Mantan Menlu Inggris Hague: Trump Lakukan Kesalahan Strategis Perangi Iran
Dhea Oktaviana
Penulis
Admin
Editor
LONDON— Sejumlah tokoh dunia memberikan respons terhadap perang yang dikomandoi Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran.
Respons keras salah satunya datang dari Mantan Menteri Luar Negeri Inggris William Hague.
Hague memperingatkan campur tangan Presiden AS Donald Trump dalam perang melawan Iran dapat berubah menjadi kesalahan strategis yang tak termaafkan.
Hague mengingatkan—dalam sebuah artikelnya di surat kabar The Times—bahwa beberapa hari terakhir ini terjadi serangan drone dari jarak ribuan kilometer, yang pertama terhadap pelabuhan Rusia dan kedua terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, menyebabkan kerugian besar di kedua lokasi tersebut.
Dalam kedua perang tersebut, menurut penulis, Trump berasumsi bahwa pihak yang lebih lemah dalam konflik tidak punya pilihan selain menerima kekalahan yang memalukan.
Padahal Ukraina tidak perlu mengalami hal itu jika mendapat dukungan yang cukup, dan rezim Iran tidak berniat menyerah. Akibatnya, ini merupakan kesalahan strategis dari Gedung Putih dalam skala yang mengejutkan.
Mantan menteri tersebut menjelaskan Trump telah melakukan kesalahan strategis besar karena terlibat dalam perang dengan Iran hanya untuk menunjukkan kekuatan, sementara Rusia memanfaatkan gejolak harga minyak, dan China semakin kuat di bidang strategis dan ekonomi.
Dan seiring berlanjutnya perang—seperti yang dilihat penulis—Trump menghadapi kesulitan dalam mempertahankan pijakan Amerika di Teluk, sementara ekonomi global menjadi semakin rapuh.
Hague menyoroti bahwa alternatif yang tersedia bagi Trump terbatas, dan pilihan terbaik tetaplah bernegosiasi untuk gencatan senjata menyeluruh dengan Iran, guna memastikan pembukaan Selat Hormuz dan menghindari eskalasi lebih lanjut.
Ini berpotensi memicu resesi global serta lonjakan harga minyak yang signifikan, di saat China memanfaatkan situasi tersebut untuk memperkuat pengaruh strategis dan ekonominya.
Namun, Trump justru menempatkan dirinya dalam posisi sulit, karena sejak awal sudah diketahui bahwa kemungkinan menggulingkan rezim Iran melalui serangan udara sangatlah rendah, dan peluang Teheran menerima rencana AS apa pun yang serupa dengan rencana 15 poin itu nyaris nol.
Sambil mencari jalan keluar, Trump terus berbicara tentang peluang kesepakatan, yang semakin mengurangi pengaruhnya terhadap pasar keuangan setiap kali, sementara dia mengancam dengan konsekuensi serius seperti merebut pelabuhan minyak Iran di Pulau Khark.