Panduan Shalat Jamak Qashar bagi Pemudik, Lengkap dengan Niat dan Artinya
A Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Menjelang akhir bulan Ramadhan, masyarakat muslim di Indonesia biasanya mulai bersiap melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman atau yang dikenal dengan istilah mudik.
Tradisi ini menjadi momen penting bagi banyak orang untuk berkumpul kembali dengan keluarga besar, terutama orang tua, dalam rangka merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Perjalanan mudik sering kali ditempuh dengan jarak yang cukup jauh dan memerlukan waktu yang tidak singkat.
Dalam kondisi seperti ini, Islam memberikan keringanan (rukhsah) bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh, termasuk dalam pelaksanaan shalat. Allah SWT berfirman:
وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ
Artinya: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak dosa bagimu untuk mengqashar shalat.” (QS An-Nisa: 101)
Ayat di atas menjadi dasar dibolehkannya seorang musafir untuk meringkas (qashar) shalat fardhu yang biasanya berjumlah empat rakaat menjadi dua rakaat.
Baca juga:Jangan Abaikan Shalat meski Terjebak Macet saat Perjalanan Mudik, Begini 2 Alternatifnya
Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa keringanan qashar hanya berlaku pada shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya. Sementara itu, shalat Subuh dan Maghrib tidak dapat diqashar:
فَيَجُوزُ الْقَصْرُ فِي السَّفَرِ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَا يَجُوزُ فِي الصُّبْحِ وَالْمَغْرِبِ وَلَا فِي الْحَضَرِ وَهَذَا كُلُّهُ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ وَإِذَا قَصَرَ الرُّبَاعِيَّاتِ رَدَّهُنَّ إلَى رَكْعَتَيْنِ
“Boleh melakukan qashar shalat ketika dalam perjalanan pada shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya, namun tidak boleh pada shalat Subuh dan Magrib, serta tidak boleh dilakukan ketika berada di tempat tinggal (tidak sedang safar). Semua ketentuan ini telah disepakati oleh para ulama. Apabila seseorang mengqashar shalat yang asalnya empat rakaat, maka ia mengembalikannya menjadi dua rakaat.” (Al-Majmu’ Ala Syarh al-Muhadzab [Kairo: al-Muniriyah], vol. 4, h. 322)
Lebih lanjut, terkait hal itu, Syekh Dr Wahbah az-Zuhaili (wafat 1436 H) dalam ensiklopedi fiqihnya menjelaskan bahwa hikmah dibolehkannya mengqashar shalat adalah untuk menghilangkan kesulitan dan keterbatasan yang biasanya dialami oleh musafir, sekaligus memberikan kemudahan dalam menunaikan hak-hak Allah.
Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang yang lalai atau meremehkan kewajiban untuk meninggalkan shalat:
الْحِكْمَةُ مِنَ الْقَصْرِ: هِيَ دَفْعُ الْمَشَقَّةِ وَالْحَرَجِ الَّذِي قَدْ يَتَعَرَّضُ لَهُ الْمُسَافِرُ غَالِبًا، وَالتَّيْسِيرُ عَلَيْهِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى، وَالتَّرْغِيبُ فِي أَدَاءِ الْفَرَائِضِ، وَعَدَمُ التَّنْفِيرِ مِنَ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبِ، فَلَا يَبْقَى لِمُقَصِّرٍ أَوْ مُهْمِلٍ حُجَّةٌ أَوْ ذَرِيعَةٌ فِي تَرْكِ فَرْضِ الصَّلَاةِ
“Hikmah dari qashar shalat adalah untuk menghilangkan kesulitan dan kesempitan yang biasanya dialami oleh musafir, serta memberi kemudahan baginya dalam menunaikan hak-hak Allah Ta’ala. Hal ini juga bertujuan mendorong pelaksanaan kewajiban, dan agar orang tidak merasa enggan dalam menunaikan kewajiban tersebut. Dengan demikian, tidak tersisa alasan atau dalih bagi orang yang lalai atau meremehkan untuk meninggalkan kewajiban shalat.” (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu [Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir], vol. 2, h. 1341)
Syarat Shalat Qashar
Agar pelaksanaan shalat qashar dapat dilaksanakan dengan sah, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syekh Abu Syuja al-Asfihani (wafat 593 H) dalam kitabnya menjelaskan di antaranya: shalat yang boleh diqashar adalah shalat yang berjumlah empat rakaat, yaitu Dzuhur, Ashar, dan Isya.
Adapun perjalanan yang dilakukan harus memiliki tujuan yang jelas serta termasuk perkara yang mubah, bukan untuk maksiat. Jarak perjalanan juga mencapai sekitar dua marhalah (80,64 km atau 88,704 km).
Baca juga:Mengungkap Hikmah dan Sejarah Shalat Tarawih
Selain itu, seseorang harus telah melewati batas daerah tempat tinggalnya, mengetahui bahwa qashar diperbolehkan dalam syariat, dan statusnya sebagai musafir masih berlangsung hingga shalat selesai.
Dalam praktiknya, niat qashar dilakukan sejak takbiratul ihram, tidak memiliki niat menetap selama pelaksanaan shalat, serta tidak bermakmum kepada imam yang melaksanakan shalat secara sempurna (empat rakaat):
وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ بِخَمْسَةِ شُرُوطٍ: أَنْ يَكُونَ سَفَرُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ، وَأَنْ تَكُونَ مَسَافَتُهُ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا بِلَا إِيَابٍ، وَأَنْ يَكُونَ مُؤَدِّيًا لِلصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ، وَأَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ مَعَ الْإِحْرَامِ، وَأَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيمٍ
“Seorang musafir boleh mengqashar shalat yang empat rakaat dengan lima syarat: Perjalanannya bukan untuk tujuan maksiat. Jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh tanpa menghitung perjalanan pulang. Ia sedang menunaikan shalat yang asalnya empat rakaat. Berniat qashar bersamaan dengan takbiratul ihram. Tidak bermakmum kepada orang yang bermukim (tidak sedang bepergian).” (Matan al-Ghayah wa at-Taqrib [Beirut: Alim al-Kutub], vol. 1, h. 11)
Niat Shalat Qashar
Niat qashar dilakukan sejak takbiratul ihram, adapun niatnya ialah sebagai berikut:
أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ مَقْصُوْرَةً للهِ تَعَالَى
Ushalli fardha dzuhri maqshurotan lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya niat shalat fardhu Dzhuhur dengan qashar karena Allah Ta’ala.”
Atau bisa dengan redaksi berikut:
أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالَى
Ushalli fardha dzuhri rak’ataini lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya niat shalat ddzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Contoh niat lengkapnya:
أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَصْرًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli fardha dzuhri rak’ataini mustaqbilal qiblati qasran lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya shalat Dzuhur dua rakaat menghadap kiblat dengan cara qashar karena Allah Ta’ala.”
Untuk shalat lainnya, lafal niat tinggal menyesuaikan misalnya mengganti kata Dzuhri dengan ‘Ashri atau Isya’i (untuk shalat Ashar dan Isya).
Pengertian Shalat Jamak, Niat beserta Artinya
Shalat jamak adalah menggabungkan dua shalat fardhu dalam satu waktu. Adapun shalat yang dapat dijamak adalah Dzuhur dengan Ashar, serta Maghrib dengan Isya.
Apabila kedua shalat tersebut dilaksanakan pada waktu shalat pertama, maka disebut jamak taqdim. Adapun jika dilakukan pada waktu shalat kedua, maka disebut jamak ta’khir. Terkait hal ini, Syekh Abu Syuja al-Asfihani dalam kitabnya menegaskan:
وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ، وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ
“Seorang musafir boleh menjamak shalat Dzuhur dan Ashar pada waktu salah satu dari keduanya yang ia kehendaki, dan juga menjamak magrib dan isya pada waktu salah satu dari keduanya yang ia kehendaki.” (Matan al-Ghayah wa at-Taqrib [Beirut: Alim al-Kutub], vol. 1, h. 11)
Niat Jamak Taqdim Dzuhur dan Ashar
Niat shalat Dzuhur
أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli fardha dzuhri arba’a rakaatin majmu’an bil ashri jam’a taqdimin lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya shalat fardhu Dzuhur empat rakaat dijamak dengan shalat Ashar secara jamak taqdim karena Allah Ta’ala."
Niat shalat Ashar
أُصَلِّيْ فَرْضَ العَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالْظُّهْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli fardhal ashri arba’a rakaatin majmu’an bi dzuhri jam’a taqdimin lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya shalat fardhu Ashar empat rakaat dijamak bersama Dzuhur secara jamak taqdim karena Allah Ta’ala.”
Jika kedua shalat tersebut dilakukan pada waktu Ashar, maka lafaz jam‘a taqdimin diganti dengan jam‘a ta’khirin.
Niat Jamak Ta’khir Maghrib dan Isya
Niat shalat Maghrib
أُصَلِّيْ فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالْعِشَاءِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli fardhal Maghribi tshalatsa raka’atin majmu’an bil ‘isyai jam’a ta’khirin lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya shalat fardhu Maghrib tiga rakaat dijamak bersama Isya secara jamak ta’khir karena Allah Ta’ala.”
Niat shalat Isya
أُصَلِّيْ فَرْضَ العِشَاءِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالْمَغْرِبِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli fardhal Isyai arba’a rakaatin majmu’an bil maghribi jam’a ta’khirin lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya shalat fardhu isya empat rakaat dijamak bersama maghrib secara jamak ta’khir karena Allah Ta’ala.”
Sementara itu, jika shalat Maghrib dan Isya dilaksanakan pada waktu Maghrib, maka pelaksanaannya termasuk jamak taqdim dengan menyesuaikan lafaz niatnya, yaitu lafaz jam‘a ta’khirin diganti dengan jam‘a taqdimin.
Niat Jamak sekaligus Qashar
Seorang musafir juga diperbolehkan menggabungkan dua keringanan sekaligus, yaitu menjamak dan mengqashar shalat dalam satu waktu.
Namun, ketentuan ini hanya berlaku untuk shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya. Berikut contoh niat jamak taqdim sekaligus qashar untuk shalat Dzuhur dan Ashar:
أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْراً مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli fardha dzuhri rak’ataini qashran majmū’an bil ‘ashri jam’a taqdīmin lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya shalat fardhu dzuhur dua rakaat secara qashar dijamak taqdim dengan Ashar karena Allah Ta’ala.”
Adapun jika kedua shalat tersebut dilakukan pada waktu Ashar, maka lafaz jam‘a taqdimin diganti dengan jam‘a ta’khirin.
Baca juga:Sebaiknya Shalat Witir Bersama Imam Tarawih atau Setelah Shalat Tahajjud?
Dengan memahami panduan praktis shalat jamak qashar tersebut, para pemudik tetap dapat menunaikan kewajiban shalat dengan baik sesuai ketentuan syariat meskipun sedang dalam perjalanan jauh.
Hal ini menunjukkan bahwa syariat Islam memberikan kemudahan agar ibadah tetap dapat dilaksanakan tanpa memberatkan pemeluknya. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.