Ratusan Dai Terstandardisasi MUI Bersilaturahim Sambut Ramadhan, Perkuat Dakwah Ekonomi Syariah
Junaidi
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID— Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar silaturahim yang dihadiri para dai standardisasi MUI.
Silaturahim tersebut digelar dalam rangka penguatan materi dakwah sekaligus menyambut bulan suci Ramadhan melalui kegiatan bertajuk Diseminasi Buku Materi Dakwah Ekonomi Syariah melalui Training of Trainer Da'i & Da'iyah Terstandardisasi MUI Wilayah Jabodetabek 2025 sebagai upaya memperkuat peran dakwah dalam pengembangan ekonomi syariah.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Cholil Nafis menyoroti urgensi kolaborasi antara MUI dan BI dalam mendorong implementasi ekonomi syariah yang lebih luas.
Dengan menegaskan peran strategis Bank Indonesia dalam kemitraan ini, Kiai Cholil menekankan perlunya kesinambungan kerja sama antara MUI dan BI untuk memperkuat ekonomi syariah di Indonesia.
"Bank Indonesia sebagai shahibul makan wal maakaan, alhamdulillah, kerja sama MUI (Komisi Dakwah) dengan BI ini perlu dilanjutkan dan direncanakan setahun ke depan," ujarnya kepada MUIDigital di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (18/2/2025).
Dalam nada yang lebih mendalam, Kiai Cholil menggarisbawahi bahwa kolaborasi ini tidak boleh sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan harus berkembang menjadi agenda strategis yang benar-benar membawa dampak nyata.
"Pesan kelembagaan MUI, mohon bisa dijaga kondusivitas di bulan Ramadan, lalu dakwahnya yang inspiratif untuk umat serta meningkatkan iman dan takwa," tambahnya.
Kiai Cholil juga menekankan pentingnya stabilitas sosial selama bulan Ramadan, menyoroti peran dai dalam menyampaikan pesan yang tidak hanya berorientasi pada aspek ibadah, tetapi juga membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai bukti nyata dari kerja sama ini, MUI dan BI telah berhasil menerbitkan Buku Materi Dakwah Ekonomi Syariah, sebuah langkah konkret dalam memperkuat literasi ekonomi berbasis syariah.
"Kita telah menyelesaikan buku Materi Dakwah Ekonomi Syariah, alhamdulillah," ungkapnya, menekankan capaian ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan pemahaman ekonomi syariah di kalangan umat.
Lebih jauh, Kiai Cholil mengkritisi masih adanya stigma terhadap MUI dalam industri halal, menegaskan perlunya reformasi dalam prosedur sertifikasi halal.
"Ekonomi syariah ini dan urusan halal, pelopor nya adalah MUI. Namun sampai sekarang, MUI masih dicap sebagai tukang stempel halal. Tapi, sekarang sudah ada BPJPH. Kita ingin memperbaiki prosedur dan mekanisme sertifikasi halal, termasuk industri halal," ujarnya, menyoroti tantangan yang masih dihadapi dalam industri ini.
Kiai Cholil menyampaikan pesan khusus kepada para dai agar terus menebarkan dakwah yang konstruktif dan edukatif serta terus menyerukan persatuan, menjaga dan mendorong pada penguatan dan peningkatan iman dan takwa, menyampaikan pentingnya kesederhaan dalam konsumsi dan kepekaan diri kepada kondisi masyarakat di bulan puasa, dan menyebarkan dan mendorong praktik ekonomi dan keuangan sesuai syariah.
Sementara itu, dalam perspektif yang lebih luas, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Imam Hartono menggarisbawahi peran strategis dai dalam mempercepat literasi ekonomi syariah di Indonesia.
"Sinergi dan dukungan dai/daiah sangat penting dalam akselerasi literasi ekonomi syariah," katanya, menyoroti bahwa keberhasilan penguatan ekonomi syariah tidak bisa dilepaskan dari peran para dai dalam menyebarkan pemahaman yang lebih luas.
Dalam pemaparannya, Hartono juga mengungkapkan posisi Indonesia dalam ekonomi dan keuangan syariah global, menyoroti pertumbuhan aset keuangan syariah yang semakin signifikan.
"Aset keuangan syariah di Indonesia terus meningkat, mencapai 12 persen. Di sektor keuangan sosial, Indonesia ada di peringkat pertama," jelasnya.
Lebih lanjut, Hartono mengungkapkan bahwa literasi ekonomi syariah di Indonesia terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
"Pada 2022, indeks literasi kita 23,30 persen. Pada 2024, indeks literasi syariah kita mencapai 42,84 persen," paparnya. (Miftah/Latifah, ed: Nashih)