PeacePro: Lebih dari 80 Persen Operasi Terkait ISIS Kini Terkonsentrasi di Afrika Barat dan Sahel
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital– Yayasan Foundation for Peace Professionals (PeacePro) memperkirakan bahwa lebih dari 80 persen operasi yang terkait dengan ISIS dan kelompok afiliasinya saat ini terkonsentrasi di kawasan Afrika Barat dan Sahel.
Menurut organisasi tersebut, tren ini menunjukkan adanya pergeseran pusat aktivitas kelompok yang berafiliasi dengan ISIS dari Timur Tengah menuju kawasan Afrika dalam beberapa tahun terakhir.
Dikutip MUI Digital dari media Nigeria, Punch, Ahad (31/5/2026), peringatan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi keamanan di sejumlah wilayah Nigeria, termasuk setelah serangan terbaru yang terjadi di komunitas Yashikira, Distrik Baruten, Negara Bagian Kwara.
Direktur Eksekutif PeacePro, Abdulrazaq Hamzat, mengatakan estimasi tersebut didasarkan pada analisis data insiden global yang bersumber dari laporan keamanan regional, sumber intelijen terbuka, dan pemantauan aktivitas kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di berbagai wilayah konflik.
“Analisis tersebut mencakup operasi yang terkait dengan ISIS di Timur Tengah, Afrika Tengah, dan kawasan Sahel, serta menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam konsentrasi geografis aktivitas ekstremis,” ujarnya.
Menurut Hamzat, analisis itu mempertimbangkan frekuensi, skala, dan pola serangan yang dikaitkan dengan ISIS dan kelompok afiliasinya dalam beberapa bulan terakhir.
Baca juga: Israel Lakukan Perluasan Jajahan Wilayah Gaza Menuju 70 Persen, Apa Risikonya?
PeacePro mencatat adanya penurunan aktivitas operasional kelompok ekstremis di wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis utama ISIS, seperti Irak dan Suriah.
Sebaliknya, serangan yang terkait dengan kelompok afiliasi ISIS di Afrika Barat dan kawasan Sahel terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut organisasi tersebut, kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Afrika Barat dan Sahel kini menyumbang porsi terbesar dari serangan yang dikaitkan dengan jaringan tersebut, termasuk korban jiwa, upaya penguasaan wilayah, serta operasi terkoordinasi lainnya.
PeacePro juga menilai tren tersebut turut menjelaskan meningkatnya peran sejumlah militan asal Nigeria dalam struktur kelompok yang berafiliasi dengan ISIS.
“Skala, koordinasi, dan keberlanjutan serangan di Nigeria serta negara-negara tetangga menunjukkan ekspansi berbahaya jaringan ekstremis yang didukung strategi adaptif, rekrutmen lokal, dan kemungkinan adanya dukungan eksternal,” demikian bunyi laporan tersebut.
Baca juga: Pengakuan Eks Tentara Israel Bongkar Perilaku Keji Mereka di Gaza
PeacePro memperingatkan bahwa meningkatnya konsentrasi operasi yang terkait dengan ISIS dan kelompok afiliasinya di Afrika Barat serta Sahel mencerminkan perubahan signifikan dalam dinamika ancaman ekstremisme di kawasan tersebut dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah maupun komunitas internasional.
Organisasi itu mendesak Pemerintah Nigeria untuk memimpin upaya membangun respons internasional yang lebih terkoordinasi terhadap ancaman yang terus berkembang.
Selain itu, Nigeria juga diminta memperkuat mekanisme pertukaran intelijen, memperdalam kerja sama dengan mitra internasional, serta mendorong operasi bersama melawan kelompok ekstremis yang beroperasi lintas negara.
PeacePro merekomendasikan peningkatan kerja sama keamanan multilateral, pemanfaatan teknologi kontraterorisme yang lebih maju, serta langkah yang lebih agresif untuk memutus jaringan pendanaan dan logistik lintas negara yang menopang aktivitas kelompok teroris.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa kegagalan mengambil langkah tegas berpotensi memberi ruang bagi kelompok ekstremis untuk memperkuat pengaruh di komunitas rentan, memperluas wilayah operasi, dan menyebarkan ketidakstabilan ke kawasan yang lebih luas.
Meski demikian, PeacePro menegaskan bahwa seluruh upaya penanggulangan terorisme harus tetap berbasis intelijen, didukung bukti yang kuat, serta sejalan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia internasional.
Menurut laporan itu, Nigeria dan sejumlah negara di kawasan Sahel telah menghadapi peningkatan serangan kelompok ekstremis selama lebih dari satu dekade terakhir, terutama yang melibatkan kelompok afiliasi ISIS dan jaringan pemberontak lainnya.
Di Nigeria, aktivitas kelompok ekstremis bersenjata masih banyak terjadi di wilayah timur laut. Di kawasan ini, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS, termasuk Islamic State West Africa Province (ISWAP), serta kelompok bersenjata lainnya masih kerap melancarkan serangan terhadap warga sipil, aparat keamanan, dan infrastruktur publik.
Sementara itu, serangan yang terjadi di sejumlah komunitas di Baruten, Negara Bagian Kwara, kembali memicu tuntutan agar pemerintah memperkuat kehadiran aparat keamanan dan meningkatkan pengawasan di wilayah perbatasan yang dinilai rentan terhadap infiltrasi kelompok bersenjata.