Peserta Pesantren Kilat Ramadhan KPK MUI Dibekali Wawasan Kecerdasan Buatan
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital— Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan diibaratkan sebagai pisau yang bisa digunakan untuk kejahatan maupun kebaikan.
Hal ini disampaikan pegiat literasi digital, Irfana Steviano, dalam Pesantren Kilat Ramadhan di Yayasan Perguruan Institut Pengembangan Pendidikan Indonesia (YP IPPI) Jakarta Timur, Jumat (27/2/2026).
Kak Irfan, sapaan akrab Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) di Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikdasmen ini, mengungkapkan sejumlah manfaat dan yang harus diwaspadai terhadap AI.
Kak Irfan mengatakan, AI hanyalah teknologi yang bisa melaksanakan sesuatu karena adanya perintah. Menurutnya, kewaspadaan terhadap AI harus dikuatkan kepada pengguna AI.
"Karena AI itu sejatinya hanya sebagai alat teknologi. Kali ini masanya AI, tapi nanti masa depan mungkin ada teknologi baru yang lebih canggih. Jadi karena perubahan itu akan selalu terjadi, maka kita sebagai penggunanya harus diperkuat," kata Kak Irfan.
Menurutnya, penilaian terhadap AI harus dimulai dengan menguasai AI agar bisa menelusuri potensi dan bagaimana cara pemakaiannya, kemudiaan baru dapat menyimpulkan.
Hal ini penting untuk mendeteksi titik bahaya dan manfaat dari AI. "Jadi harus dipastikan dulu kita menguasainya, baru bisa memberikan rambu-rambu apa yang seharusnya dilakukan, bisa dilakukan, dan harusnya diwaspadai agar jangan dilakukan," sambungnya.
Di hadapan 4.500 orang orang siswa-siswa SMP, SMA/SMK YP IPPI tersebut, Kak Irfan mengingatkan penggunaan AI harus dengan adab dan etika.
Meski begitu, Alumni Instructional Technology / Computers & Education Ohio University, Amerika Serikat ini mengakui bahwa pengetahuan di AI tidak bersanad.
Melalui Pesantren Kilat Ramadhan yang digelar Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) MUI, Kak Irfan menegaskan bahwa AI bisa bermanfaat, khususnya dalam proses belajar.
"Sehingga pelajar dan guru ini bisa menggunakan AI dengan lebih tenang karena mereka sudah paham baik dan buruknya, seperti apa cara pemanfaatannya," tegas Kak Irfan yang juga Anggota KPK MUI ini.
Kak Irfan mencontohkan, pemanfaatan AI dalam belajar seperti bagaimana memperbaiki mobil listrik. Ketika bertanya kepada AI, langsung ditanggapi dengan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dengan memperbaiki mobil.
Menurutnya, sekarang ini sudah berada di era di mana kesuksesan atau tidaknya ada di tangan setiap orang. "Jangan sampai ada alasan tidak bisa karena tidak diajarkan oleh guru," kata dia.
Kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan MUI di YP IPPI ini digelar secara hybrid yang diikuti oleh 4500 orang siswa-siswa SMP, SMA/SMK. Sementara yang hadir secara offline sebanyak 300 orang.
Sementara itu, Ketua KPK MUI, Dr Kartini, menyatakan para siswa merupakan kader emas masa depan yang harus memiliki akhlak agar nantinya menjadi bangsa bermartabat.
Dalam Pesantren Kilat Ramadhan MUI yang mengangkat tema "Remaja Berakhlak, Bangsa Bermartabat" ini menjadi momentum penguatan iman dan ilmu bagi para siswa.
Kartini menegaskan, bangsa bermartabat adalah sebuah bangsa yang tidak hanya dibangun di atas tumpukan materi, melainkan di atas fondasi moralitas rakyat.
"Jika remajanya tangguh dan beradab, maka bangsa akan memiliki daya saing yang terhormat di kancah global," tegasnya. (Sadam, ed: Nashih)