Mendirikan Shalat Sunnah saat Khutbah Jumat Berlangsung, Bolehkah?
A Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Shalat Jumat merupakan ibadah wajib bagi setiap laki-laki muslim yang mukallaf (telah dibebani hukum syariat) serta memenuhi syarat. Pelaksanaannya tidak hanya terdiri dari shalat dua rakaat, tetapi juga didahului oleh dua khutbah yang menjadi bagian penting dari rangkaian ibadah Jumat. Karena itu, khutbah Jumat bukan sekadar pengantar, melainkan salah satu syarat sah dalam pelaksanaan shalat Jumat.
Agar shalat Jumat dinilai sah, seluruh
rukun dan ketentuannya harus terpenuhi. Di antaranya, khutbah harus disampaikan
dan jamaah diperintahkan untuk menyimak serta mendengarkannya.
Dari sini, lalu muncul pertanyaan yang
kerap terjadi di tengah masyarakat terkait prosesi shalat Jumat tersebut. Jika seseorang
datang ke masjid ketika khatib sudah naik mimbar, bolehkah ia tetap mengerjakan
shalat sunnah saat khutbah Jumat sedang berlangsung?
Dalam sejumlah literatur fiqih dijelaskan bahwa ketika khatib telah duduk di mimbar dan khutbah sudah berjalan, jamaah yang sudah hadir di masjid tidak diperkenankan memulai shalat lain baik fardhu maupun shalat sunnah.
Baca juga: Shalat Tahiyyatul Masjid Disunnahkan, Kecuali dalam Keadaan Ini
Syekh Ahmad bin Salamah al-Qalyubi (wafat
1069 H) dalam anotasinya menjelaskan bahwa setelah khatib duduk di mimbar, maka
baik shalat fardhu atau sunnah, sujud tilawah maupun sujud syukur tidak boleh
dilakukan. Apabila hal itu tetap dikerjakan, maka dihukumi tidak sah selama
khutbah masih berlangsung.
(فَرْعٌ): تَحْرُمُ
الصَّلَاةُ إجْمَاعًا فَرْضًا وَنَفْلًا، وَكَذَا سَجْدَةُ التِّلَاوَةِ
وَالشُّكْرِ بَعْدَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ. وَلَا تَنْعَقِدُ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ
الْخُطْبَةَ مَا دَامَ يَخْطُبُ وَلَوْ حَالَ الدُّعَاءِ لِلسُّلْطَانِ. نَعَمْ
تَصِحُّ التَّحِيَّةُ لِلدَّاخِلِ قَبْلَ جُلُوسِهِ وَلَوْ فِي ضِمْنِ غَيْرِهَا
كَسُنَّةِ الْجُمُعَةِ، وَيَجِبُ تَخْفِيفُهَا كَصَلَاةِ الْخَطِيبِ فِي
أَثْنَائِهَا بِأَنْ لَا يَسْتَوْفِيَ الْأَكْمَلَ وَلَا يَزِيدَ عَلَى
رَكْعَتَيْنِ فِيهَا ابْتِدَاءً
“Cabang permasalahan: Shalat, baik
fardhu maupun sunnah, haram dilakukan menurut konsensus ulama setelah khatib
duduk di mimbar. Demikian pula, sujud tilawah dan sujud syukur. Shalat tersebut
tidak sah, meskipun orang itu tidak mendengar khutbah selama khatib masih
berkhutbah sekalipun saat mendoakan penguasa. Namun, shalat tahiyatul masjid
bagi orang yang baru masuk masjid tetap sah sebelum khatib duduk kendati
dilakukan dalam rangkaian shalat lain, seperti sunnah Jumat. Maka ia wajib
mempercepat pelaksanaannya, sebagaimana shalat khatib ketika berada di
sela-sela khutbah yaitu dengan tidak menyempurnakan bentuk yang paling sempurna
dan tidak menambah lebih dari dua rakaat sejak awal.” (Hasyiyah al-Qalyubi wa ‘Umairah [Beirut: Dar al-Fikr], vol.
1, h. 324)
Ketentuan ini menunjukkan pentingnya
mendengarkan khutbah Jumat dan menjaga kekhusyukan rangkaian ibadah Jumat.
Sebab, pada saat itu perhatian jamaah diarahkan untuk menyimak nasihat, dzikir,
dan pengajaran yang disampaikan khatib.
Larangan ini terutama berlaku bagi orang
yang sudah berada di dalam masjid dan telah duduk sebelum khutbah dilaksanakan.
Jika seseorang sudah duduk, maka ia tidak lagi disunnahkan melaksanakan shalat Tahiyyatul
Masjid. Maka, ketika khatib naik ke mimbar, ia tidak diperkenankan memulai
shalat apa pun hingga rangkaian shalat Jumat selesai.
Artinya, bagi jamaah yang sudah hadir lebih awal, sikap yang tepat adalah diam, tenang, dan fokus mendengarkan khutbah.
Baca juga: Bolehkah Mengerjakan Shalat Sunnah Sambil Duduk?
Sementara itu, orang yang baru datang
tatkala khatib menyampaikan khutbah, para ulama memberikan pengecualian. Ia
tetap dianjurkan melaksanakan shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat secara
ringkas. Maksudnya, cukup memenuhi rukun-rukun shalat tanpa memperpanjang
bacaan maupun gerakan. Usai salam, ia segera duduk dan mendengarkan khutbah.
Syekh Nawawi al-Bantani (wafat 1316 H)
menjelaskan bahwa orang yang masuk masjid pada saat khutbah boleh menunaikan
shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat dengan cepat.
Jika ia belum melaksanakan shalat sunnah
Jumat, maka dua rakaat tersebut dapat diniatkan sebagai shalat sunnah Jumat
sekaligus mencakup tahiyatul masjid. Namun, ia tidak diperkenankan menambah
lebih dari dua rakaat dan tidak boleh mengerjakan shalat lain selain itu. Syekh
Nawawi mengungkapkan:
وَيَحْرُمُ عَلَى الْحَاضِرِينَ بِالْجَامِعِ
إِنْشَاءُ صَلَاةٍ سَوَاءٌ كَانَتْ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا، وَلَوْ كَانَ قَضَاؤُهَا
فَوْرِيًّا مِنْ وَقْتِ صُعُودِ الْخَطِيبِ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَلَوْ قَبْلَ
الشُّرُوعِ فِي الْخُطْبَةِ إِلَى فَرَاغِهَا، فَلَوْ فَعَلَهَا لَمْ تَنْعَقِدْ
وَلَوْ فِي حَالِ الدُّعَاءِ لِلسُّلْطَانِ أَوِ التَّرَضِّي عَنِ الصَّحَابَةِ.
وَلَوْ كَانَ أَتَى بِجَمِيعِ الْأَرْكَانِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ
“Haram bagi orang-orang yang hadir di
masjid jami’ memulai shalat, baik shalat fardhu maupun sunnah sejak khatib naik
ke mimbar meskipun sebelum mulai khutbah hingga khutbah selesai. Bahkan,
sekalipun shalat itu merupakan qadha yang harus segera ditunaikan. Bila tetap
dikerjakan, maka shalat tersebut tidak sah walau dilakukan ketika khatib sedang
mendoakan penguasa atau mendoakan para sahabat menurut pendapat mu’tamad, meski
seluruh rukun shalat telah dilaksanakan.” (Nihayah
az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 145)
Lalu dalam lanjutan keterangannya, Syekh
Nawawi menegaskan sebagai berikut:
وَأَمَّا مَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فِي هَذَا
الْوَقْتِ، فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ تَحِيَّةَ
الْمَسْجِدِ ثُمَّ يَجْلِسَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ صَلَّى سُنَّةَ الْجُمُعَةِ
نَوَاهَا رَكْعَتَيْنِ وَحَصَلَ بِهِمَا تَحِيَّةُ الْمَسْجِدِ، وَلَا تَجُوزُ
الزِّيَادَةُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَلَا يَجُوزُ لَهُ غَيْرُ تَحِيَّةِ
الْمَسْجِدِ وَسُنَّةِ الْجُمُعَةِ مِنْ فَرْضٍ وَنَفْلٍ. وَلَوْ جَلَسَ قَبْلَ
التَّحِيَّةِ عَمْدًا أَوْ طَالَ الْفَصْلُ فَاتَتْ فَلَا تَصِحُّ مِنْهُ بَعْدَ
ذَلِكَ
“Adapun orang yang masuk masjid pada waktu itu, maka ia boleh mengerjakan dua rakaat dengan cepat sebagai shalat Tahiyyatul Masjid, kemudian duduk. Jika ia belum melaksanakan shalat sunnah Jumat, maka boleh meniatkan dua rakaat itu sebagai sunnah Jumat, dan dengan itu shalat Tahiyyatul Masjid juga telah tercapai. Tidak diperkenankan untuk menambah lebih dari dua rakaat. Selain Tahiyyatul Masjid dan sunnah Jumat, juga tidak diperbolehkan baginya mendirikan shalat lain, baik fardhu maupun sunnah. Apabila ia sengaja duduk sebelum mengerjakan Tahiyyatul Masjid, atau jedanya terlalu lama, maka kesempatan shalat Tahiyyatul Masjid telah lewat, sehingga setelah itu tidak sah lagi dikerjakan.” (Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 145)
Baca juga: Shalat Sunnah Tapi Masih Punya Utang Shalat Wajib, Apa Hukumnya?
Dari uraian di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwasanya hukum mendirikan shalat sunnah selagi khutbah Jumat
tengah berlangsung pada dasarnya tidak diperbolehkan bagi jamaah yang sudah
hadir dan duduk di masjid. Mereka wajib menghentikan aktivitas lain dan fokus
mendengarkan khutbah dengan saksama.
Akan tetapi, bagi orang yang baru datang tatkala khutbah sudah dimulai, maka ia tetap dianjurkan mengerjakan shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat secara cepat lalu segera duduk. Dan selain dua rakaat ini, orang tersebut tidak diperkenankan untuk melakukannya, hingga pelaksanaan khutbah dan shalat Jumat selesai. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.