengan syarat ayat tersebut dapat dipahami dan jelas maknanya. Tidak cukup membaca ayat yang berupa huruf-huruf terpotong di awal surah. Kelima: berdoa untuk kaum mukminin pada khutbah kedua, dengan doa yang secara umum dianggap sebagai doa.” (Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Mazhab al-Imam asy-Syafi’i [Damaskus: Dar al-Qalam], vol. 1, h. 206)

Sebagaimana khutbah Jumat, khutbah Idul Fitri dilaksanakan sebanyak dua kali, dipisahkan dengan duduk sejenak di antara keduanya.

Baca juga: Panduan Lengkap Shalat Idul Fitri

Berikut panduan praktis yang dapat dijadikan acuan bagi khatib:

Khutbah Idul Fitri Pertama

Khatib berdiri menghadap jamaah, kemudian membuka khutbah dengan salam. Setelah itu, rangkaian khutbah dilaksanakan sebagai berikut:

1. Membaca takbir (Allāhu Akbar) sebanyak 9 kali.
2. Memuji Allah SWT, dengan membaca tahmid/hamdalah (Alhamdulillāh…)
3. Membaca shalawat kepada nabi (Allahumma shalli ‘alā sayyidinā Muhammad…)
4. Membaca wasiyyat bit takwa (Ushīkum wa iyyāya bi taqwallāh…)
5. Menyampaikan nasihat perihal ketakwaan (sejenak) misalnya misalnya tentang pentingnya zakat fitrah atau nilai-nilai Ramadhan.
6. Membaca salah satu ayat dari Alquran.
7. Selanjutnya, khatib menyampaikan isi khutbahnya dengan mengingatkan jamaah agar menaati perintah Allah SWT, menjauhi segala larangan-Nya, serta memberikan penjelasan lain sesuai tema khutbah yang disampaikan.
8. Setelah dirasa cukup, khatib dapat menutup khutbah pertama dengan doa penutup singkat (bārakallāhu lī wa lakum, wa nafa’anī wa iyyākum…)
9. Khutbah pertama diakhiri dengan duduk sejenak sebelum beralih ke khutbah kedua.

Khutbah Idul Fitri Kedua

Setelah duduk sejenak, khatib kembali berdiri dan memulai khutbah kedua dengan urutan berikut:

1. Membaca takbir (Allāhu Akbar) sebanyak 7 kali.
2. Memuji Allah SWT, dengan membaca tahmid/hamdalah (Alhamdulillāh…)
3. Membaca shalawat kepada nabi (Allahumma shalli ‘alā sayyidinā Muhammad…)
4. Menyampaikan kembali wasiat takwa (Ushīkum wa iyyāya bi takwallāh…)
5. Membaca salah satu ayat Alquran (jika belum dibaca pada khutbah pertama)
6. Membaca doa ampunan untuk kaum muslimin, yang kemudian diaminkan oleh jemaah shalat Idul Fitri (Allāhummaghfir lil muslimīna wal muslimāt…)
7. Membaca doa kebaikan dunia dan akhirat (Rabbanā ātinā fid duniyā hasanah…)
8. Menutup khutbah kedua (‘Ibādallāh, innallāha ya’murukum bil ‘adli wal ihsān…)
9. Mengakhiri khutbah dengan ucapan salam.

Khutbah Idul Fitri bukan sekadar rangkaian formal setelah shalat Id, lebih dari itu justru memiliki peranan penting sebagai sarana dakwah dan penguatan nilai-nilai keislaman.

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Tetap Istiqamah dalam Kebaikan Meski Ramadhan Telah Usai

Karenanya, seorang khatib perlu memperhatikan rukun, susunan, serta materi khutbah agar dapat disampaikan dengan baik dan menyentuh hati jamaah.

Demikianlah panduan khutbah Idul Fitri bagi khatib yang lengkap dan praktis sesuai tuntunan syariat. Semoga dapat memberikan manfaat yang luas bagi umat Islam dalam menyambut hari kemenangan. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.